
Hantu buruk rupa sialan itu, menendang perut Kumal berkali-kali, sehingga pemuda itu berkali-kali pula memuntahkan darah. Kunang-kunang terbang mengitari mata Kumal, pening, kepala Kumal terasa berat. Namun, Padel tidak memberi ampun, ia kembali menendang perut Kumal, sehingga Kumal pun terhempas cukup jauh.
“Aku sudah berabad-abad menghuni dunia ini, dan kamu terlalu bocah untuk melawanku,” ejek hantu sialan itu, sembari tertawa cukup keras. Tawanya menggema di sepanjang bangunan ini.
Dan Kumal sungguh tidak berdaya, ia terlalu lemah, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu datangnya ajal. Sementara itu, Hantu Cantik yang melihat keterpurukan Kumal, hanya dapat menggigit jari. Ia tidak kuasa melihat Kumal tersiksa seperti itu. Ia ingin menolong Kumal. Namun, ia sendiri masih terjebak dalam kurungan.
“Ayolah pecundang, buatlah aku bersenang-senang sedikit,” ejek Padel lagi. Ia menghampiri Kumal lagi, mengangkat tubuhnya, dan membuat pemuda itu bangun. “Sungguh, wajahmu kini terlihat lebih buruk daripadaku. Semestinya, dari awal kutu sepertimu jangan lancang pada pangeran adidaya sepertiku, cuh!” Padel meludahi Kumal yang tidak berdaya.
Padel kembali memukul Kumal, sehingga tubuh Kumal pun terkapar dan tidak bisa bergerak lagi. Kumal juga mulai kehilangan kesadaran. Wajah bapak, wajah Chi, wajah Arin, wajah Bu Yunit, dan wajah Fana Ismi datang silih berganti. Barang kali sebentar lagi, Kumal akan pergi meninggalkan wajah-wajah itu.
Fana Ismi pun semakin cemas, ia tidak ingin Kumal mati, ia masih ingin hidup bersama Kumal. Ia takut, bila Kumal mati, pemuda itu tidak akan menjadi hantu, sehingga mereka pun tidak memiliki harapan lagi tuk bertemu kembali. “Kumal ....” pekik Hantu Cantik seketika. “Namamu G. Kumal Aksara dan kamu bukan pecundang!”
Teriakan itu pun sampai di cuping telinga Kumal yang nyaris kehilangan pendengaran. Kumal ingat, ia mengatakan kalimat itu tatkala baru berjumpa dengan Fana Ismi. Kumal bilang, ia bukanlah seorang pecundang. Bu Yunit juga mengatakan hal yang serupa. Bu Yunit bilang, Kumal bukanlah pecundang, ia hanya malu menampakkan keberaniannya. Begitu pula dengan bapak. Bapak bilang, sifat berani tuk melindungi perempuan, bukanlah tindakan seorang pecundang. Kumal pun sadar, sebenarnya ia memang bukan pecundang. Ya, ia bukan pecundang.
Teriakan Fana Ismi untuk menyemangati Kumal, membuka lembaran baru pada ingatan Kumal yang nyaris tenggelam ke rawa-rawa hujatan. Kumal menyadari suatu hal, bahwa ia memang bukanlah seorang pecundang. Ia kembali membuka mata lebar-lebar, menatap nyalang ke arah Padel, dan mencoba untuk bangkit.
__ADS_1
Padel yang melihat keajaiban itu, merasa dirinya dihina mentah-mentah. Ia berniat membuat Kumal tidak bangun-bangun selamanya. Ia menghampiri Kumal dan hendak melayangkan tendangan paling kencang. Akan tetapi, tendangan Padel pun berakhir di tangan Kumal.
“Jangan sombong dulu, wahai Hantu Tak Laku-Laku. Aku akan membuatmu mati dua kali,” ucap Kumal lantang dan menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Ia pun mendorong kaki Padel, sehingga hantu itu pun terjungkal ke belakang.
Kumal bangkit dan dapat berdiri dengan kukuh. Melihat itu, Fana Ismi pun menitikkan air mata gembira. “Kumal...” pekik Hantu Cantik lagi. “Lawan hantu sialan itu! Jangan kasih ampun, karena kamu bukan seorang pecundang. Buatlah hantu itu mati dua kali.”
“Berisik,” ucap Kumal dingin. Namun, meski begitu, ia merasa senang Fana Ismi telah menyemangatinya. Begitu pula dengan Hantu Cantik, ia bahagia bisa dapat melihat raut sok tegar itu.
Padel yang tadi terjungkal, juga kembali bangkit, ia tidak terima dihina seperti itu oleh bocah baru lahir seperti Kumal. “Kau pikir kau telah mengalahkanku, Ha!” tantang Padel sungguh berang. “Aku sudah mati, jadi aku tidak akan mati lagi.”
“Berisik! Aku tidak akan kalah oleh hantu yang tidak laku-laku sepertimu,” Kumal balik mengejek.
“Ha,” Padel tersenyum kecut. “Kau seribu tahun terlalu cepat untuk mengalahkanku!”
“Buktikan saja, jangan hanya bisa berceloteh!”
__ADS_1
Padel sangat kesal dengan ucapan-ucapan Kumal yang begitu sombong. Ia kembali melayang dan mendekat. Mereka pun kembali baku hantam. Sengit, pukulan Kumal maupun pukulan Padel sama-sama membawa kunang-kunang di mata masing-masing. Tubuh mereka, sama-sama nyaris rubuh.
Kemudian, Padel melayang cukup tinggi, dan ia menjatuhkan tendangan, tepat saat Kumal mendongak ke atas. Darah memuncrat dari hidung Kumal. Kumal terhuyung-huyung, ia pun tidak bisa menjaga keseimbang dan kemudian jatuh. “Sudah kubilang, kau seribu tahun terlalu cepat untuk mengalahkanku,” ejek Padel dengan senyum sinis. Ia melayang mendekati tubuh Kumal yang terkapar. Ia hendak mengakhiri hidup Kumal.
Padel menduduki tubuh Kumal yang kelelahan, ia hendak melayangkan satu pukulan terakhir. Namun, sebelumnya, Kumal telah meraih batu dari puing bagian bangunan yang runtuh. Saat Padel melayangkan pukulan, Kumal pun melayangkan batu itu ke pipi Padel. Batu itu mengenai pipi Padel persis seperti waktu itu, waktu di mana Padel hidup, dan waktu di mana Milanta juga melayangkan batu ke pipinya.
Ingatan itu membuat Padel sedih. Ia tidak kuasa menahan kepedihan itu, kepedihan saat ia mulai dapat menikah dengan Milanta, tetapi perempuan itu bersama perempuan-perempuan lain malah menghianati Padel. Mereka membakar raga Padel, seperti hendak membakar lembu bertanduk iblis. Ingatan dengan kenestapaan di atas rata-rata, membuat Padel tidak sadarkan diri. Ia pingsan di udara.
Kumal merasakan lega dada, lega hati, juga lega pikiran selepas melihat Padel pingsan. Ia kira, ia telah mengalahkan hantu buruk rupa itu dengan serangan terakhir. Namun sebenarnya, ia hanya mendapat keberuntungan saja.
Fana Ismi sangat bahagia, hantu buruk rupa itu kalah. Ia juga sangat senang, melihat Kumal masih hidup sampai sekarang. Ia setengah tidak percaya akan hal itu. Namun, begitulah kenyataannya.
Kumal menyeret Padel ke penjara dan mengeluarkan Hantu Cantik dari kurungan. Ia mematahkan kunci penjara itu, sehingga ketika Padel bangun, ia tidak bisa keluar dan tidak bisa lagi mengganggu hantu-hantu perempuan di luar sana.
Fana Ismi seketika memeluk tubuh Kumal yang penuh darah. Ia memeluk begitu erat, seakan tidak ingin melepaskannya. “Maafkan aku, Mal. Maafkan aku. Maafkan aku yang telah membuatmu marah. Maafkan aku yang ceroboh ini. Maafkan aku karena telah meninggalkanmu. Kumohon, Mal, maafkan aku. Bawalah aku pulang lagi bersamamu, Mal. Aku ingin selalu bersamamu, Mal. Aku ingin selalu ada di dekatmu.”
__ADS_1
Kumal pun mengangguk sembari diam-diam tersenyum karena bahagia. `