
“Aku tidak akan mencarinya dan mengajaknya kembali,” ucap Kumal angkuh, sehabis membanting daun pintu kontrakan. Pemuda itu terlalu yakin, bahwa hidupnya akan lebih nyaman bila tanpa Hantu Cantik.
Ya, untuk beberapa hari ia menikmati kesendiriannya. Ia dapat leluasa merebahkan tubuh di atas kasur, tanpa harus berbagi dengan siapa pun. Ia tidak usah payah-payah lagi menghindari kamar mandi, lantaran tidak akan ada lagi perempuan yang mandi di kontrakan dan membuat tubuhnya gemetaran.
Ia tidak perlu cemas besok makan apa, sebab mulai sekarang ia akan makan sendiri dan terus sendiri. Ia bisa tenang menulis syair-syair dan mengejar impiannya, tanpa khawatir ada sosok hantu yang selalu mengusili dan mengganggu. Ya, semua berlangsung dengan baik-baik saja beberapa hari ini.
Namun, selepas dua minggu kepergian Fana Ismi, ia merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Saban malam, ia pun kerap kedinginan, menggigau nama Fi berkali-kali. Ia tidak nafsu makan, mandi pun ia jarang. Ia juga kerap melihat bayang-bayang tubuh Hantu Cantik melayang-layang. Sekelabat tubuh Fana Ismi terus mengintainya, bak ribuan peluru hendak menyerbu.
Kumal mulai merindukan hantu itu. Ia tidak bisa hidup tanpa Fana Ismi. Meski hanya sesaat ia bersamanya, namun, kenangan indah telah berserakan di kepalanya. Ia ingin Hantu Cantik itu kembali, dan ia yakin, Fana Ismi akan kembali, mengingat perempuan itu adalah hantu. “Ia pasti kembali, ha-ha, ia pasti kembali,” racaunya sembari tersenyum yakin dan penuh harap.
Saban hari, Kumal duduk di teras kontrakan menunggu kedatangan Hantu Cantik. Terkadang ia kepanasan, kadang pula ia kedinginan. Terkadang ia kelaparan, kadang pula ia ketiduran. Terkadang ia senyum-senyum sendiri membayangkan Fana Ismi kembali, kadang pula ia bersedih lantaran Hantu Cantik belum menampakkan bola matanya yang bak rasi bintang di dalam kolam.
Ia tidak tahu harus menunggu sampai kapan, yang bisa ia lakukan saat ini adalah menunggu dan menunggu. Ia menyesal telah berbicara kasar pada Fana Ismi, ia juga menyesal telah menyalahkannya untuk menyembunyikan kesalahannya sendiri. Seharusnya ia tidak mengusir Hantu Cantik kala itu, namun, meski bagaimana pun di kafe kala itu, Kumal benar-benar kalap. Ia bagaimana tahu, bahwa saat ini ia merasa sangat kehilangan, melebihi rasa kehilangan terhadap Arin. Ia sadar, ia lebih membutuhkan Fana Ismi daripada Arin. Ya, meski Fana Ismi hantu sekali pun.
Kemudian suatu ketika, Kumal melihat seorang perempuan berpakaian pasien di jalan depan kontrakan. Ia mengira, perempuan itu adalah Hantu Cantik. Betapa bahagia Kumal melihat perempuan itu, ia seperti kembali hidup, senyum tersungging dan mata berbinar-binar.
__ADS_1
Kumal melambaikan tangan dan memanggil perempuan itu. Namun, perempuan berpakaian pasien itu tidak menggubris dan malah menyelonong pergi. Kumal mengejar perempuan itu dan meraih tangannya. Perempuan itu meronta hendak melepaskan diri. Akan tetapi, tentu saja Kumal tidak akan membiarkan perempuan itu pergi. Di dalam mata Kumal yang sayu, ia melihat Fana Ismi dalam diri perempuan itu. “Jangan pergi lagi, Fi. Kumohon jangan pergi. Aku sangat membutuhkanmu. Maafkan aku bila waktu itu aku membentakmu, maafkan aku, Fi. Aku janji akan selalu menuruti permintaanmu, asal kamu tidak jauh-jauh dariku. Kumohon, Fi, pulanglah ke kontrakanku,” mohon Kumal dengan mata penuh air penyesalan.
Perempuan itu terus meronta dan tidak mau menurut. Ia mengayun-ayunkan tangannya, ia mencoba tetap lari, bahkan ia juga loncat-loncat demi melepaskan diri dari genggaman Kumal yang cukup erat dan kuat. Tidak ada pilihan lain, pikir Kumal. Ia pun menyeret perempuan itu paksa tuk masuk ke dalam kontrakan.
Tatkala Kumal hendak membuka daun pintu, beberapa orang berbaju putih-putih juga berlari-lari di jalan depan kontrakan. Mereka semua berhenti tempo melihat Kumal menyeret perempuan itu masuk ke dalam kontrakan. “Hai pemuda lusuh, berhentilah!” pekik salah satu orang berbaju putih-putih itu. “Apa yang akan kamu lakukan pada perempuan gila itu.”
Kumal terperanjat menyadari bahwa orang-orang itu dapat melihat hantu. “Apa kalian semua juga memiliki mata batin?!”
“Mata batin? Apa maksudmu, Anak Muda Lusuh?” tanya salah satu orang agak heran.
“Apa kalian dapat melihat aku sedang membawa hantu ini?”
“Berarti kalian semua memiliki mata batin,” ujar Kumal seolah bertemu dengan orang-orang senasib. “Hantu cantik ini adalah temanku, ia menghilang beberapa minggu ini.”
“Apa maksudmu perempuan gila itu adalah temanmu? Apa kamu sinting, Anak Muda Lusuh?”
__ADS_1
“Gila? Sinting? Apa kalian menyebutku sinting?”
“Tentu saja. Orang macam apa yang mau berteman dengan orang gila yang lari dari rumah sakit jiwa. Kalau bukan sinting, apalagi namanya?” sindir salah satu orang berbaju putih itu. Mereka terheran-heran melihat tingkah aneh Kumal. Ia menduga, Kumal juga memiliki penyakit kejiwaan.
Dan Kumal lebih terjelengar. Ia kembali memeriksa siapa yang sebenarnya ia seret barusan. Ia mengucek-ucek matanya, saat ia pun mulai menyadari perempuan itu bukan Fana Ismi, ia pun terjungkal ke belakang lantaran terkejut.
“Kenapa denganmu sekarang, Anak Muda Lusuh?” tanya orang berbaju putih itu lagi, melihat perubahan raut Kumal, dari berbinar-binar menjadi ketakutan.
“Apa kalian semua adalah perawat dari rumah sakit jiwa?” tanya Kumal kemudian.
“Tentu saja.”
Kumal pun bersujud mengakui kesalahannya. “Maafkan aku, kukira perempuan itu adalah temanku, ternyata bukan.”
Kumal merasa malu dan bersedih. Perempuan dengan rambut acak-acakan dan muka penuh cemong itu ia kira adalah sosok Fana Ismi hanya lantaran memakai pakaian pasien. Ternyata ia hanya orang gila yang lari dari rumah sakit jiwa dan dikejar-kejar perawat. Ia malu karena salah mengira. Ia juga bersedih mendapati kenyataan bahwa Hantu Cantik tidak akan kembali.
__ADS_1
Perawat-perawat itu pun mengambil alih si perempuan gila, mereka menyeret si perempuan gila tuk kembali ke rumah sakit. Mereka berlalu dari hadapan Kumal, meski masih menyimpan curiga, bahwa Kumal juga memiliki penyakit kejiwaan. Ya benar, tanpa Fana Ismi, Kumal benar-benar terlihat seperti orang gila yang tidak punya tujuan hidup lagi.
Kumal tidak tahu harus menunggu Hantu Cantik berapa lama lagi. Sementara itu, rindu telah merambat hingga ubun-ubun. Ia akan benar-benar menjadi gila bila tak sesegera mungkin berjumpa dengan Fana Ismi lagi. Ia harus mencari perempuan itu. Ya, ia harus mencari Hantu Cantik dan mengajaknya tuk kembali hidup bersama.