PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
BERHENTILAH BERSIKAP SEPERTI HANTU


__ADS_3

Rentetan kejadian semalam sungguh menciptakan pening di kepala Kumal. Perihal di luar nalar, mengundang sejumlah kunang-kunang mengitari matanya. Ia mencengkeram rambutnya dengan posisi kepala bertongkat tangan.


Ia setengah tidak percaya dan setengah waswas, semalam, tetiba Pak Tua datang membuka mata batinnya, ia berjumpa dengan Hantu Cantik, ia juga dikejar-kejar hantu buruk rupa, bahkan sekarang, Hantu Cantik yang ia temui sedang tidur nyenyak di atas kasurnya.


Kumal seperti dihadapkan oleh sebuah jalan terjal beserta jebakan-jebakan yang telah menunggunya. Sial! Kenapa aku malah diam saja saat pak tua itu seenaknya membuka mata batinku? Mengapa semalam aku tidak sadar lebih awal bahwa perempuan cantik yang kutemui di atas nisan kuburan sebenarnya adalah hantu? Dan kenapa juga aku dengan gampang mengiyakan saat hantu cantik itu memohon agar membawanya pulang ke kontrakan? Oh, pikiran semrawut berhasil membuat dahi Kumal terombang-ambing bagai ombak menghantam batu karang di tepi pantai.


Sementara itu, di tengah badai dalam kepala Kumal, Hantu Cantik bangkit dari kasur dan merasakan tenaganya telah sepenuhnya pulih. Hantu Cantik mengucek-ucek matanya, menggaruk tubuhnya yang sedikit gatal, membenarkan rambut yang sudah awut-awutan, dan sesekali ia pun menguap lebar. Hantu itu, persis seperti anak perempuan biasa yang baru saja bangun dari mimpi yang sedikit indah.


Hantu Cantik menoleh ke arah Kumal yang memunggunginya. Hantu itu memiringkan kepala, terlihat dari sepasang matanya, seorang pemuda duduk membungkuk dan menopang kepala dengan tangan. Pemuda itu tampak banyak pikiran dan membebani dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran itu. Manusia memang begitu, Hantu Cantik membatin, semua hal ia pikirkan.


Hendak berterima kasih karena memberi tempat untuk berpulang, Hantu Cantik pun melayang ke telinga pemuda itu, dan mencoba menggoda Kumal dengan suara dibuat lembut, “Mengapa kamu terlihat cemas?”


Kumal nyaris terjungkal dan ia mendadak pucat. Ia masih belum terbiasa dengan para hantu, apalagi dengan Hantu Cantik di rumahnya. “Kamu membuatku kaget,” sahut Kumal kemudian, setelah ia mulai sedikit tenang dengan menyadari bahwa hantu di rumahnya tidak berbahaya juga tidak terlalu menakutkan. “Berhentilah bersikap seperti hantu.”


“Aku kan memang hantu!” jerit Hantu Cantik. Ia terlihat kesal. Ia berkacak pinggang dan memoncongkan mulutnya di udara.


“Aku tahu kamu hantu, maka dari itu aku menyuruhmu untuk berhenti bersikap seperti hantu, sehingga aku benar-benar lupa bahwa kamu adalah hantu.”

__ADS_1


“Kenapa kamu memberi perintah padaku?!”


“Karena aku tuanmu.”


“Sejak kapan kamu menjadi tuanku?”


“Sejak kamu memutuskan untuk mengekoriku hingga ke rumah.”


Hantu Cantik menggerutu sebal, ia memang berterima kasih pada pemuda itu karena telah menolongnya dari kejaran hantu cari jodoh dan juga telah membawanya pulang. Namun, perihal itu tidak dapat dijadikan sebagai alasan, bahwa pemuda itu kini menjadi tuannya. Ia tidak akan pernah ingin memperbudak diri pada manusia, sebab dulu ia juga adalah manusia.


Hantu Cantik mengangkat jari telunjuknya, lantas mengarahkan tepat ke arah dahi Kumal, dan ia juga menatap pemuda itu dengan sangat tajam. “Hai, Bocah! Berhentilah kamu bersikap seperti dukun!” rutuk Hantu Cantik, nyaris membuat nyali Kumal ciut.


“Aduh...,” Hantu Cantik mengacak-acak rambutnya karena terlalu kesal. “Lantas aku harus bagaimana?” lanjut Hantu Cantik sedikit pasrah.


“Bersikaplah seperti perempuan-perempuan biasa pada umumnya.”


“Ha?!” Hantu Cantik melongo.”Apa kamu keranjingan setan?!”

__ADS_1


“Bukankah kamu juga setan!”


“Aku terlalu cantik untuk menjadi setan.”


“Lalu?”


“Aduh...” Hantu Cantik kembali mengacak-acak rambutnya, kini rambut lurusnya kian bercerai-berai tidak karuan. “Baik. Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu.”


“Baguslah kalau kamu mengerti.”


Hantu Cantik menampakkan senyum jahat, sepertinya ia juga memiliki rencana yang cukup jahat. Ia melayang dan duduk di sisi Kumal, menggandengkan tangannya dengan tangan pemuda itu, lantas kemudian ia bersandar di bahu Kumal. “Ini kan yang kamu mau dari perempuan?” goda Hantu Cantik membuat lidah Kumal kelu dan tidak bisa berkata-kata.


Pipi Kumal seketika memerah, dingin tubuh hantu, membuat debar jantung Kumal mirip suara kentung yang dipukul keras-keras.


“Ka... ka.. kamu...”


“Sudahlah, Bocah, jangan banyak mengoceh,” potong Hantu Cantik pada lontaran kata Kumal yang terputus-putus. Hantu Cantik itu semakin mempererat gandengannya.

__ADS_1


“Jangan panggil aku bocah lagi. Namaku Kumal. G. Kumal Aksara. Dan ....”


“Dan kamu bukan pecundang!” potong Hantu Cantik lagi, benar-benar membuat dadanya terbakar karena gesekan sesak yang nikmat. Mereka pun terbuai oleh sebuah gandengan antar alam, alam manusia dan alam hantu. Mereka tidak bisa berpikir jernih. Angin sengaja membelai keduanya, untuk kembali memejamkan mata, meski pun hari masih terlalu pagi. “Baiklah, Kumal, aku mengerti,” igau Hantu Cantik dalam tidurnya.


__ADS_2