
Jarak kontrakan dengan rumah Bu Yunit tidak terlalu jauh, hanya terhalang oleh dua rumah. Namun, hubungan Arin dengan Kumal merenggang, bagai terdapat jurang lebar tanpa jembatan. Mereka tidak saling menyapa meski berpapasan, mereka tidak tertawa dan menangis bersama seperti masa kanak-kanak dulu. Mereka sama-sama tidak memiliki kekuatan untuk membangun jembatan penyambung di antara jurang lebar itu.
Sehabis menyelesaikan kuliah di luar kota dan menjadi sarjana, Kumal kembali ke pemakaman umum itu. Puing-puing kenangan masih berserakan di sana. Uang hasil menulis ia gunakan untuk menyewa rumah kontrakan kepada Bu Yunit, tentu hal itu ia lakukan agar ia dapat kembali melihat senyuman Arin.
Namun nihil, sampai sekarang pun ia tidak memiliki keberanian untuk bertatap muka secara langsung atau sekadar menyapa Arin. Arin tumbuh menjadi perempuan dewasa yang sangat cantik. Ia adalah kembang desa yang diperebutkan banyak lelaki. Kumal tidak memiliki daya untuk mendekati Arin meski sejengkal. Ia terlalu takut, bila Arin tidak lagi mengenalinya, dan hal itu menambah sakit di hati. Ia hanya penyair miskin yang tidak ada apa-apa di hadapan semerbak bunga yang mekar.
Begitu pula dengan Arin, sedari Kumal kembali menginjakkan kaki di desa ini lagi dan mengontrak rumah pada ibunya, ia hanya dapat menunggu dan menunggu Kumal untuk menyebut namanya lagi. Namun, hal itu tidak kunjung datang dan mungkin tidak akan pernah datang.
Ia ingin menyapa Kumal terlebih dahulu, tapi sebagai perempuan rasa malu selalu menghantui. Apalagi, derajat Arin telah jauh berbeda dengan Kumal. Ia hanya lulusan SMA yang kemudian menjadi perempuan desa pada umumnya. Sementara Kumal, adalah seorang sarjana yang konon sekarang telah menjadi penyair dan dipuja-puja oleh banyak perempuan.
Oh, sungguh lugu mereka berdua, keduanya saling menunggu, tidak tahu arah untuk pulang dan tidak tahu cara untuk pergi.
***
Kumal selalu mencari alasan dan peluang untuk kembali berjumpa dengan sudut-sudut bibir Arin yang menyunggingkan senyum. Hal-hal aneh pun kerap ia lakukan. Kadang ia pergi ke pasar, seolah-olah hendak berbelanja, yang tidak lain hanya untuk mengekori Arin yang berjalan meniti jalanan becek.
Terkadang pula, ia pura-pura lagi berolahraga di pagi hari, mondar-mandir di gang kecil, hanya demi melintasi rumah Arin, dan melihat muka kusutnya yang baru saja bangun tidur. Dan kini, Kumal mengendap-endap di siang bolong, dengan Hantu Cantik mengekori, menuju jendela kamar Arin.
“Kenapa kita harus mengendap-endap seperti hendak menyerbu?” tanya Fana Ismi penasaran melihat tingkah aneh Kumal.
“Hus, jangan berisik! Bukankah kamu sendiri yang bilang, bahwa kamu ingin tahu siapa perempuan yang kusukai,” bisik Kumal. Ia berbohong soal bertemu dengan Arin hanya karena Hantu Cantik penasaran, ia hanya sekadar rindu, dan rindu bisa menjadi alasan yang cukup sempurna.
“Tapi tetap saja, kenapa kita harus mengendap-endap? Apa kalian lagi bertengkar?
”
__ADS_1
“Tidak, hanya saja kami tidak lagi mengobrol sejak aku kuliah di luar kota.”
“Kenapa?”
“Mungkin karena jarak.”
“Tapi sekarang kamu ada di sini, kenapa kalian malah semakin menjaga jarak.”
“Entahlah, aku hanya mengikuti kata nurani.”
“Itu bukan kata nurani, Kumal. Kalian hanya naif.”
‘Naif’ mungkin kata itu memang cocok untuk mereka berdua. “Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu di situasi yang menegangkan ini,” balas Kumal acuh tak acuh membuat Fana Ismi kesal setengah mati.
Mereka berdua pun sampai di depan jendela kamar Arin. Tidak seperti Hantu Cantik yang terang-terangan melihat ke dalam jendela, Kumal mendongakkan kepala perlahan dan hati-hati, persis seperti orang mesum mengintip perempuan mandi.
Fana Ismi geleng-geleng melihat sifat asli Kumal. Kaki pemuda itu gemetaran, ia merasa bersalah melihat Arin dalam keadaan seperti demikian. Namun, tubuh Kumal bergeming, matanya seolah enggan untuk pergi dari pandangan indah saat ini.
Dan kebetulan sekali, seseorang tetiba melintasi tempat itu dan melihat kejadian tersebut. Ia adalah petani yang hendak pergi ke sawah. Ia melihat perihal yang mencurigakan dan mencoba untuk menegur, “Apa yang kamu lihat di sana, Anak Muda?”
Sontak Kumal tersentak. Ia secepat mungkin menghindar dan memepetkan tubuh ke muka dinding agar tidak ketahuan oleh Arin. “A... a... anu, Paman ...” ucap Kumal tergagap-gagap di situasi yang menegangkan ini.
“Wah, Nak Kumal,” petani itu mengenali wajah Kumal “Apa yang kamu lakukan di sana, Nak Kumal? Mengintip ya...” todong petani itu sembari cengengesan. Hantu Cantik cekikikan melihat Kumal tertangkap basah. Dan di dalam kamar, Arin secepat mungkin meraup selimut guna menutupi tubuhnya, tatkala mendengar keributan dari arah jendela.
“Ti..tidak, Paman,” jawab Kumal cepat. Ia juga agak kesal pada Fana Ismi yang bukannya membantu malah mengejek. “Di... dia, Paman. Aku mengantar dia, paman!” Kumal menunjuk ke arah Hantu Cantik berada.
__ADS_1
“Mengantar? Apa maksudmu, Nak Kumal?” tanya petani itu heran. Kumal lupa, bahwa petani itu tidak dapat melihat hantu.
Fana Ismi semakin cekikikan.
“E... maksudku... aku mengantar uang kontrakan ke Bu Yunit. Ya, aku hendak mengantarnya,” Kumal menemukan satu alasan. Tapi petani itu tetap menaruh curiga.
“Mengantar uang kok lewat jendela.”
Kumal cengengesan, ia benar-benar sudah tertangkap basah. Ia takut bila Arin keluar dan mendapatinya sedang mengintip tadi. Tidak ada pilihan lain, pikir Kumal. Ia pun menepi sedikit demi sedikit, lantas dengan cepat mengeluarkan jurus kaki seribu.
Petani itu terpingkal-pingkal melihat tingkah Kumal yang mirip kucing tertangkap mencuri ikan.
***
“Tidak kusangka ternyata kamu lelaki mesum,” ejek Hantu Cantik sembari menahan tawa.
Dan di dalam kontrakan, Kumal masih tersengal-sengal karena lari terlalu kencang. “Bodoh! Aku hanya tidak sengaja melihat ia ganti pakaian.”
“Tapi kamu menikmatinya, kan?”
“Memang iya. Tapi...”
“Tapi apa?” potong Fana Ismi membuat Kumal tidak bisa mencari-cari alasan lagi.
“Sudahlah, aku pusing!” balas Kumal kemudian. Ia benar-benar seperti tidak memiliki daya untuk sekadar berjalan. Ia takut bila Arin semakin membencinya dan menganggap ia sebagai lelaki mesum.
__ADS_1
Dan seperti tidak mau tahu akan keresahan Kumal, Fana Ismi malah terpingkal-pingkal di udara.