PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
APAKAH KAMU MERAGUKAN CINTAKU?


__ADS_3

Kini, Kumal benar-benar ketakutan. Matanya mendadak sayu, mukanya mendadak pucat, bahkan tubuhnya seketika menggigil. Ia resah dan gelisah, ia sangat mencintai Hantu Cantik dan ia pun takut kehilangan.


Bila ia mengantar Fana Ismi ke kuburan Gemala, maka Hantu Cantik pun menghilang dari muka bumi ini. Sebab, perihal yang membuat Fana Ismi menjadi hantu dan tetap ada di dunia ini, lantaran ada perihal yang belum terselesaikan, dan perihal itu adalah mengucapkan selamat tinggal kepada Gemala, kekasihnya. Sudah jelas, Kumal akan kehilangan sosok hantu yang sangat ia cintai selamanya.


Namun, bila ia tidak mengantar Fana Ismi tuk menemui kuburan Penyair Gemala, ia mungkin tidak akan kehilangan Hantu Cantik, akan tetapi, semua itu adalah tindakan seorang pecundang. Kumal tidak ingin menjadi pecundang. Ia juga tidak ingin mengutamakan kebahagiaanya sendiri di atas penderitaan Fana Ismi. Ia sangatlah mencintai Hantu Cantik, maka ia harus melakukan barang sesuatu demi kebahagiaan Fana Ismi.


Oh, lelaki mana yang tidak bimbang bila dihadapkan dua pilihan sulit macam begitu? Jika ia mengantarnya, maka ia akan kehilangan Fana Ismi. Jika ia tidak mengantarnya, maka ia akan kehilangan kebahagiaan Fana Ismi. Sungguh berat dan rumit.


Dan selepas menimang-nimang, Kumal pun memutuskan tuk mengantarkan Fana Ismi ke kuburan Gemala, meski itu sangatlah menyedihkan baginya sendiri.


Hantu Cantik berlari dan kemudian memeluk kuburan itu, tatkala mendapati nisan tertulis Penyair Gemala. Ia menangis. Kumal merasa iba terhadapnya, ia lupa, bahwa sebentar lagi ia akan menangis pula lantaran kehilangan sosok hantu yang sangat ia cintai.


Selepas meratap dan menangisi kematian Gemala yang sudah lama. Selepas ia mengenang kembali hari-hari bersama Gemala, Fana Ismi pun mengucapkan selamat tinggal. Kumal tidak ingin melihat akan hal itu. Fana Ismi kembali mengucapkan selamat tinggal. Perihal itu sungguh berat bagi Kumal. Fana Ismi mengucapkan selamat tinggal untuk kesekian kalinya, namun, ia tidak kunjung hilang juga. “Kenapa kamu tidak menghilang? Kenapa kamu masih tetap ada di sini,” tanya Kumal keheranan.


“Entahlah, aku tidak mengerti, seharusnya aku sudah ada di surga saat ini,” Fana Ismi pun ikut-ikutan heran.


Kumal pun tidak ingin menyia-nyiakan keajaiban itu. Mungkin Tuhan sengaja tidak mengambil Fana Ismi demi menemani hari-hari Kumal. Dan Kumal, tidak ingin melepas kesempatan itu. Sesegera mungkin Kumal memeluk tubuh Hantu Cantik, membuat yang dipeluk terperangah keheranan. “Kenapa denganmu, Mal,” tanya Fana Ismi. Dari semua prilaku aneh Kumal, inilah yang teraneh.


“Aku takut, Fi ...”


“Takut?”


“Aku takut kehilanganmu.”


“Aku di sini, Mal. Tenang saja, aku masih di sini. Aku juga tidak tahu, mengapa aku masih di sini.”


“Fi ...” Kumal mendongakkan kepala memandang raut manis hantu itu. “Maukah kamu menjadi kekasihku?”


“Ha?” Fana Ismi terperanjat sehingga tidak bisa berkata-kata lagi.


“Fi..., jawab aku.”


“Apa kamu benar ingin menjadikanku kekasihmu.”


Kumal mengangguk cepat.


“Tapi aku hantu.”


“Meskipun kamu iblis, aku tidak peduli lagi.”


“Aku juga sudah berumur tua.”


“Aku lebih tidak peduli.”


“Tapi bagaimana dengan Arin?”

__ADS_1


“Aku sudah melupakannya, saat aku sadar, ternyata aku lebih mencintaimu.”


“Apa kamu benar mencintaiku?”


Secepat kilat, Kumal pun mencium bibir Fana Ismi. Fana Ismi terperanjat, tapi ia menikmati. “Kenapa kamu tiba\-tiba menciumku?” tanya Hantu Cantik lagi, selepas ciuman itu.


“Apakah kamu masih meragukan cintaku?” Kumal balik bertanya.


Fana Ismi pun menggeleng\-gelengkan kepala dengan cepat dan sedikit gugup.


***


Jika tidak ada satu pun terdapat sepasang kekasih dua dunia, hantu dan manusia di muka bumi ini, maka Kumal menjadi yang pertama dalam sejarah yang telah menjadikan hantu sebagai kekasih.


Kini, mereka menjalani hari-hari bukan sebagai teman, apalagi tuan dan budak. Mereka menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih yang baru dimabuk oleh anggur asmara. Fana Ismi kerap melayang-layang dan mengusili Kumal. Sedang Kumal sendiri, menyambut kekasihnya dengan senyum pesona dan membalas perlakuan Hantu Cantik dengan ciuman.


Fana Ismi kesal, meski jauh di lubuk hati ia merasa tersipu malu. “Jangan main cium tanpa permisi!” Hantu Cantik memarahi.


“Bukankah kamu senang?”


“Tidak. Aku tidak senang.”


“Benarkah?”


“Aku sedang menulis syair,” balas Kumal singkat.


“Syair? Apa kamu tidak bosan menulis syair melulu. Tidakkah lebih baik kamu memandangi wajah cantikku ini,” Fana Ismi sengaja hendak merayu Kumal.


“Ya, kamu memang cantik juga menarik. Sejak aku mengenalmu, aku pun tiba bisa menghentikan tanganku tuk menulis syair-syair indah.”


“Benarkah?”


“Tentu saja, nona.”


Mereka pun kembali tertawa, menikmati hari-hari yang menyenangkan dan penuh kasih.


“Aku punya ide,” tutur Fana Ismi seketika.


“Ide?” Kumal pun agak heran.


“Kenapa kamu tidak menulis syair-syair tentang hantu saja.”


“Ide bagus!” balas Kumal kemudian.


Gemala menjadi penyair terkenal karena wajah cantik bak purnama milik Fana Ismi. Kini, Kumal mungkin akan dapat mengalahkan ketenaran dan kehebatan syair-syair penyair itu, sebab, ada Fana Ismi di sisinya. Fana Ismi telah menjadi hantu, hal itu mungkin akan lebih membuat Kumal menjadi penyair cinta yang bergentayangan di kepala pembaca.

__ADS_1


Kumal pun menulis dan menulis. Ia mengumpulkan syair-syairnya menjadi suatu buku. Ia mengenalkan pada pembaca, perihal konsep baru dalam puisi, yakni cinta dan hantu, atau perempuan dan kuburan. Buku kumpulan syair G. Kumal Aksara pun siap bergentayangan di tangan para pembaca di segala penjuru dunia.


***


Kumpulan syair cinta G. Kumal Aksara, yang telah mengenalkan konsep baru, ‘perempuan dan kuburan’ pun laku di pasaran. Kumal sangat senang, begitu pun dengan Fana Ismi. Nama G. Kumal Aksara pun naik daun, bersaing dengan nama-nama penyair besar dan ia pun diperhitungkan tuk menjadi raja penyair cinta.


Para wartawan berdatangan, guna sekadar membeberkan kehidupan sehari-hari G. Kumal Aksara. Kekayaan pun seketika berhamburan. Kini, Kumal sudah tak lagi bersusah payah membayar uang kontrakan pada Bu Yunit. Ia dengan mudah membeli rumah besar dan megah. Ia juga dapat membeli mobil mahal dan pakaian-pakaian baru.


Banyak orang tertarik dan terpesona pada syair-syair G. Kumal Aksara, meski banyak pula yang tetiba merinding bila mendengar kata kuburan. Syair-syair cinta yang dipadukan dengan kematian, hal itu sungguh mengguncangkan kehidupan di muka bumi ini.


Namun, tiada yang tahu bahkan mengira, bahwa seorang G. Kumal Aksara memiliki kekasih yang selalu menemani, dan kekasihnya adalah seorang hantu cantik bernama Fana Ismi. Ya, semasa hidup ia menjadi kekasih gelap seorang penyair tersohor bernama Gemala. Dan tatkala menjadi hantu, ia beralih menjadi kekasih seorang penyair yang tak kalah terkenal bernama G. Kumal Aksara.


“Terima kasih, Fi, karenamu aku pun bisa mencapai impianku ini,” tutur Kumal sangat berterima kasih pada Fana Ismi.


“Kenapa kamu berterima kasih padaku, bukankah semua itu karena kerja kerasmu sendiri,” balas Hantu Cantik tidak suka dijadikan embel-embel kesuksesan Kumal.


“Memang,” balas Kumal. “Tapi tujuan kerja kerasku adalah kamu, dan hanya kamu.”


Fana Ismi tersipu malu mendengar itu. “Benarkah?”


“Apa aku harus menciummu terlebih dahulu agar kamu percaya?”


“Hem...” Hantu Cantik menyandarkan diri ke tubuh Kumal. “Bukankah saban hari, kamu memang suka diam-diam menciumku ketika aku terlelap dan lengah.”


“Ya, karena kamu terlihat kian cantik saat tidur.”


“Berarti sekarang aku tidak cantik?”


“Tunggu,” Kumal mendekatkan wajahnya ke wajah Fana Ismi. Ia melihat wajah bak rembulan itu betul-betul sehingga menciptakan debar ribut di dada Hantu Cantik. “Betul, bangun pun kamu juga cantik.”


Fana Ismi pun memukul bahu Kumal keras. Ia kesal dan kesal. Mereka tertawa bersama dan mungkin akan selalu bersama. Hingga akhirnya, Kumal mengingat bapak, dulu, ia pun selalu tertawa bersama dengan bapak. Ya, karena bapak memang tiada henti tertawa. “Fi,” panggil Kumal. “Aku merindukan bapak, Fi. Sudah lama aku tidak menyekar ke kuburan bapak. Walau bagaimana pun, ketika ia masih hidup, ia selalu ada untukku. Ia pula yang mengajariku tuk tidak menjadi seorang pecundang.”


“Bapakmu memang sosok yang patut diacungkan jempol. Aku pun ingin bertemu dengannya?”


“Benarkah?” tanya Kumal agak girang.


Fana Ismi pun mengangguk tanda setuju.


Maka, di akhir pekan, mereka pun mengunjungi pemakaman umum, tempat kuburan bapak bersemayam. Kumal sudah tidak sabar, hendak mengenalkan Fana Ismi, kekasihnya, kepada bapak. Begitu pula dengan Hantu cantik, ia tidak sabar melihat kuburan bapak dan berterima kasih, lantaran memiliki anak yang baik juga tampan seperti Kumal.


Namun, hal tidak terduga pun datang, tatkala Fana Ismi membaca nisan pengenal pada kuburan bapak. Ia beringsut perlahan-lahan ke belakang dengan keadaan hati yang kalut. Ia terus menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, “Tidak, tidak, ini tidak mungkin.” Ia memandang tulisan nama di nisan kuburan itu, tertulis: Anggi Kusuma. Ia setengah tidak percaya akan hal itu. Ia pun beralih memandang Kumal, membuat penyair itu agak cemas.


“Kenapa, Fi? Kenapa denganmu? Mengapa wajahmu memucat dan terlihat ketakutan,” tanya Kumal heran dan penasaran. Ada perihal yang ia belum ketahui, dan mungkin Fana Ismi mengetahui akan hal itu.


Fana Ismi masih memandang Kumal dengan raut ketakutan. Kumal, kekasihnya itu, mengaku sebagai anak dari Anggi Kusuma. Itu tidak benar. Kumal adalah anak yang susah-susah Fana Ismi lahirkan hingga merenggang nyawa. Kini anak itu sudah besar, dan menyandang nama besar ayahnya: G. Ya, G. Kumal Aksara adalah putra dari Fana Ismi dan Gemala.

__ADS_1


__ADS_2