
Ini kisah dua anak manusia yang lugu juga polos, mulai mengenal lawan jenis, bermain bersama demi kesenangan, hingga akhirnya terpaksa mengenal cinta.
***
Demi membanggakan bapak, anak itu bertekad untuk tidak menjadi pecundang. Ia adalah G. Kumal Aksara putra dari Bapak Anggi Kusuma dan mereka bukanlah pecundang. Kumal kecil tidak ingin bapak terus-terusan menyebut dirinya pecundang, ia harus membuktikan bahwa ia bukan lagi seorang pecundang. Maka, di bawah terik mentari yang menyengat, Kumal bertingkah seperti seorang pendekar yang melawan seekor naga berludah api.
Kumal memungut sebatang kayu kering sepanjang tubuh kecilnya, lantas ia membayangkan kayu itu sebagai pedang dengan bilah mengkilat-kilat. Deretan kuburan di segala sisi, ia bayangkan sebagai ratusan pasukan monster yang hendak menyerang dengan tatapan buas. Kumal balik menatap tajam, dengan lidah kasarnya itu, ia pun berkata lantang, “Majulah kalian semua! Aku adalah pendekar pedang G. Kumal Aksara yang akan mengirim kalian ke neraka!”
Para monster mengaum-aum, mereka seolah-olah terhina oleh ucapan Kumal barusan. Mereka merangkak, mcembidik tubuh kecil Kumal, kemudian berlari hendak menerkam. Ada empat monster di depan kumal, satu di belakang, dua monster di sisi kanan dan kiri. Kumal meloncat, sembari memandangi langit biru, ia pun menghunus dan memelintir pedangnya seperti seorang pemain sirkus.
Satu persatu monster terbanting, mereka meraung kesakitan, tidak kuasa membendung serangan pedang Kumal yang begitu cepat. Darah memuncrat ke mana-mana, api berkobar dan menjilat-jilat, kekacauan pun terjadi. Namun, Pendekar Kumal masih belum ciut, ia terus mengayunkan pedangnya hingga darah penghabisan.
Di balik pohon di tepi pemakaman, gadis kecil yang dikepang dua cekikikan melihat lagak Kumal yang seperti pendekar kesiangan. Kumal menebas udara hampa, meloncat-loncat, menghindar, menendang, lantas ngos-ngosan seperti sosok tangguh yang kelelahan. Ia begitu asyik, dan keasyikannya itu diganggu oleh suara cekikikan dari balik pohon.
“Siapa di sana?!” bentak Kumal kecil dengan tatapan elang.
Cekikikan itu berhenti, suasana tetiba menjadi hening, sepertinya Gadis Kecil telah kepergok. Gadis Kecil menepuk jidat, ia masih menutup mulut, dan tetap berdiam diri di balik pohon. Ketahuan mengintip baginya sangatlah memalukan.
“Siapa di sana?!” ulang Kumal. “Keluarlah! Atau kuhunus siapa pun itu dengan pedang nagaku ini,” lagak anak itu dengan mengacungkan sebatang kayu kering yang ia sebut pedang.
Tidak ada pilihan lain bagi Gadis Kecil, ia tidak bisa terus bersembunyi, daripada harus diciduk, lebih baik ia menyerahkan diri. Gadis Kecil keluar dari tempat persembunyian—pohon itu—lantas meminta maaf. Ia menundukkan kepala, memainkan jari-jarinya karena gelisah.
__ADS_1
Seorang gadis kecil? Kumal membatin. Ia pun agak terkejut. “Kenapa anak kecil sepertimu bisa berada di tempat berbahaya ini?!” ucap Kumal masih berlagak sebagai pendekar dan pemakaman sebagai arena.
“Anak kecil? Kamu kan juga anak kecil, tidak pantas anak kecil memanggil anak kecil pada anak kecil lain,” balas Gadis Kecil dengan intonasi tinggi meski tetap menunduk.
Dan Kumal menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal mendengarkan serangan balik gadis itu. Ia cengengesan dan terlihat malu. Namun, sebagai seorang yang tidak ingin disebut pecundang, ia pun kembali berdiri tegap, dan kembali menginterogasi, “Lalu apa urusanmu denganku? Kenapa kamu mengintipku yang sedang berperang melawan para monster?”
“Aku tidak mengintip. Aku hanya tidak sengaja melihatmu yang bertingkah seperti anak kecil, bersilat-silat tidak jelas, juga terlihat angkuh seperti pendekar gadungan. Rumahku tidak jauh dari pemakaman ini, apa aku salah jalan-jalan ke sini?”
“E..., barusan kamu memanggilku anak kecil, bukan? Bukankah kamu sendiri yang bilang, kita ini sama-sama anak kecil,” Kumal tersinggung disebut ‘anak kecil’.
“Memang, tapi aku lebih dewasa daripada kamu.”
“Ha? Tidak ada bukti bahwa kamu lebih dewasa daripadaku. Tubuh kita sama-sama kecil, bisa saja aku yang lebih tua daripada kamu.”
“Itu pun tidak ada bukti.”
“Aku sudah bisa membaca dan menulis namaku sendiri,” balas Gadis Kecil dengan membanggakan diri. Ia tidak mau kalah pada sosok anak kecil yang suka berimajinasi itu.
Mereka terus bercekcok meski baru bertemu dan belum mengenal satu sama lain. Mereka sama-sama tidak mau mengalah dan hal itu lumrah terjadi pada anak kecil. Namun, percekcokan yang nyaring itu, akhirnya sampai ke cuping telinga Anggi Kusuma. Dan sebagai seorang bapak, ia harus melerai perkelahian adu mulut dua anak kecil itu.
“Hoho, ternyata kamu sudah punya teman, Nak.” ucap Anggi Kusuma kemudian, dengan tawanya yang cukup khas. Bapak mengelus kepala Kumal.
__ADS_1
“Dia bukan temanku,” balas Kumal acuh tidak acuh. Ia menyilangkan tangan di dada, sebagai tanda sebuah perlawanan.
Namun, tampaknya Gadis Kecil juga acuh tidak acuh dengan perkataan Kumal barusan. Ia malah mendekat, lantas menyalami tangan Anggi Kusuma. “Salam kenal, Paman. Namaku Arin.”
“Oh, Arin, nama yang bagus, hoho. Pantas untuk gadis kecil yang manis sepertimu, Hoho,” puji bapak, membuat urat dahi Kumal semakin menegang. Anggi Kusuma merogoh saku, mengeluarkan permen, lantas memberikan permen itu pada Arin. “Ini untukmu Nak Arin, permen manis untuk gadis yang manis.”
Arin menyambut permen itu dengan senang hati. Ia sangat suka permen. Mungkin benar kata paman, karena aku manis jadi sukanya pada yang manis-manis, jerit Arin dalam hati. Mulut Kumal pun termonyong-monyong karena kesal. “Aku tidak hanya manis, Paman. Aku juga bisa membaca dan menulis namaku sendiri,” kata Arin lagi, sengaja membuat muka Kumal memerah.
Dasar tukang pamer! pekik Kumal dalam hati.
Namun, bapak malah semakin memuji Arin dan menyudutkan Kumal. “Wah, Nak Arin, selain manis dan imut ternyata juga pintar ya, hoho,” puji Anggi Kusuma lagi. Arin mengangguk cepat membenarkan. “Jangan bosan bermain dengan anak paman yang pecundang ini, ya, Nak Arin.”
Arin mengangguk lagi dan kini berulang-ulang.
Kata ‘pecundang’ yang diucapkan bapak, sungguh membuat dada Kumal sesak. Darahnya mendidih, bagai direbus di atas kobaran api. “Baiklah, hoho, paman mau bersih-bersih kuburan dulu, hoho. Kalian bermain-mainlah dulu,” pamit Anggi Kusuma kemudian.
“Baik, Paman, serahkan tugas bermain-main pada kami!” jawab Arin mantap.
Bapak pun berlalu dari hadapan mereka, Arin senyum-senyum sendiri, sementara Kumal masih berjuang membendung badai dalam dada. “Ternyata bapakmu baik juga, ya,” kata Arin demi menghangatkan suasana dingin setelah ditinggal pergi oleh Anggi Kusuma.
Kumal membisu, ia tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Pecundang! Pecundang! Pecundang! Kata-kata itu bergentayangan di batok kepalanya. Gigi Kumal bergemeletuk, urat-urat rahang menegang, matanya memerah, dan setetes air mata pun jatuh ke muka tanah. Arin pun menaruh iba melihat itu.
__ADS_1
Kemudian tangan Kumal mengepal, ia tampak menahan sesuatu, hingga akhirnya ia pun jatuh tersungkur. Sembari menangis, Kumal bersujud di hadapan Arin, ia berteriak sangat lantang, “Arin! Maukah kamu menjadi temanku? Aku tidak ingin menjadi pecundang! Arin, kumohon ajari aku cara membaca dan menulis namaku sendiri.”
Arin cengengesan mendengar permohonan itu. Dan dari kejauhan, bapak tidak bisa menyembunyikan senyum dan tangisnya.