
Anggi Kusuma tiada mengira pula, ia pun jatuh ke pangkuan cinta. Ia menyadari hal itu setelah sekian lama menikah dengan Fana Ismi. Anggi Kusuma pun jatuh cinta, jatuh cinta pada istrinya sendiri.
Anggi Kusuma adalah sosok yang pendiam, ia bahkan diam saja, tatkala orang tuanya menjodohkan ia dengan Fana Ismi, perempuan yang cantik dan membuat dada Anggi Kusuma seperti diterjang ombak.
Anggi Kusuma dan Fana Ismi menjadi sepasang suami istri. Diam-diam, meski ia memperoleh pernikahan itu dengan jalan perjodohan, Anggi Kusuma menyimpan rasa pada istrinya itu. Ia tidak lihai dalam mengungkapkan perasaan, ia pun tidak mengungkapkan perasaan itu, lantaran mereka telah menjadi sepasang suami istri. Terlihat aneh bagi Anggi Kusuma yang pendiam, bila ia mengungkapkan cinta pada perempuan yang memang sudah menjadi istrinya.
Mereka menjadi pasutri yang sederhana. Anggi Kusuma bekerja dan memberikan uang belanja pada Fana Ismi, dan Fana Ismi sendiri menjaga rumah, memasak, dan memberi jatah sebagai istri pada Anggi Kusuma saban malam. Akan tetapi, hingga dua tahun menikah, mereka pun belum jua mendapat keturunan. Dokter bilang, Anggi Kusuma mandul. Ia pun menjadi lebih pendiam semenjak itu.
Betapa perih hati Anggi Kusuma, lantaran ia tidak dapat memberikan kebahagiaan pada sang istri yang sangat ia cintai selama ini. Ia terlalu membosankan sebagai suami, ia juga tidak bisa memberikan buah hati pada sang istri. Namun, semua hal itu berubah, tatkala seorang penyair gelandangan datang ke desa tempat mereka tinggal. Penyair itu bernama Gemala.
Anggi Kusuma tahu, bahwa saban malam, diam-diam Gemala mengirimi Fana Ismi sepucuk surat berisi syair-syair. Ia juga tahu, bahwa tiap istrinya membaca surat itu, senyum Fana Ismi lebih hidup. Ia lebih sering tersenyum tatkala mendapat surat-surat dari Gemala, ketimbang hidup bertahun-tahun bersamanya. Anggi Kusuma pun menyadari, bahwa selama ini Fana ismi tidak mencintainya, suaminya. Fana Ismi menikah dengannya, lantaran sebuah perjodohan. Ia pun tahu, bahwa Fana Ismi jatuh cinta pada Gemala, seseorang yang bukan suaminya.
Dan sungguh bodoh Anggi Kusuma, ia tidak melerai hubungan terlarang antara Gemala dengan istrinya. Ia terlalu mencintai Fana ismi, sehingga apa pun ia lakukan demi kebahagiaan perempuan itu. Ia bahkan rela, bertingkah tidak tahu apa-apa, pada hubungan Gemala dengan istrinya itu. Bila Gemala dapat membuat istrinya senang, ia pun merasa senang, begitulah kata pikiran Anggi Kusuma dahulu.
Namun, semenjak Fana Ismi kerap diam-diam mengendap-endap di malam hari tuk berjumpa dengan Gemala, tingkah perempuan itu berubah. Ia tampak lebih dingin dari sebelumnya, ia juga jarang memberi jatah, ia bahkan lupa tugasnya tuk menjadi istri yang baik bagi Anggi Kusuma.
Anggi Kusuma pun cemburu, meski kata cemburu sudah terlambat untuk dikatakan. Diam-diam, banyak duri di hati Anggi Kusuma, tatkala melihat istrinya mengendap-endap di malam hari. Ia juga tidak kuasa melihat Fana Ismi senyum-senyum sendiri tatkala membaca surat dari Gemala. Seperti tersenyum di atas penderitaan Anggi Kusuma. Ia sungguh cemburu, meski kata cemburu sudah terlambat untuk dikatakan.
***
Sedari dulu, Anggi Kusuma telah menjadi seorang pecundang. Ia terlalu pecundang, sehingga tidak mampu mengatakan bahwa “Aku mencintaimu” pada istrinya sendiri. Ia terlalu pecundang, sehingga tidak sanggup meminta maaf, lantaran ia mandul dan tidak mampu memberi sang buah hati. Ia terlalu pecundang, sehingga membiarkan Fana Ismi berselingkuh begitu saja. Ia terlalu pecundang karena tidak bisa membahagiakan perempuan yang sangat ia cintai. Ia terlalu pecundang dan tidak pantas menjadi suami Fana ismi.
Anggi Kusuma ingin berubah, menjadi sosok paling keren di mata Fana Ismi. Anggi Kusuma tidak mau menjadi pecundang, dan ia juga ingin berhenti menjadi lelaki pendiam dan membosankan. Ia ingin menjadi lelaki romantis seperti Gemala. Ia ingin bisa menulis syair-syair agar dapat membuat Fana Ismi tiada henti menyunggingkan sebuah senyum untuknya. Anggi Kusuma ingin berubah, meski hal ini sudah agak terlambat.
Dan malam itu, Anggi Kusuma benar-benar menyisir rambutnya dan memotong kumisnya. Ia berpenampilan seperti anak SMA, ia memakai celana jin dan kaus oblong. Ia hendak menunjukkan pada Fana Ismi, bahwa suaminya juga bisa bertingkah tak kalah keren dari penyair gelandangan itu.
__ADS_1
Fana Ismi juga agak terperanjat melihat perubahan penampilan itu, dari suami yang pendiam menjadi suami yang sok keren. Malam itu, Fana Ismi baru menemui Gemala, mengatakan kepada penyair itu, bahwa ia hamil anaknya. Namun, sikap Gemala sungguh jahat, sehingga Fana Ismi pulang dengan lemas dan tidak dapat menyembunyikan tangisannya.
Anggi Kusuma menyadari tangisan itu dan perut yang selalu ia raba. Di ambang pintu itu, Anggi Kusuma tidak lagi peduli pada penampilannya. Ia menekuk lutut dan bersujud di hadapan Fana Ismi. “Maafkan aku, Fi ... aku terlalu pecundang untuk menjadi suamimu. Aku tidak becus jadi suami, sehingga aku pun tidak mampu membahagiakanmu. Tapi aku janji, Fi. Mulai sekarang aku akan menjadi suami yang menyenangkan, aku ingin melihatmu selalu tersenyum. Fi, semua itu aku lakukan, karena aku sangat mencintaimu.”
Fana Ismi melengung mendengar pengakuan itu. Ia mengakui dirinya terlalu bodoh. Ia telah jauh-jauh mencari cinta, tapi sebenarnya cinta itu sudah ia dapatkan dalam diri suaminya sendiri. Ia terlalu bodoh, sehingga Tuhan pun menghukum Fana Ismi, dengan janin di perutnya. Ia harus bilang tentang itu pada suaminya, dan ia harus rela menerima konsekuensinya. “Aku hamil, Mas ...” ucap Fana Ismi kemudian.
“Benarkah?” tanggap Anggi Kusuma. Sungguh tanggapan senang itu tidak pernah terbesit barang sejenak di kepala Fana Ismi. “Aku sangat senang mendengar hal itu ...” lanjut Anggi Kusuma.
“Tapi ...” Fana Ismi tidak sanggup meneruskan kata-katanya, air mata mengalir cukup deras dan tidak bisa berhenti. Sembari sesenggukan, ia pun menguatkan diri tuk mengatakan kebenaran perihal janin yang ia kandung pada Anggi Kusuma. “Tapi, ini bukan anakmu, Mas. Maafkan aku, Mas. Aku telah hamil karena hubungan gelapku dengan orang lain.”
Sungguh pedih hati Anggi Kusuma mendengar hal itu, meski ia pun telah mempersiapkan adegan ini sebelumnya. Anggi Kusuma pun memandang muka kusut Fana Ismi dengan pandangan meneduhkan, dan ia pun meraba bahu istrinya sembari memanggil, “Fi. Aku tidak peduli janin itu kamu peroleh dengan siapa. Aku benar-benar tidak peduli. Kamu adalah istriku. Bayi itu ada dalam perutmu. Jadi, bayi itu juga akan menjadi anakku. Bila lahir nanti, aku janji akan menjadi bapak yang baik untuk dia.”
Sungguh, jawaban tenang dan menghangatkan itu mengguncang tubuh Fana Ismi. Ia memeluk tubuh suaminya erat dan sangat erat. Ia tidak ingin pergi lagi dari genggaman suaminya, ia hanya ingin bersama Anggi Kusuma selamanya. Anggi Kusuma sangat baik dan ia juga seorang suami yang baik.
***
Dan saat Anggi Kusuma berjalan-jalan dengan Fana Ismi ke dermaga. Fana Ismi pun mengindamkan cilok, membuat Anggi Kusuma celingak-celinguk dan pontang-panting mencari tukang cilok. Ia pergi tuk membelikan istrinya sebungkus cilok.
Dan dikala itu pula, Fana Ismi kembali berjumpa dengan Gemala. Anggi Kusuma sadar Gemala menghampiri istrinya, namun, ia tidak berbuat apa-apa, malah kian menjaga jarak, selagi penyair itu tidak melakukan hal jahat pada Fana Ismi. Gemala meminta maaf pada Fana Ismi dan berjanji akan selalu menunggu kedatangannya. Dan entah mengapa, Fana Ismi pun menyanggupi.
“Apa kamu ingin lari dariku?” tanya Anggi Kusuma selepas mereka pulang dari dermaga.
Fana Ismi cepat-cepat menggeleng-gelengkan kepala. Ia heran, mengapa suaminya menanyakan pertanyaan semacam itu.
“Maaf, aku tadi melihatmu bersama penyair itu,” lanjut Anggi Kusuma. Sehingga membuat Fana Ismi sadar, akan pertanyaan sebelumnya. “Bila kamu masih mencintai penyair itu, pergilah, aku pun akan merelakanmu. Semua itu kulakukan, lantaran aku sangat mencintaimu. Aku bahagia bila kamu bahagia.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, Fana Ismi dihadapkan dua pilihan yang tidak pernah ia inginkan. Mana mungkin ia memilih satu dari lelaki itu, sementara ia pun mencintai keduanya. Gemala memang menarik, namun, Anggi Kusuma juga sangat baik. Anggi Kusuma mencintainya setulus hati, namun, diam-diam Fana Ismi masih menyimpan rasa pada Gemala. Dan, “Hem ...” belum jua Fana Ismi menjawab, perutnya seketika sakit. “Aduh, perutku sakit. Perutku sakit, Mas.”
Anggi Kusuma panik. Ia membopong tubuh Fana Ismi dan ia larikan ke rumah sakit. Di rumah sakit, ia juga menemani persalinan istrinya. Kemudian hal tidak terduga pun datang, Anggi Kusuma pun dihadapkan oleh dua pilihan, memilih sang istri atau bayi yang bukan anak kandungnya. Ia tidak bisa memutuskan, sebab, ia memutuskan untuk memberikan sebuah keputusan pada sang ibu itu sendiri.
“Mas,” panggil Fana Ismi begitu lirih dan lemas. “Apa kamu masih mencintaiku.”
Anggi Kusuma mengangguk cepat dengan air mata berlinang.
“Syukurlah bila kamu masih mencintaiku, Mas. Mas, maukah kamu mengabulkan permintaanku?”
Lagi-lagi Anggi Kusuma hanya dapat mengangguk. Ia tidak mampu berkata-kata melihat keadaan istrinya yang kritis.
“Temui Gemala, Mas,” ucap Fana Ismi kemudian. “Katakan selamat tinggalku padanya, dan berikan bayi yang kulahirkan ini padanya.”
“Ke.. kenapa? Ke... ke... kenapa aku harus me... memberikan bayi itu pada penyair itu?” tanya Anggi Kusuma akhirnya membuka mulut.
“Karena bayi itu adalah bayi Gemala, Mas. Itu bukan bayimu. Aku tidak mau menyusahkanmu bila harus merawat bayi itu.”
“Ba... baiklah,” balas Anggi Kusuma menyetujui, yang disambut dengan senyuman oleh Fana Ismi. Anggi Kusuma terlalu pecundang, dan bahkan, ia tidak berani berkata ‘tidak’ pada perempuan yang sangat ia sukai.
Anggi Kusuma benar-benar cemburu, sebab, di akhir hidupnya, Fana Ismi masih berusaha tuk menyebut nama Gemala.
Bayi itu pun lahir, ditukar dengan nyawa Fana Ismi itu sendiri. Anggi Kusuma menghampiri bayi itu dengan langkah gontai, ia mencoba menimang bayi itu barang sejenak. Bayi itu tersenyum melihat janggut Anggi Kusuma. Senyuman bayi itu, mengingatkan Anggi Kusuma pada senyuman Fana Ismi. Bayi itu lebih terlihat seperti Fana Ismi daripada Gemala.
Anggi Kusuma berniat merawat bayi itu seorang diri, ia tidak akan menyerahkan bayi itu pada Gemala. Ia memang menemui Gemala, tapi ia tetap tidak menyerahkan bayi itu. Ia telah mengingkari janjinya dengan Fana Ismi, ia juga berbohong soal kematian bayi itu terhadap Gemala.
__ADS_1
Anggi Kusuma pun memutuskan tuk tinggal di pemakaman umum bersama bayi itu, sebagai hukuman bagi diri sendiri, lantaran telah menyia-nyiakan hidupnya bersama Fana Ismi.
Anggi Kusuma hendak memberi nama bayi itu. Ia mengangkat bayi itu tinggi-tinggi, dan memekik, “Kumal Aksara.” Ia pun memberi nama bayi itu Kumal Aksara. Hingga datang suatu waktu, tatkala ia mendengar kabar kematian Gemala di atas panggung, ia pun merasa bersalah. Merasa bersalah karena membiarkan Gemala mengutuk dirinya sendiri. Anggi Kusuma pun menambahkan nama ‘G.’ pada anak angkatnya itu, sebagai tanda bahwa Kumal Aksara adalah putra dari Gemala. G. Kumal Aksara, hidup sebagai penyair seperti ayahnya.