
Macam pergi ke resepsi, Kumal bersolek rapi di hadapan kaca, dengan debar jantung yang kian ribut dan berbunyi dor-doran. Hari ini adalah hari di mana ia dengan Arin akan mengadakan sebuah kencan. Kata ‘kencan’ jauh-jauh hari terus bergentayangan dalam kepala Kumal.
Ia tidak sabar hendak bersua dengan Arin, teman masa kecil dan kemudian menjadi cinta pertamanya. Dan sebentar lagi, ia akan melihat senyuman perempuan itu lagi, senyuman madu yang membikin candu. Senyumannya macam lorong waktu tuk kembali ke masa kanak-kanak .
Masa di mana ia bertemu dengan Arin. Arin yang menjengkelkan, Arin yang pemarah, dan Arin yang pemberani. Ia ingat, bagaimana Arin kerap menyebutnya sebagai seorang pecundang. Ia juga ingat, bagaimana Arin mengajarkan ia membaca dan menulis namanya sendiri. Semua kenangan itu, membuat ia mesem-mesem sendiri di depan kaca.
Dan Hantu Cantik yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh Kumal pun kini mendekat. Secepat mungkin Kumal melepas mesem kesengsem itu, ia pura-pura membenarkan dasi, agar tidak kentara bahwa ia sangat senang dan tidak sabar berjumpa dengan Arin.
Fana Ismi melayang di sisi kanan Kumal, ia tengkurap, memangku dagu dengan tangan dan mengayunkan kakinya di udara. Hantu itu memperhatikan Kumal yang sedang bersolek, dan hal itu tidak mengenakkan bagi Kumal. Ia merasa canggung bila diperhatikan semacam itu. “Kenapa kamu memperhatikanku seperti itu?” tegur Kumal.
“Mengapa? Apa itu salah?” balas Fana Ismi tidak mau tahu.
Kumal pun tidak memiliki alasan untuk menegur lagi. Ia pun sadar, memang tidak ada yang salah dari perihal memperhatikan. Hantu Cantik punya hak untuk memperhatikan bahkan guling-guling di udara. Hanya saja, lagi-lagi Kumal merasa canggung dipandang dengan tatapan manis seorang hantu.
Ia pun mencari topik lain. “Oh iya, Fi, waktu itu kamu kan pernah bilang, bahwa tidak semua orang meninggal akan menjadi hantu. Orang meninggal akan menjadi hantu, bila ada urusan yang belum terselesaikan tatkala masih hidup. Benar, bukan?”
Fana Ismi mengangguk cepat membenarkan.
“Jadi, kenapa kamu menjadi hantu? Urusan apa yang belum kamu selesaikan di dunia?”
Untuk sejenak Hantu Cantik diam, kenangan masa lalu ketika masih hidup, merembes masuk ke dalam ruh hantunya. Lelaki itu, lelaki itu kini tergambar jelas dalam kepalanya. Ia pun menjawab dengan nada sedikit pilu, “Aku hanya ingin mengatakan selamat tinggal pada kekasihku.”
Kumal mengangguk seolah mengerti.
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Hem ... entahlah, aku hanya penasaran.”
“Apa kamu ingin membantuku untuk menyelesaikan urusan duniawi itu?” desak Fana Ismi menyadari bahwa pertanyaan Kumal kali ini Cukup langkah.
“Aku tidak bilang ingin membantu.”
“Lalu?” lanjut Hantu Cantik sedikit kesal akan jawaban dingin itu. “Lalu mengapa kamu menanyakan hal itu bila ujung-ujungnya tidak ingin membantu?”
“Hem... aduh!” pekik Kumal sembari menepuk jidat. Tingkah aneh itu semakin membuat mata Fana Ismi berbinar-binar lantaran penasaran. “Aku lupa, aku lupa ada kencan dengan Arin hari ini. Dan aku sudah nyaris telat,” lanjut Kumal membuat mulut Hantu Cantik monyong.
Selepas melihat arloji di tangan kanan, ia pun pergi dengan tergesa-gesa, dan detak arloji pun bersilaju dengan debar jantung Kumal.
__ADS_1
***
Arin menunggu cukup lama di kafe itu, seorang diri, dengan perasaan gelisah dan kurang percaya diri. Mungkinkah Kumal membaca surat dariku? Mungkinkah ia mau berkencan denganku? Mungkinkah ia datang hari ini atau malah mungkin tidak? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Arin cemas.
Namun, tidak lama setelah Arin merasa khawatir Kumal tidak akan datang, ia pun melihat seorang pria rupawan dengan baju rapi tampak mendorong daun pintu kafe. Pria itu melambaikan tangan pada Arin. Arin melempar senyum tatkala menyadari, pria itu adalah sosok sahabat kecilnya, Kumal. Mereka pun kembali bertemu sebagai dua ekor merpati bersua di atas bubungan.
“Sudah lamakah kamu menunggu, Arin?” tanya Kumal kala tubuh mereka telah bersisian.
“Ti... ti... tidak kok!” balas Arin sedikit gugup, lantaran terlalu terpesona melihat penampilan Kumal yang berubah drastis.
Arin pun mempersilakan Kumal untuk duduk. Duduk mereka berhadap-hadapan. Saling memandang muka satu sama lain membuat mereka berdua menjadi canggung. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana dan siapa yang harus memulai terlebih dahulu. Mereka duduk dalam diam, duduk dengan kaki gelisah dan raut mulai menegang.
Kumal sendiri yang berencana menyatakan cinta, tidak tahu harus mengawali pembicaraan dengan topik apa. Ia terlalu gugup dan takut. Keberaniannya terhadap perempuan seketika lenyap bila dihadapkan dengan perempuan yang sangat ia cintai. Syair-syair Gemala yang telah ia siapkan, seketika luruh dan raib. Kepala Kumala tetiba meranggas tak meninggalkan satu kata pun.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu hanya membisu dan kenapa juga perempuan itu ikut membisu? Kamu harus berbicara barang sepatah kata pun, kalau tidak, kencan ini akan menjadi berantakan,” bisik Hantu Cantik setelah sedari tadi hanya mengekori dan mengawasi jalan kencan ini.
“Ha?” Kumal terkejut mendapati Fana Ismi melayang di sisinya. Sedari tadi, lantaran terburu-buru, ia pun tidak menyadari, bahwa Hantu Cantik mengekorinya hingga ke kafe ini. “Kenapa kamu di sini?” tanya Kumal kemudian.
“Tentu saja aku mengikutimu. Aku bosan di kontrakan sendiri, jadi aku putuskan untuk mengikutimu. Siapa tahu kamu butuh bantuanku.”
“Aku tidak butuh bantuanmu!” bentak Kumal. “Kamu tahu, ini adalah kencanku.”
“Lalu kenapa kamu malah menggangguku”
“Aku tidak menggaggumu.”
Fana Ismi dan Kumal pun kembali bercekcok dan terus bercekcok. Kumal lupa, bahwa ia berada di suatu kafe dan sedang menjalani kencan bersama Arin.
Arin pun bertanya-tanya, apa yang dibicarakan dan pada siapa Kumal berbicara. Dari pandangan Kumal, Arin pun tahu, Kumal tidak sedang berbicara dengannya. Tapi pada siapa? Arin kebingungan. Arin tidak bisa melihat hantu, sehingga dalam pikirannya, Kumal sedang meracau sendiri. Karena cemas, ia pun menanyakan kejanggalan itu pada Kumal sendiri, “Mal, kamu berbicara dengan siapa?” tanya Arin ragu-ragu.
Tentu saja Kumal tersentak, ia pun kembali sadar, bahwa ia sedang menjalani kencan dengan perempuan yang sangat ia sukai. Kumal menghentikan percekcokannya dengan Fana Ismi, ia beralih memandang Arin Lagi. “Maafkan aku, Rin. Aku tidak bermaksud untuk menghiraukanmu dan malah bercekcok dengannya.”
“Bercekcok?” Arin semakin penasaran. “Kamu bercekcok dengan siapa, Mal.”
Kumal menepuk jidat karena kebodohannya. Ia lupa bahwa Arin tidak bisa melihat hantu dan ucapannya barusan telah merumitkan masalah yang sudah pelik. Ia ingin mengatakan, bahwa ia sedang bercekcok dengan hantu. Namun, ia tidak mau kejadian yang pernah ia alami bersama Bu Yunit terulang lagi. Ia tidak mau Arin pergi lantaran merasa takut. “Maafkan aku, Rin. Aku tidak bisa menjelaskannya, karena mungkin kamu tidak akan mengerti.”
“Tidak mengerti?” tanya Arin dengan nada berbeda. Ia menatap Kumal dengan tatapan serupa anak panah yang hendak memelesat dari busurnya. Suasana terlihat sedikit mencekam. “Kamu merendahkan aku, Mal. Apa hanya karena aku cuma lulusan SMA dan kamu adalah seorang sarjana, sehingga kata-katamu tidak bisa kumengerti. Itu terlalu naif, Mal!”
__ADS_1
“Bukan itu maksudku, Rin.” Kumal jadi salah tingkah dan semua yang ia lakukan menjadi serba salah.
Arin tidak mau tahu penjelasan Kumal, ia sudah kadung marah. Ia pun menatap Kumal dengan tatapan kecewa, ia berdiri, hendak pergi dari kafe itu.
“Apa kamu tidak ingat ajaran mendiang bapakmu untuk selalu bersikap lembut pada perempuan. Kamu masih belum berubah, Mal, kamu masih sama ketika aku bertemu denganmu pertama kali. Kamu masih seorang pecundang! Bahkan, kematian Paman Anggi, itu karena sifat kepencudanganmu.”
Kata-kata terakhir Arin membuat Kumal bergeming, ia tidak bisa apa-apa di hadapan kenangan jahat di masa lalu yang kelam. Kata-kata Arin ada benarnya, ia masihlah seorang pecundang. Bahkan, ia tidak kuasa menghentikan langkah Arin yang pergi dan berlalu di hadapannya dengan berlinang air mata.
Dan Hantu Cantik malah terkekeh-kekeh melihat kejadian lucu barusan. Fana Ismi lupa, bahwa Arin adalah sosok yang sangat Kumal dambakan. Ia juga tidak sadar, bahwa ada perubahan dahsyat dalam raut Kumal setelah Arin pergi. “Kenapa kamu tertawa?” tanya Kumal dengan nada lirih.
“Tentu karena lucu,” ucap Hantu Cantik keceplosan.
“Lucu? Jadi bagimu, semua ini lelucon yang pantas ditertawakan!”
Mendengarkan nada Kumal yang tinggi, Fana Ismi pun merasa bersalah. Kini ia tahu, bahwa hati Kumal benar-benar tercabik-cabik. Ia menyesal karena sudah tertawa di atas penderitaan orang lain. “Apa kamu marah?” tanya Hantu cantik hendak sendikit marah.
“Tentu saja aku marah! Apa kamu tidak lihat raut ini, ha?!”
“Maafkan aku, Mal. Aku tidak bermaksud untuk menertawakan semua ini. Kukira ...”
“Kamu kira apa?” potong Kumal dengan kepala nyaris meledak. “Kamu kira, maaf saja dapat mengembalikan keadaan, ha?!”
Fana Ismi sungguh sangat merasa bersalah. “Maaf, Mal. Semestinya tadi aku tetap di kontrakan saja. Semestinya aku tidak mengikutimu sampai ke sini. Maaf, Mal, hanya ini yang dapat kukatakan. Maaf, Mal, bila maaf saja tidak akan mengubah keadaan.”
Dada Kumal masih mendidih karena marah. Belum cukup membentak Hantu Cantik, ia pun kembali memarahi, “Ya, semestinya kamu tidak mengikutiku. Semestinya kamu tidak mengikutiku dari awal. Semestinya kamu tidak ada dalam hidupku! Kamu hanya hantu, semestinya kamu kuanggap seperti tidak pernah ada! Ya, kamu hanya hantu pengganggu!”
Kalimat kasar itu benar-benar meluluhlantakkan hati Fana Ismi yang selama ini telah terpatri. Perih juga sesak. “Maafkan aku, Mal ....” pekik Hantu Cantik tidak kuasa menahan tangis. “Tapi kata-katamu barusan sungguh jahat.”
Orang-orang di kafe itu pun hanya diam menyaksikan. Tidak ada dari mereka yang berani mendekat. Mereka menyaksikan fenomena pria itu dari awal. Semua orang melihat Kumal sebagai si gila yang hatinya hancur karena terlalu tergila-gila pada perempuan sebelumnya. Semua orang menduga, Kumal baru saja ditolak oleh Arin. Mereka mengira, Kumal mengoceh dan marah-marah sendiri karena tidak terima akan penolakan itu.
“Jahat katamu?” ujar Kumal lagi. “Kamu yang jahat! Kamu... sangat jahat padaku!” tikam Kumal pada Fana Ismi dengan jari telunjuknya. “Lebih baik kamu pergi. Pergi! Dan jangan pernah lagi menampakkan wajah hantumu itu!”
Pergi! Pergi! Pergi! Kata itu menggema di kepala Hantu Cantik. Ia pun harus sadar diri. “Baiklah, aku akan pergi, Mal. Aku tidak akan menunjukkan wajah burukku ini lagi di hadapanmu. Aku janji. Tapi kumohon, Mal, maafkan aku meski terlalu berat.”
Fana Ismi melayang pergi dari kafe itu. Ia telah memutuskan untuk tidak bertemu dan mengganggu Kumal lagi. keyakinan mereka untuk selalu bersama pun tercerabut dari akar kepercayaan.
Umpama air terjun, tangis pun melintasi jeram derita hingga ke relung dada Kumal yang sesak. Ia tidak bisa menghentikan langkah Arin yang berlalu pergi. Ia juga tidak bisa menghentikan langkah Hantu Cantik yang melayang pergi. Ia tidak bisa apa-apa dan ia benar-benar masih pecundang.
__ADS_1
“Maafkan aku, Pak, maafkan anakmu ini yang terus saja menjadi pecundang!” ratapnya. Kumal tidak bisa memenuhi empat ajaran bapak. Ia gagal menjadi anak yang tangguh. Kini Ia malah menangis. Ia juga tidak bisa bersikap lembut pada perempuan. Dan ia masih menjadi pecundang.