
Jauh sebelum gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi, Thomas Alva Edison dan James Watt belum lahir guna menciptakan keajaiban di muka bumi ini, di abad 12, negeri ini terdiri dari kerajaan-kerajaan.
Dan di sebelah pesisir utara, terdapat kerajaan kecil dengan raja adidaya. Raja itu terkenal buruk, bertingkah seenaknya, tidak adil, juga tidak jujur. Siapa pun yang menentangnya, akan segera dieksekusi mati.
Namun, ada pula yang lebih buruk dari perangai raja itu sendiri, yakni putranya, Pangeran Padel. Selain perangai buruk, ia juga memiliki rupa yang buruk, ia juga memiliki tubuh penuh lemak, serupa sapi kembung air.
Lantaran Pangeran Padel suka membawa perempuan-perempuan kerajaan dan bersikap tidak senonoh pada perempuan-perempuan itu, ia pun dijuluki pangeran cabul. Gadis-gadis akan lari bila melihat pangeran cabul itu jalan-jalan di perkampungan kerajaan. Mereka melihat Pangeran Padel, seperti melihat lembu bertanduk iblis. Mereka tidak ingin menjadi korban, mereka juga takut pada rupa buruk pangeran itu.
Namun, dibalik kecabulan Pangeran Padel, ia pun memiliki perempuan yang sangat ia cintai, dan ia ingin memiliki perempuan itu. Perempuan tidak beruntung itu adalah Milanta, seorang kesatria perempuan kerajaan.
Milanta sangatlah mahir bersilat pedang, ketika musuh datang, ia pun mengayunkan pedang serupa hendak bergasing. Ia telah banyak membunuh pria dalam peperangan. Musuh-musuh telah ia tebas, tikam, bahkan ada pula musuh tertunduk minta ampun. Ternyata, selain dada besar, Milanta juga memiliki keberanian yang sangat besar.
Selain itu, Milanta juga terkenal suka mengayomi perempuan-perempuan di wilayah kerajaan. Ia selalu memberi sedekah pada perempuan-perempuan miskin, melindungi perempuan-perempuan dari buruan pangeran cabul, bahkan juga membantu para korban Pangeran Padel untuk tetap hidup dan lebih berani lagi menghadapi penderitaan. Milanta, adalah bunga katsuri bagi perempuan-perempuan kerajaan.
Hingga datang suatu waktu, di mana Pangeran Padel mencoba mengekori Milanta yang berjalan ke kandang hendak mengambil kuda. Ia memandang pinggul kesatria perempuan itu dengan tatapan mesum juga dengan iler mengalir. Ya, diam-diam ia ingin mencabuli Milanta.
Milanta pun sadar, ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Ia mencoba menenangkan diri dan mencoba menoleh ke belakang. Betapa terkejut Milanta, saat ia mendapati pangeran kerajaan sedang mengekori. “Maaf, Paduka Pangeran, apa yang anda lakukan di tempat ini?” tanya Milanta masih memberi hormat.
“Adakah yang salah bila aku berjalan-jalan ke tempat ini, wahai Kesatria Cantik?” balas Pangeran Padel dengan tenang.
“Maaf, Paduka Pangeran. Bila hamba tidak salah, Paduka Pangeran sedari tadi telah mengikuti hamba.”
“Lancang sekali kamu berkata seperti itu pada pangeran sepertiku!” umpat Pangeran Padel memang sengaja menampakkan kemarahan. “Mana mungkin pangeran tampan sepertiku, malah mengikuti kesatria murahan sepertimu.”
“Ampun mohon ampun, bila hamba salah, Paduka Pangeran.”
“Tidak ada ampun bagimu!” bentak Pangeran Padel, ia tersenyum kucing, lantaran sudah berhasil mengecoh Milanta. “Sebagai hukuman, kamu harus bercinta denganku sekarang juga.”
__ADS_1
“Ampun mohon ampun, Paduka Pangeran.” Milanta bersujud di depan Pangeran Padel guna meminta ampun. “Hamba tidak mau memberikan keperawanan pada Paduka Pangeran.”
Namun, Pangeran Padel tidak menggubris permintaan maaf Milanta. Ia bersikap bodoh amat. Ia datang mendekat dengan iler yang kian deras mengalir. Ia memeluk perut Milanta di kandang sunyi itu. Milanta meronta, ia sungguh tidak sudi dilecehkan seperti itu oleh pangeran yang terkenal cabul.
Akan tetapi, pelukan Pangeran Padel terlalu erat, sehingga nyaris tubuh Milanta terkunci tidak bisa apa-apa. Tangan Milanta masih bisa bergerak, ia meraba segala sesuatu di muka tanah. Ia meraih batu agak besar di sisi kanan, ia mengenggam batu itu, lantas melayangkannya ke pipi Pangeran Padel.
Milanta memberi luka parah di pipi pangeran cabul itu, membuat Pangeran Padel meringis kesakitan. Pangeran cabul itu memegangi pipinya, menahan darah yang terus mengalir deras, matanya memerah pun karena marah. Namun, lantaran itu pula Milanta dapat lari dari genggaman cabul Pangeran Padel.
Dan lantaran kejadian itu, raja pun murka. Raja tidak terima, putra semata wayang diperlakukan sedemikian buruk oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan lebih rendah. Raja memanggil para algojo, jari telunjuknya adalah petunjuk bahwa Milanta harus diesksekusi mati.
Namun, Pangeran Padel masih mencintai Milanta, meski perempuan itu memberikan bekas luka parah di pipinya. Pangeran cabul itu bersujud di hadapan ayahanda. “Ayahanda, kumohon jangan eksekusi Milanta, aku ingin menjadikan kesatria itu sebagai permaisuriku,” mohon Pangeran Padel.
Raja terharu melihat putranya begitu kuat memperjuangkan dan mempertahankan perempuan yang sangat ia cintai. Raja sangat bangga memiliki putra setangguh Pangeran Padel. Ia ingin memenuhi permintaan pangeran, namun, ia harus tetap menyeret Milanta ke dalam istana.
Dan di hadapan raja, Milanta masih menaruh hormat, ia seperti merasa bersalah lantaran melukai Pangeran Padel. Kemudian, raja memberikan sebuah pilihan, “Eksekusi mati atau menikah dengan Pangeran Padel?”
“Sungguh aku merasa terhina mendengar permintaanmu. Aku tidak rela, putraku tinggal di gubuk reyot setelah menikah denganmu,” tolak raja begitu kasar.
“Aku bersedia, aku bersedia, aku bersedia,” balas Pangeran Padel berlawanan dengan prinsip raja. Ia tampak senang mendengar Milanta bersedia menjadi permaisurinya, sehingga ia pun loncat-loncat kegirangan.
“Benarkah, Putraku, apakah kamu benar-benar bersedia tinggal di gubuk reyot?”
“Tentu saja, Ayahanda, sebab kita hanya tinggal beberapa hari. Sehabis itu, aku dan permaisuriku akan kembali ke istana ini.”
Raja tidak bisa tidak mengabulkan permintaan putra semata wayang. Jika Pangeran Padel bersedia, raja pun harus bersedia. Namun, di satu sisi, raja masih menaruh curiga terhadap Milanta. “Katakanlah padaku wahai, Kesatria Perempuan. Mengapa kamu sangat ingin tinggal di gubuk itu beberapa hari sehabis menikah nanti?” tanya raja memandang tajam ke arah Milanta.
“Ampun mohon ampun, Baginda Raja,” sujud Milanta. “Hamba hanya ingin mengucapkan perpisahan ke gubuk tempat hamba tinggal dan besar. Walau bagaimana pun, gubuk itu sudah seperti orang tua hamba yang sudah meninggal.”
__ADS_1
“Baiklah, aku pun tidak bisa tidak menuruti permintaan putra tersayangku,” Raja menyetujui. Perihal itu disambut Milanta dengan senyum kucing.
***
Pernikahan antara Pangeran Padel dan Kesatria Perempuan Milanta berlangsung cukup meriah. Rakyat wajib menyumbangkan beberapa sandang maupun pangan. Tamu-tamu dari kerajaan lain pun datang untuk memeriahkan. Milanta didandani secantik mungkin, diusung dengan tandu, lantas dihadapkan ke hadapan Pangeran Padel.
Pangeran Padel tidak kuasa menyembunyikan kegembiraannya karena menikah dengan Milanta, perempuan yang sudah lama ia cintai. Pangeran cabul itu loncat-loncat dan bertepuk tangan seperti kodok di sawah. Dan pada akhirnya, Milanta pun resmi jadi permaisuri Pangeran Padel.
Seperti permintaan Milanta, mereka berdua pun dirarak menuju gubuk kesatria itu, mereka akan menjalani malam pertama, tidak boleh ada satu pun yang datang, apalagi mengintip.
Malam itu, suasana gubuk begitu lengang, dan Pangeran Padel sudah tidak sabar memeloroti celana. Ia ingin segera memberi cinta pada Milanta. Pangeran cabul itu tidak sadar, bahwa sebelum pernikahan berlangsung, Milanta telah memiliki rencana yang cukup picik. Ia mendatangi para perempuan dan mengajak mereka guna menampakkan keberanian lantaran sudah dilecehkan selama ini.
Milanta menghampiri pangeran itu, ia menggelitik tubuh Pangeran Padel sehingga merasakan geli yang nikmat. “Apa kamu sudah tidak sabar, Pangeranku?” goda Milanta membuat harimau di dalam tubuh Pangeran Padel meronta hendak keluar.
“Sungguh, aku sudah tidak dapat menahan lebih lama lagi, Permaisuriku,” tanggap Pangeran Padel.
“Bersabarlah, Pangeranku. Tubuhku begitu apak, hamba ingin mencucinya terlebih dahulu. Dan selepas itu, aku akan membakar tubuhmu dengan sangat nikmat.”
Pangeran Padel berpikir sejenak. Ia menyetujui bila Milanta hendak mencuci tubuhnya terlebih dahulu. Meski tidak sabar, ia pun harus lebih sabar lagi, demi membakar tubuh sangat nikmat seperti yang Milanta bilang. “Baiklah, Permaisuriku, pergilah, tapi jangan lama-lama.”
“Tentu saja, Pangeranku. Aku tidak akan berlama-lama di belakang, aku juga sudah tidak sabar tuk membakar tubuhmu itu.”
Milanta melempar senyum sebelum pergi. Ia melangkah kaki dengan gemulai, menjauh dari hadapan Pangeran Padel. Sungguh, betapa berat hal itu bagi pangeran cabul, ia tidak kuasa ditinggal pergi oleh si permaisuri meski hanya sesaat. Pangeran Padel menepuk paha berulang kali, guna melepas kebosanan, dan rasa tidak sabar yang amat berat tuk ditahan. Pangeran Padel membayangkan, bagaimana tubuh Milanta sehabis mandi.
Kemudian, tidak lama setelah Milanta pergi, asap tetiba bergentayangan di dalam gubuk itu. Pangeran Padel panik, kobaran api, entah dari mana, hendak menelan gubuk itu. Pangeran Padel tidak bisa lari, kobaran api menunggu dari segala sisi. “Sialan!” umpat Pangeran Padel. “Jalang itu telah menipuku.” Kobaran api itu perlahan-lahan juga melahap tubuh pangeran cabul.
Dan saat arwah Pangeran Padel mengangkasa, ia pun dapat melihat dengan jelas, perempuan-perempuan yang telah ia cabuli saling menukar senyum kambing. Senyum mengejek atas kematian seorang pangeran lembu bertanduk iblis. Mereka semua bersekongkol, menjadikan malam pertama Pangeran Padel, sebagai malam kematian seorang pangeran cabul.
__ADS_1