
Panas memudar dan mentari hendak menceburkan diri ke dalam cakrawala laut, menandakan bahwa hari sudah menjelang sore. Sementara itu, Kumal dan Hantu Cantik masih berada dalam kontrakan, terjebak dalam gandengan yang tidak terduga. Lelap. Tanpa sadar, mereka hanyut ke alam mimpi, meski mereka masih duduk sembari menyandarkan kepala satu sama lain. Mereka laksana jiwa yang mengambang di atap angan-angan.
Oh, bahkan mereka tidak menyadari, bahwa seekor lalat berniat mengganggu tidur nyenyak mereka. Lalat itu terbang secara membabi buta, mengeluarkan bunyi yang bising, lantas menerobos masuk ke hidung Kumal. Pemuda itu merasakan hal itu, terdapat lalat yang meronta, di lubang hidung sebelah kanan.
Kumal mengucek hidungnya, membuat lalat itu kesal, sehingga si lalat semakin membuat keributan di lubang hidung pemuda itu. Kumal bersin, dan lantaran bersin itu tubuhnya menjadi tidak kendali dan kehilangan keseimbangan. Mereka pun terjungkal, terjatuh ke kasur yang empuk.
Mereka membuka mata, terbangun, menoleh, kemudian bersitatap satu sama lain. Mereka panik. Kumal salah tingkah, dan Hantu Cantik memeluk tubuhnya sendiri seakan ada yang hendak merenggutnya. “Apa yang kamu lakukan? Apa jangan-jangan ...”
“Aku tidak memperkosamu,” potong Kumal cepat. “Apa kamu tidak ingat, tadi kamu menggandeng tanganku dan kita pun tertidur karena terlalu lelah.”
Hantu Cantik cekikikan melihat raut kusut Kumal yang tertuduh. “Iya, iya, Kumal, aku percaya kok,” bisik Hantu Cantik. Dan itu pertama kalinya Hantu Cantik memanggil nama asli Kumal. “Tapi sungguh, tadi aku memang mengira kamu melakukan itu.”
Kalimat itu benar-benar bak anak panah yang menancap di dada Kumal, mengatakan hal kotor itu membuat telinga Kumal menjadi panas. “Aku tidak akan melakukannya dengan hantu.”
“Benarkah. Meski hantunya cantik sepertiku?” Hantu Cantik memang sengaja bertanya demikian, hanya untuk sekadar membuat pipi Kumal semakin merah.
Dan Kumal sendiri menyadari hal itu, ia bukan tikus yang akan terperangkap di jebakan yang sama untuk kedua kalinya. Kumal membalas pertanyaan itu dengan penuh pesona, “Entahlah, kukira kamu benar. Kecantikanmu laksana anggur merah, mungkin aku akan terus memandangimu, meski memabukkan dan meski harus darah jadi taruhan.”
“Oh ya, meski aku hantu?”
“Meski kamu iblis sekali pun.”
Susunan kata yang selaras seketika menjelma bunga-bunga di kepala Hantu Cantik, ia tersipu malu, meski malu ia mengakui bahwa dirinya memang malu. Ia memalingkan muka, menyembunyikan senyum yang tidak tertahankan. “Kamu memang lihai dalam merangkai kata, Kumal. Bila dugaanku benar, benarkah sekarang aku berhadapan dengan seorang penyair?”
Penyair? Bagaimana ia tahu bahwa aku seorang penyair? Apa hantu memiliki kemampuan untuk mengetahui tiap-tiap jabatan manusia? Ah, mana mungkin hal itu terjadi, kini pertanyaan semacam itu melayang di kepala Kumal.
“Kamu tidak perlu sungkan mengatakan bahwa kamu memang seorang penyair,” lanjut Hantu Cantik setelah sekian lama Kumal terdiam. “Dulu semasa hidup, aku juga pernah memiliki kekasih seorang penyair. Jadi aku sangat hafal, bagaimana seorang penyair menampakkan taringnya di hadapan perempuan.”
Sekarang Kumal tidak memiliki alasan lagi untuk mengelak, sepertinya tidak ada salahnya menunjukkan wajah sesungguhnya pada seorang hantu. “Ya, aku memang seorang penyair. Tapi, aku bukanlah penyair tersohor, aku hanya penyair miskin yang mencari hidup di beberapa media. Dan ingat ini! Tidak semua penyair tergila-gila pada perempuan.”
“Ya, tidak semua, tapi nyaris ...,” sahut Hantu Cantik menirukan lagak seorang penyair Madura.
Mereka pun sama-sama tergelak, entah apa yang mereka tertawakan, tapi semua terlihat lucu sore itu. Mereka kian akrab dan semakin akrab. Kumal pun berpikir, tidak ada salahnya berteman dan tinggal bersama hantu yang cantik ini. “Hai, Kumal,” panggil Hantu Cantik sembari berguling di atas kasur mendekati tubuh Kumal.
“Jangan dekat-dekat, tidak baik hantu dan manusia berdekatan,” sahut Kumal begitu dingin, meski sebenarnya ia juga menginginkan hal itu terjadi.
“Kamu jahat!” Hantu Cantik kembali cemberut, dan ia terlihat semakin imut. “Kamu jahat! Sampai sekarang pun, kamu tidak pernah menanyakan namaku.”
“Apa kamu punya nama? Baiklah, siapa namamu, Nona?”
Hantu Cantik begitu girang, ia pun dengan senang hati memperkenalkan diri, “Namaku Fana Ismi, dan kamu bisa memanggilku Fi.”
Kumal diam sejenak untuk berpikir, ada perihal yang ganjil, ia pun menanyakan hal ganjil pada nama itu pada sang pemilik nama. “Fi? Dari mana kamu mencuri kata ‘Fi’? bukankah nama panjangmu Fana Ismi?”
“Tolol!” Fana Ismi menggasak kepala Kumal lagi. “Fana Ismi disingkat...”
“Fi,” jawab Kumal sekenanya.
“Itu kamu pintar!”
“Jadi Fi itu singkatan dari nama panjangmu?!”
“Iya,” balas Fana Ismi sembari menampakkan deretan gigi. Ia tidak kuasa menahan tawa dari tingkah lucu pemuda di sisinya.
__ADS_1
Mereka pun hanyut ke dalam obrolan yang cukup asik. Fana Ismi banyak cerita perihal kehidupan ketika ia masih hidup. Fana Ismi cukup populer di sekolah, sehingga banyak lelaki yang memperebutkannya, meski harus bertengkar jalan satu-satunya. Fana Ismi bangga akan kecantikannya dan ia menggunakan kecantikan itu dengan sebaik-baiknya. Dengan kecantikan itu, ia dapat memperbudak para lelaki sesuka hati, seperti mengantar ia ke mana saja, membelikan ia apa pun, bahkan para lelaki rela kehilangan apa pun demi Fana Ismi seorang. Hantu Cantik cekikikan saat bercerita akan hal itu, ia terlihat seperti hantu jahat dengan paras yang cukup manis.
Namun, kisah muda Fana Ismi yang dapat menaklukkan semua lelaki itu pun berakhir, tatkala orangtuanya menjodohkan ia dengan seorang pemuda yang pendiam. Pemuda itu cukup membosankan, tapi sebenarnya ia sangat baik. Fana Ismi menikah dengan pemuda itu, dan banyak pemuja-pemuja menangis karena merasa kehilangan. Bagi Fana Ismi, pemuda itu beruntung dapat istri seperti dirinya, atau malah Fana Ismi yang beruntung bisa mendapatkan suami yang baik seperti pemuda itu.
“Lalu sejak kapan kamu memiliki kekasih seorang penyair?” celetuk Kumal tidak sabar menunggu fragmen tentang ‘penyair’ diceritakan.
“Sabar, Kumal. Jangan memotong cerita orang dewasa seenak menyedu kopi,” Fana Ismi memarahi. Kumal pun menunduk lantaran merasa bersalah, sepertinya ia memberikan ruang untuk Hantu cantik guna melanjutkan ceritanya ketika masih hidup.
Kemudian Fana Ismi pun kembali bercerita:
Seorang penyair tetiba datang memorakporandakan keluarga kecil Fana Ismi. Penyair itu selalu merayunya, meski ia tahu, bahwa Fana Ismi sudah menikah dan memiliki seorang suami. Awal-awal Fana Ismi acuh tak acuh, lama-lama ia pun merasa candu oleh kiriman surat berisi syair-syair penyair itu. Penyair itu, entah dengan sihir apa, membuat Fana Ismi kehilangan kesadaran, sehingga ia pun berani menyelingkuhi suaminya.
“Mantap!” puji Kumal seketika, tampaknya ia berada di pihak penyair dalam cerita. “Hebat sekali penyair itu dapat meluluhkan hatimu yang bersikap bodoh amat terhadap lelaki. Ia juga membuatmu berpaling dari suamimu, bukan?”
Fana Ismi hanya mengangguk membenarkan, ia agak kesal bila ceritanya dipotong-potong seenak mengupil di pagi hari.
“Penyair itu membuatku penasaran, apa penyair itu adalah penyair terkenal? Di mana bisa kudapatkan buku puisi-puisinya? Katakan padaku, Fi, katakanlah bahwa ia memiliki banyak buku puisi.”
Fana Ismi menatap tajam ke arahnya, “Sepertinya cintamu itu melebihi cintaku pada penyair itu.”
“Benarkah?” Kumal setengah tidak percaya terhadap anggapan itu. “Mungkin karena kita sama-sama penyair, sehingga aku dapat merasakan aura hebat penyair itu setelah mendengar ceritamu.”
“Tebakanmu salah,” balasan Fana Ismi meremukkan harapan Kumal. “Penyair itu hanya penyair gelandangan yang memberikan syairnya pada pengemis-pengemis cinta di sudut-sudut kampung.”
“Benarkah?” tanya Kumal seakan lemas. “Tapi aku tetap ingin tahu siapa namanya. Siapa nama penyair itu, Fi?”
“Hem...,” Hantu Cantik sejenak terlihat memikirkan sesuatu. “Aku lupa ...”
“Aku lupa, aku belum mandi sedari tadi pagi,” ucap Fana Ismi kemudian meluruskan.
Hantu itu sesegara mungkin mengambil handuk tanpa permisi, lantas melayang menuju kamar mandi. Sementara itu, Kumal menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang harus Fana Ismi jawab agar tidak meninggalkan rasa penasaran di kemudian hari. Pertanyaan itu semacam, apakah hantu juga bisa mandi? Dan kenapa hantu harus mandi? Apa Fana Ismi rajin mandi? Dan pertanyaan-pertanyaan lain pula. “Tu... tu... tunggu, Fi!” cegat Kumal membuat langkah Fana Ismi terhenti.
“Kenapa? Kamu mau mandi bersama?” tanya Fana Ismi agak tidak senonoh, lagi-lagi membuat pipi Kumal memerah dan melupakan segala pertanyaan yang telah ia siapkan barusan.
“Ti.. ti.. tidak! Ehem!” Kumal berbatuk agar tidak terlihat seperti orang gugup, ia membenarkan tenggorokannya, lantas melanjutkan ucapannya. “Mana mungkin aku sudi mandi bersama hantu.”
Kata-kata itu pun membuat cuping telinga Fana Ismi panas, ia menampakkan wajah cemberut lagi, lantas melayang secepat mungkin ke kamar mandi dan membanting pintu cukup keras. Ya, Kumal mengatakan hal itu demi sebuah harga diri, meski sebenarnya ia pun ingin melihat sosok hantu cantik mandi. Mungkin. Ya, mungkin saja.
Kumal duduk di tepi kasur dengan lutut gemetar sembari menunggu Fana Ismi mandi. Tiap kali terdengar suara air diguyur, pemuda itu merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Ia belum terbiasa berada di satu rumah bersama perempuan, apalagi perempuan itu adalah hantu. Untung terdengar ketukan pintu menyelamatkan, mengalihkan pandangannya pada kamar mandi untuk sejenak.
Kumal pun beranjak dari kasur dan memaksa kakinya untuk melangkah ke ambang pintu, meski agak malas. Ia membuka daun pintu, seorang wanita dengan tubuh gemuk tapi selalu memakai pakaian ketat itu tampak berkacak pinggang dan berdiri di sana. “Bu Yunit,” sapa Kumal kepada pemilik kontrakan sembari cengengesan.
“Kapan kamu akan melunasi uang sewa?” ucap Bu Yunit langsung ke inti, ia menjulurkan telapak tangannya.
Kumal hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, lantas memohon ampun dengan cara tidak terhormat. “Maaf, Bu Yunit, bukan maksud hamba harus memberi harapan lagi terhadap perempuan jelita dengan pipi merah semangka. Hamba sungguh tidak berdaya, Bu. Honor puisi hamba tidak turun-turun. Tapi hamba janji, hamba akan mengangkat kaki dari kontrakan ini bila minggu depan belum jua menyetorkan uang sewa.”
“Aku tidak makan kata-kata!” balas Bu Yunit seolah tidak tertarik dengan rangkaian kata yang telah Kumal siapkan.
Perihal itu membuat kepala Kumal pening, bila kata sudah tidak mempan, harus dengan cara apa lagi ia membuat Bu Yunit mengasihinya. Ia masih ingin tinggal di kontrakan ini, ia juga tidak mau berjauhan dengan perempuan yang ia suka. Ketika otak Kumal buntu, Fana Ismi yang baru saja mandi tetiba datang memeriksa siapa yang tadi mengetuk pintu.
Rambut hantu itu masih basah, ia memandang tubuh dan pakaian Bu Yunit yang tidak pernah cocok itu dengan tatapan menyelidik. Namun, bukan tatapan itu yang mencuri pandangan Kumal, melainkan tubuh Fana Ismi yang kini sudah bersih dan basah. Ia terlihat sangat cantik bahkan melebihi bidadari sekali pun. “Apa kamu sudah mandi?” tanya Kumal basa-basi dan melupakan sosok Bu Yunit yang masih berdiri di depannya.
“Mal, apa aku akan menjawab pertanyaan konyolmu itu. Sementara kamu sendiri sudah tahu, aku habis mandi,” balas Fana Ismi agak cuek. Ia masih kesal akan kata-kata Kumal sebelum mandi.
__ADS_1
Dan sementara itu, Bu Yunit yang tidak menyadari adanya hantu di kontrakan itu, menganggap ucapan Kumal tertuju padanya. Ia tersinggung sampai-sampai mencium tubuhnya sendiri untuk memastikan, bahwa ia tidak terlalu bau.
“Kamu masih marah? Aku hanya terpesona padamu, ternyata kamu bisa mandi, itu berarti tubuhmu juga bisa bau? Pantas tadi aku mencium bau bangkai saat berada di dekatmu,” serang Kumal hendak memulai sebuah percekcokan.
“Apa maksudmu, Mal! Apa kamu bilang, ibu tidak pernah mandi, sehingga bau seperti bangkai,” bukan Fana Ismi yang menyerang balik, malah Bu Yunit mewakili. Ia tidak mendengar kalimat sebelumnya karena sibuk mencium tubuhnya sendiri, sehingga yang ia dengar adalah kalimat yang berhubungan dengan ‘bangkai’.
Hantu Cantik cekikikan mendengar respon itu, sepertinya ia tidak perlu membalas perlakuan jahat Kumal, karena sekarang pemuda itu telah mendapat getah dari perkataan kasarnya sendiri. Sial! Kumal membatin, ia pun kembali sadar, bahwa tadi ia sedang berbicara dengan Bu Yunit. “Maaf, Bu Yunit, barusan saya tidak lagi mengobrol dengan ibu,” ungkap Kumal secara terang-terangan.
“Lalu kamu mengobrol dengan siapa? Hantu!”
“Iya.”
“Ha...,” Bu Yunit tercengang mendengar Kumal mengiyakan. “Ada hantu di kontrakan ini?!”
“Iya, Bu. Ada hantu di kontrakan ini,” jawab Kumal jujur.
Seketika tubuh Bu Yunit merinding, bulu-bulunya gemetaran, dan kepalanya berpikir yang tidak-tidak. Untuk menutupi ketakutannya itu, ia pun tertawa cukup keras, hingga membuat Kumal aneh sendiri. “Apa kamu sakit?” tanyanya kemudian, lantas menyentuh dahi Kumal. “Panas. Kamu benar-benar sakit. Jaga kesehatan ya, mungkin karena honor yang tidak turun-turun kamu sedikit menggila karena frustasi. Ini sungguh horor.”
Lantas Bu Yunit pun segera berlalu, ia bilang, bulan depan Kumal harus membayar uang sewa dengan lunas. Ia agak gemetaran dan tampak berlari kecil menghindari kontrakan. Cepat-cepat Kumal kembali masuk dan menutup pintu.
Pemuda itu tampak senang bisa tinggal lebih lama lagi, meski beberapa minggu ke depan ia tidak akan mendapati omelan dari Bu Yunit lagi, tapi ia tidak pedulikan hal itu, ia malah kian senang bila hal itu memang-memang akan terjadi.
“Siapa dia?” tanya Fana Ismi kemudian, mengacaukan kegirangan Kumal.
“Pemilik kontrakan,” balas Kumal singkat.
“Dia tampak seperti banteng hendak menyeruduk.”
“Jaga ucapanmu!” Kumal naik pitam. “Dia adalah calon mertuaku.”
Hantu Cantik tidak ingin tertawa, tapi setelah mendengar kata ‘calon mertua’, ia pun tidak bisa mengendalikan diri dan langsung saja terpingkal-pingkal.
“Kenapa kamu menertawakanku?”
“Apa kamu benar-benar jatuh cinta dengan anak dari banteng ganas itu,” tunjuk Fana Ismi ke luar, tempat terakhir Bu Yunit berlalu.
“Berhentilah menyebut dia banteng. Anaknya sangat berbeda dengan ibunya. Anaknya sangat cantik, bahkan bunga pun tertunduk malu terhadap kecantikannya.”
“Berarti dia cantikan aku dong.”
“Kenapa begitu?” tanya Kumal heran dan penasaran.
“Bukankah kamu pernah bilang padaku, ‘Sungguh purnama kalah akan keelokan wajahmu, Nona’” Fana Ismi menirukan lagak dan ucapan Kumal, membuat pemuda itu kesal karena harus mengingat kejadian malam itu.”Sementara kecantikan dia, hanya membuat para bunga malu, bukan?”
“Berhentilah mengungkit-ungkit ketidaksengajaan itu.”
Pipi Kumal menjadi merah, entah karena malu atau karena marah. Yang jelas, Hantu Cantik pun mengalah, ia melayang mendekati Kumal guna meminta maaf. “Maafkan aku, aku bercanda kok.”
Kumal bergeming.
“Oh iya, coba ceritakan padaku bagaimana perawakan perempuan itu? dan bagaimana bisa kamu jatuh cinta padanya?” bujuk Fana Ismi dengan menggunakan perempuan itu sebagai umpan.
Dan benar, muka Kumal menjadi semringah dan ia sangat antusias untuk menceritakan siapa dan kapan ia mengenal perempuan itu.
__ADS_1