PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
AMPLOP


__ADS_3

Arin gelisah, raganya memang tetap di kamar itu, tapi jiwanya melayang ke masa kanak-kanak. Arin ingat, bagaimana ia berjumpa dengan Kumal kecil yang aneh. Ia juga ingat, bagaimana Kumal bersujud dan menangis demi berteman dengannya. Arin juga mengajari Kumal membaca dan menulis. Jadi Arin tahu betul, bagaimana Kumal sesungguhnya. Ia hanya seorang pecundang meski ia sendiri tidak mau disebut pecundang.


Kejadian waktu itu, saat Kumal hendak memandang wajah Arin melewati kaca jendela. Arin tahu, bahwa dalam keributan di balik kaca jendela ada seorang pemuda yang ia sukai sedari kecil. Arin hafal suara itu, suara Kumal yang canggung dan lembut bak alunan musik. Tapi, tapi mengapa, Kumal? Mengapa kamu tidak menemuiku secara langsung? jerit Arin dalam hati.


Arin telah menunggu Kumal untuk menyapanya lebih awal setelah sekian lama tidak bertemu. Namun semua percuma, Kumal terlalu pecundang dan akan selalu menjadi pecundang. Arin ingin mengobrol banyak hal dengan Kumal. Arin ingin memeluk tubuh Kumal untuk melepas beban rindu selama ini. Tapi, tapi mengapa, Kumal? Mengapa kamu terlalu takut menyapaku lebih dulu? Apa harus aku yang menyapamu terlebih dulu? Aku kan perempuan, aku takut bila dibilang murahan bila menyapamu terlebih dahulu, pekik Arin dalam hati.


Arin tahu, Kumal bukanlah lelaki mesum yang suka mengintip perempuan-perempuan telanjang, hanya saja Kumal terlalu bodoh. Kumal tidak peka pada lingkungan sekitar. Saat Kumal datang menjenguknya lewat kaca jendela, Arin menyadari, perasaannya juga perasaan Kumal itu sama. Sama-sama memiliki perasaan yang pecundang. Dasar pecundang! Benar kata bapakmu dulu, kamu memang benar-benar pecundang! Bahkan untuk berbicara denganku kamu harus berlatih berbulan-bulan, hati Arin kembali meraung.


Memang kabar burung mengatakan, Kumal kini sudah sedikit sinting. Ia selalu berbicara sendiri, marah sendiri, bahkan bertengkar sendiri. Kata orang, mungkin karena honor tulisan yang tidak turun-turun. Ada pula yang bilang, mungkin karena Kumal menjadi penyair yang gagal. Tapi Arin menduga, Kumal hanya mempersiapkan diri untuk bertemu dan berbicara dengannya. Dasar bodoh! Umpat Arin dalam hati.


Dan kini Arin tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia sudah terlalu lama menunggu. Menunggu, menunggu, dan menunggu hanya akan membuatnya semakin gila. Ia pun mengambil kertas dan juga pena, ia menulis beberapa hal yang harus disampaikan kepada Kumal. Ia memasukkan surat itu ke dalam amplop. Lalu, ia diam-diam pergi ke kontrakan Kumal, dan menyelipkan amplop itu ke cela lubang kecil di bawah pintu.


***


Hantu Cantik cemberut. Semenjak kejadian di kaca jendela Arin, Kumal memutuskan untuk tidak keluar kontrakan karena malu, baik pada orang-orang juga pada Arin. Ia memiliki banyak stok mie instan di dalam kontrakan, sehingga tidak akan mengeluh lapar meski tidak pergi keluar.

__ADS_1


Kumal berniat mengurung diri di dalam kontrakan. Ia beralasan, dengan tetap di dalam kontrakan ia dapat menulis syair-syair lebih banyak lagi. Ia tetap bisa berduka-duka ria dalam kontrakan.


Berbeda dengan Fana Ismi, ia sangat ingin keluar kontrakan, menghirup udara segar, dan jalan-jalan. Ia bosan di dalam kontrakan hanya guling-guling tidak jelas. Di sisi lain, ia juga menaruh iba pada Kumal, hanya lantaran tertangkap basah mengintip perempuan ganti pakaian, ia harus menghukum diri sendiri dengan mengurung diri dalam kontrakan. Hantu Cantik tidak mau Kumal menyalahkan diri sendiri.


Ia sudah mencoba berbagai cara agar Kumal dapat keluar dari penjara bernama rumah ini. Ia pernah menarik baju Kumal dan hendak melempar pemuda itu keluar dari kontrakan, tapi tenaganya tetaplah tenaga perempuan. Meski urat-urat telah menonjol, ia tetap saja tidak bisa menarik Kumal secara paksa.


Hantu Cantik juga pernah pura-pura mengatakan, bahwa Arin sedang lari-lari sore di depan kontrakan. Namun, Kumal tidak menggubris, ia tahu, Fana Ismi pasti berbohong. “Ayolah, Kumal, tidakkah jenuh kamu memandang dinding dan memandang aku saja di kontrakan ini.”


“Kalau kamu mau keluar, keluar saja sendiri. Toh, kamu juga hantu. Tidak akan ada orang yang melihatmu meski kamu jumpalitan di luar sana,” balas Kumal dengan jahat. Ia tidak tahu, bahwa Hantu Cantik sangat khawatir padanya.


“Meski kamu bersamaku dan hantu itu menampakkan rupa buruknya lagi, aku juga tidak bisa apa-apa. Aku tidak memiliki keberanian, aku hanya pecundang! Ya, aku hanya pecundang.”


“Tapi...”


“Tapi apa?!”

__ADS_1


“Baiklah, aku menyerah,” balas Hantu Cantik sembari menampakkan muka masam kembali.


Ia tidak tahu, harus dengan cara apa lagi agar Kumal melupakan masalah mengintip itu dan bersedia menghirup udara segar di luar kontrakan. Ia juga menyesal, telah menyebut Kumal lelaki mesum, meski semua itu hanya bercanda. Fana Ismi benar-benar cemas terhadap Kumal.


Untuk mengobati kekesalannya terhadap Kumal, Hantu Cantik hendak jalan-jalan sebentar di luar kontrakan. Namun, saat ia sampai di ambang pintu, ia mendapati sebuah amplop di lantai. Ia meraih amplop itu.


“Mal!” panggil Fana Ismi yang disambut sahutan lemas oleh Kumal. “Mungkin amplop ini dari Arin!” lanjutnya kemudian.


“Cara apa pun itu, kamu tidak akan membuatku beranjak dari kontrakan ini,” balas Kumal. Ia mengira Hantu Cantik itu berbohong lagi untuk menyeretnya keluar.


Dasar bocah itu! umpat Fana Ismi dalam hati. Ia pun melayang mendekati Kumal, dan menyodorkan amplop itu tepat di depan mata Kumal. Sungguh berdebar-debar dada Kumal saat melihat amplop itu.


Bergegas Kumal merampas amplop itu, membukanya, lantas membacanya. Kemudian ia memandang Hantu Cantik dengan tatapan yang sudah lama ia sembunyikan. “Apa isinya,” tanya Fana Ismi penasaran.


“Arin mengajakku kencan pekan nanti,” balas Kumal begitu girang. Deretan-deretan gigi yang sudah lama Hantu Cantik tidak lihat, kini kembali. Senyuman itu kembali lagi. Tentu, semua karena surat dari Arin.

__ADS_1


Fana Ismi pun ikut-ikutan gembira, meski jauh di lubuk hati ia merasakan perih.


__ADS_2