
Kumal telah membulatkan tekad untuk mencari Fana Ismi. Ia tidak bisa hanya duduk-duduk menunggu dan menunggu. Ia membutuhkan kehadiran Hantu Cantik, tanpanya, ia hanya akan menambah beban luka berkepanjangan.
Pencarian pertama, Kumal mencoba kembali ke pemakaman umum tempat mereka awal bertemu. Ia mencari ke sudut-sudut pemakaman, tempat keranda, kuburan demi kuburan, semak-semak, ia tetap tak menemukan keberadaan Fana Ismi. Pemakaman itu hampa, serupa batok kepala kering yang melompong.
Namun, tiada alasan bagi Kumal untuk menyerah. Bila di pemakaman umum itu Hantu Cantik tiada, maka ia hanya perlu mencari ke pemakaman-pemakaman lain. Kumal hendak mencari sampai benar-benar berjumpa dengan Fana Ismi lagi. Ia akan selamanya mengutuk diri, bila pulang dengan tangan kosong melompong.
Kumal mencari Hantu Cantik di pemakaman-pemakaman desa. Nihil, hanya ada beberapa hantu dan itu bukan Fana Ismi. Belum puas, Kumal mencari ke desa lain, hingga akhirnya ia pun pergi ke kota. Ia mencari Hantu Cantik di kota, tidak ada satu pun pemakaman yang ia lewatkan. Ia menggeladah segala kuburan yang ada, macam mencari semut di lubang semut.
Dari pemakaman ke pemakaman lain, dari desa hingga ke kota, dan dari pagi hingga malam, Kumal belum jua mendapati tubuh Fana Ismi. Ia tidak tahu harus ke mana lagi, tiap-tiap kuburan telah ia jejaki, tiap-tiap desa dan kecamatan telah ia susuri, akan tetapi Hantu Cantik masih belum tampak senyumannya.
Apa ia sengaja bersembunyi? Apa ia telah pergi ke luar kota? Dan apakah telah terjadi sesuatu padanya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu melayang di kepala Kumal. Ia duduk di suatu nisan kuburan, putus asa dan nyaris menangis.
Kemudian Kumal ingat suatu kejadian, kejadian di mana ia bertemu dengan Fana Ismi hingga hantu itu memutuskan untuk ikut bersamanya. Terdapat sosok hantu buruk rupa yang telah mengejar Hantu Cantik. Fana Ismi bilang, ia adalah Padel, hantu gemuk dengan rupa buruk dan sudah berada di dunia ini berabad-abad lamanya.
Mungkinkah Hantu Cantik telah berhasil diculik oleh Padel? Pertanyaan itu lebih masuk akal di telinga Kumal. Namun, ke mana ia harus mencari hantu buruk rupa itu? Ia tidak tahu, ke mana pula Padel membawa Fana Ismi? Kumal masihlah pengguna mata batin pemula, sehingga ia pun belum sepenuhnya mengerti seluk-beluk dunia perhantuan.
Kumal pun kembali duduk di atas nisan. Ia seperti kehilangan gairah, tidak punya tenaga sama sekali, lantaran pemuda itu tidak memiliki satu petunjuk pun baik untuk mencari Hantu Cantik maupun Padel. Ia bagai tengkorak di padang pasir, tidak memiliki harapan juga tujuan yang jelas.
Di pemakaman yang dingin dan sedikit lengang itu, Kumal benar-benar merasa kesepian. Ia butuh Fana Ismi guna menemani hari demi hari. Namun, bukan Fana Ismi yang Kumal dapati, malah isak tangis seorang perempuan. Ya, di pemakaman itu, Kumal tidak sendiri, masih ada seseorang yang menghuni pemakaman.
Kumal memasang telinga baik-baik, dan ya, isak tangis itu bukanlah sebatas halusinasi. Isak awan kelabu itu telah menyelimuti pemakaman dan memeras senyap. “Tapi siapakah yang menangis, malam-malam begini, di kuburan pula,” gumam Kumal penasaran. Ia pun berusaha mencari asal suara tangisan itu.
Tangisan itu berasal dari tempat keranda, namun dari kejauhan, tidak ada perempuan bahkan satu orang pun di tempat itu. Kumal mencoba mendekat, celingak-celinguk mencari sang pemilik tangisan. Lamun, ia tidak mendapati seorang pun. Ia mencoba untuk lebih menghayati tangisan itu, lembut dan menggema, suara itu berasal dari bawah tanah.
Tempo Kumal berdiri di tempat keranda itu, tangisan misterius itu terdengar kian jelas. Kumal mencoba untuk menunduk, terdapat sebuah ruangan di bawah tanah. Sepertinya ruangan itu memang sengaja dibangun sebagai gudang penyimpanan. Ruangan itu memiliki pintu yang mendongak ke atas juga lubang kecil guna melihat ke dalam.
Kumal hendak mengintip, di dalam gelap gulita, ia gunakan senter guna melihat isi dari ruangan itu. Kumal melihat seorang perempuan, perempuan dengan rambut panjang dan berkimono. Perempuan itu menghalangi matanya dengan tangan, lantaran merasa silau oleh sorot lampu senter.
“Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Kumal sedikit memekik.
Perempuan itu mengucek-ucek matanya, lantas balik bertanya, “Siapa kamu? Apa kamu datang untuk menciumku.”
“Mencium? Kenapa aku harus menciummu? Dan untuk apa aku menciummu?”
“Semua lelaki yang datang pada perempuan, semua demi bercinta dan berciuman.”
“Ha, mana mungkin aku mau mencium perempuan yang belum kukenal,” ucap Kumal agak gusar. “Aku bukanlah lelaki murahan.”
“Baiklah, aku juga tidak yakin kamu mahir berciuman.”
Kalimat perempuan itu sungguh membuat Kumal berang. Perempuan itu tidak memiliki sopan santun, ia juga sengaja meremehkan Kumal.
“Hem... jika kamu tidak datang untuk berciuman, mungkin kamu datang untuk menolongku,” lanjut perempuan itu terlalu percaya diri.
“Aku tidak bilang hendak menolongmu.”
“Lalu?” rangsek perempuan itu.
“Aku hanya dibuat penasaran oleh tangisanmu.”
__ADS_1
“Apa kamu mendengar tangisanku?”
“Tentu saja aku mendengar!” hardik Kumal geram akan pertanyaan konyol semacam itu.”Tangisanmu begitu nyaring dan keras.”
“Ya, aku tahu. Apa kamu hantu?”
“Tentu saja bukan!” lagi-lagi pertanyaan itu membuat Kumal kesal. Namun, mendengar pertanyaan itu, Kumal bisa memastikan, bahwa perempuan itu hantu. “Apa kamu hantu?”
“Ya, aku hantu. Kalau kamu bukan hantu, berarti kamu pengguna mata batin?”
Kumal mengangguk pelan.
“Aku sangat membenci pengguna mata batin.”
Kumal sedikit kesal juga sedikit penasaran, mengapa perempuan itu membenci pengguna mata batin. “Kenapa kamu membenci pengguna mata batin?” tanya Kumal kemudian.
“Tidakkah kamu lihat, aku ada di tempat ini karena pengguna mata batin. Lantaran pengguna mata batin, aku tidak dapat lagi mendapati ciuman di pagi hari,” tutur perempuan itu begitu pelan. Ia juga bilang, tempo itu ia hanya jalan-jalan di jalan raya, kemudian pengguna mata batin datang dan menculik perempuan itu.
“Kenapa pengguna mata batin menculikmu? Apa kamu sangat berguna?” tanya Kumal sungguh penasaran.
“Tentu saja hantu sangat berguna bagi para pengguna mata batin. Mereka menggunakan kami para hantu sebagai budak pesugihan.”
“Budak pesugihan?”
“Kami para hantu dipaksa mencuri uang untuk si tuan, si pengguna mata batin itu.”
“Tapi kamu kan bukan tuyul”
“Hem ....”
“Hem saja, tidakkah kamu hendak menolong dan membebaskanku?”
“Sudah kubilang, aku tidak berniat untuk menolongmu,” ujar Kumal dingin. Ia pun berdiri, hendak pergi dari tempat itu. Ia tidak punya waktu lagi guna berurusan dengan hantu, meski ia sendiri sedang mencari sosok hantu yang sangat ia sayangi.
“Tunggu,” cegat perempuan itu. ”Aku tahu kamu orang baik, tidak sebaiknya orang baik menolong hantu baik sepertiku. Aku janji, jika kamu membebaskanku, aku akan memberikanmu sepuluh ciuman bertubi-tubi.”
“Aku tidak pernah tertarik pada ciuman hantu,” balas Kumal acuh tak acuh. Ia melangkahkan kaki semakin menjauh.
Perempuan itu pun cemas, ia takut bila seumur matinya hidup di tempat kegelapan seperti ini dan menjadi budak bagi pengguna mata batin selamanya. “Tunggu! Tunggu! Tunggu!” pekik hantu itu sehingga membuat langkah Kumal terhenti. “Kamu tahu, kenapa aku suka berbicara ciuman dan ciuman?”
Kumal menggelengkan kepala, meski gelengan kepala itu takkan tampak di mata Hantu Perempuan yang terperangkap di ruangan bawah tanah.
Hantu Perempuan tidak tahu Kumal sudah pergi atau masih ada di atas sana, tapi ia tetap bercerita seperti seorang pencerita:
Hantu Perempuan itu bernama Siti, hidup di masa tentara jepang datang ke negeri ini. Tentara jepang menculik Siti lantaran memiliki wajah ayu seperti kembang. Mereka menjadikan Siti sebagai Jugun Iunfu, perempuan penghibur untuk para tentara jepang. Kemudian, mereka mengubah nama Siti menjadi Chi, ia juga dipakaikan pakaian kimono, sehingga terlihat seperti perempuan-perempuan jepang.
Tentara-tentara hidung belang pun datang silih berganti ke kamar Chi berada, menggauli dan mencium tubuh Chi sepuas hati. Chi pun pasrah. Ia membuat hidupnya gembira, meski tidak sepenuhnya gembira. Saat tentara-tentara jepang meliburkan diri untuk datang ke kamar Chi, Chi meluangkan waktu untuk membaca dongeng-dongeng eropa. Ada tuan putri juga cinta sejati.
Chi mengharapkan cinta sejati dibalik ciuman-ciuman yang datang secara bertubi-tubi. Hingga suatu saat, seorang lelaki terpesona oleh kemahiran ciuman Chi. Ia berniat menikahi Chi. Chi bahagia, ia kira, ciuman sejati dan cinta sejati telah menampakkan hati.
__ADS_1
Namun, dugaan Chi salah, lelaki itu sudah punya istri dan menjadikan Chi sebagai simpanan. Chi sedikit sedih, tapi ia tetap senang, karena lelaki itu telah setulus hati mencintai Chi. Chi tinggal di rumah lelaki itu sebagai pembantu, dan diam-diam memberikan lelaki itu ciuman saban hari.
Akan tetapi, sepandai apa pun menyimpan bangkai, pasti akan tercium pula. Istri lelaki itu geram, melihat perselingkuhan antara suaminya dan Chi. Istri lelaki itu menyeret Chi ke gudang, sementara itu, lelaki itu hanya diam tidak berkutik. Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa saat sang istri menikam Chi dengan pisau dua belas tusukan.
Chi pun menjadi hantu. Meski jadi hantu, Chi tetap mencari dan mencari di mana keberadaan ciuman sejati itu. Oh, sungguh malang Chi, hidup mengolang-aling nasib, hingga terlempar dan terjebak di antara ************ hidung belang, lantas mati mengharap ciuman sejati.
Kumal pun terenyuh mendengar cerita Chi. Umpama batu terjatuh ke dasar air keruh, ia pun terpaksa menyelami kehidupan Chi yang rumit. Kumal mengambil batu besar di sisi kuburan dan membawa batu itu ke tempat keranda, tempat Chi terkurung. “Minggirlah, jangan sampai tubuhmu berada di bawah pintu,” Kumal memberi perintah.
Chi menurut. Kumal menjatuhkan batu besar itu tepat di atas pintu yang mendongak itu. Pintu itu hancur dan Chi dapat melayang ke luar. Chi mencium pipi Kumal, dan itu membuat pemuda itu marah. “Kenapa kamu menciumku?! Sudah kubilang, aku tidak butuh ciuman hantu!” bentak Kumal.
Chi minta maaf sembari cengengesan.
Dari kejauhan, tetiba sorot lampu senter tampak mengintai ke segala arah. “Mungkin itu tuanku,” bisik Chi membuat muka Kumal sedikit pucat.
Mereka pun berlari pontang-panting dan jempalitan menerobos semak, belukar, juga duri. Mereka menjauh dari sang pemilik sorot lampu senter itu.
"Terima kasih, kamu telah menyelamatkanku dua kali,” ulang Chi sangat berterima kasih. ”Kamu sungguh baik, aku jadi sangat ingin menciummu.”
“Berhentilah untuk hendak menciumku lagi,” balas Kumal cepat.
“Lalu dengan apa aku harus membalas kebaikanmu.”
“Tidak ada, aku tidak butuh bantuanmu,” balas Kumal lagi. Ia melangkahkan kaki untuk menjauh dari hantu itu.
“Apa yang kamu lakukan di kuburan malam\-malam begini?” tanya Chi seperti tidak mau melepaskan Kumal begitu saja.
“Aku mencari seseorang.”
“Apa dia hantu?”
“Iya, kemungkinan dia juga diculik oleh hantu.”
“Hantu diculik hantu? Apa maksudmu?”
“Nama hantu yang kucari adalah Fana Ismi, dan hantu buruk rupa yang telah menculiknya bernama Padel.”
__ADS_1
“Padel si mesum? Aku tahu di mana ia berada,” ucap Chi penuh semangat. Membuat langkah Kumal terhenti. Benar\-benar terhenti.