
Sangat disayangkan, Chi tidak dapat membalas kebaikan Kumal dengan ciuman, sebagai gantinya, ia mengantar pemuda itu ke bangunan tua di kota. Bangunan itu memiliki dinding-dinding lapuk, beberapa sudah roboh, beberapa masih meretak. Bangunan tua itu adalah tempat Padel bersemayam.
Chi tahu banyak tentang Padel, lantaran sebelumnya, ia pun pernah menjadi target Padel tuk dijadikan permaisuri. “Maafkan aku, Mal, aku hanya dapat mengantarmu sampai di sini saja, aku takut tuk berjumpa hantu buruk rupa itu. Aku tidak mau memberikan ciumanku pada Padel,” ucap Chi kemudian.
“Tidak usah berminta maaf, malah aku yang seharusnya berterima kasih, lantaran kamu sudah mengantarku ke sini, Chi,” balas Kumal dengan senyuman.
“Kamu sungguh baik, Mal,” ucap Chi sembari memandang mata Kumal. Ia dapat melihat masa depan yang suram di mata Kumal. Ia tidak bisa menatapnya lebih lama lagi, ia berwelas asih, dan ia lebih ingin memberikan Kumal ciuman. “Mal, maukah kamu menciumku sebelum aku benar-benar pergi?”
“Tidak!”
“Kenapa begitu,” rangsek Chi.
“Sudah kubilang, aku tidak mau berciuman dengan hantu.“
Chi cekikikan mendengar hal itu. Kalimat itu sungguh konyol bagi Chi, mengingat Kumal membahayakan diri ke tempat Padel, hanya untuk sekadar menyelamatkan seorang hantu. Chi mengerti, Kumal sedang jatuh cinta pada hantu yang telah Padel culik. “Baiklah, Mal, mungkin di lain waktu aku akan dapat menciummu,” ujar Chi Kemudian.
Chi melayang pergi, dan Kumal bersiap-siap masuk ke dalam bangunan tua itu guna menyelamatkan Hantu Cantik. Kumal masuk perlahan-lahan, mengendap-endap, seperti hendak masuk ke benteng pertahanan musuh. Dan misi penyelamatan pun segera dimulai.
***
__ADS_1
Sementara itu, di dalam bangunan tua itu, Fana Ismi menangis pijar dalam kurungan. Ia tidak ingin tinggal selamanya dalam jeruji besi, ia juga tidak ingin bila harus menikah dengan hantu buruk rupa seperti Padel. Ia ingin keluar dari jeruji besi itu, melayang bebas, atau bahkan menemui Kumal kembali.
Ya, Hantu Cantik sangat ingin kembali berjumpa dengan Kumal. Ia ingin tertawa dan mengusili pemuda itu lagi. Tapi, mungkin saat ini Kumal masih marah terhadapnya. Fana Ismi telah mengacaukan kencannya, dan hal itu mungkin akan membuat Kumal tidak mau memaafkan Hantu Cantik. Memori tentang Kumal, meninggalkan bekas sesal dan harap di hati Fana Ismi.
Hantu Cantik sungguh menyesal, sebab ia telah mengacaukan kencan Kumal bersama Arin, perempuan yang sangat Kumal cintai. Seharusnya ia tidak bersikap serba tahu, memberi saran kepada Kumal, guna mengawali pembicaraan pada kencan tempo itu. Karenanya, Arin marah pada Kumal. Karenanya pula, Arin meninggalkan Kumal. Dan ya, Kumal memang pantas mengusirnya.
Mungkin Fana Ismi juga menyesal telah meninggalkan Kumal. Ia tahu, pada waktu itu Kumal hanya sekadar marah, sehingga Kumal berbicara jahat tanpa dipikir-pikir terlebih tahu. Ia sungguh menyesal lari dari Kumal. Lantaran ia lari, ia pun tidak memiliki tempat perlindungan lagi. Karena itu pula, ia pun ditangkap oleh Padel. Padel membawanya pergi secara paksa. Dan Padel pula, yang telah mengurungnya di jeruji besi ini.
Padel ingin menjadikan Hantu Cantik sebagai permaisurinya. Tapi, Fana Ismi menolak. Hantu Cantik pun dilempar ke penjara, ia tidak akan dilepaskan, sebelum ia mengangguk terhadap pernikahan yang telah Padel tawarkan.
Fana Ismi seperti dihadapkan pada jalan buntu, ia tidak bisa apa-apa, arwahnya akan berakhir di jeruji besi atau menjadi permaisuri Padel. Sungguh, disaat-saat seperti ini, Hantu Cantik pun membutuhkan Kumal. Fana Ismi berharap, Kumal datang menyelamatkannya dan mengajaknya tuk kembali. Tapi mungkin semua itu mustahil, mengingat waktu itu Kumal sangat marah padanya. Meski mustahil, Hantu Cantik pun tetap mengharapkan kedatangan Kumal.
“Apa kamu memanggilku,” potong Kumal seketika.
Hantu Cantik pun terkejut mendengar suara itu. Suara itu sungguh mirip dengan suara Kumal. Suara itu menciptakan gelombang besar di dada Fana Ismi. Hantu Cantik pun mencoba menoleh ke asal suara itu. Dan benar, di luar jeruji besi, Kumal tampak memandang ke arahnya dan cengengesan memamerkan deretan gigi.
Ah, barangkali semua itu hanya halusinasiku, pikir Fana Ismi. Ia mengucek-ucek matanya dan kembali melihat ke luar jeruji besi. Kumal masih berdiri di sana. Hantu Cantik pun heran, kenapa bayangan Kumal juga tidak mau hilang. Apakah mungkin itu Kumal yang asli? Apa Kumal benar-benar datang ke sini untuk menyelamatkannya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat kepala Fana ismi sedikit pening. “Apa kamu benar-benar Kumal?” tanya Hantu Cantik kemudian. Sungguh pertanyaan itu tampak konyol.
“Halo... apakah kamu sudah lupa dengan wajahku,” balas Kumal sedikit kesal.
__ADS_1
Mendengar Kumal berbicara, Fana Ismi pun yakin, sosok di luar jeruji besi benar-benar adalah Kumal, Kumal yang asli. Ia sungguh gembira dapat melihat pemuda itu lagi. kedatangan Kumal, bak cahaya harap di atas berumbung asap kelabu.
Dapat bertemu dengan Kumal lagi, Hantu Cantik pun meminta maaf yang sebesar-besarnya, “Maafkan aku, Mal, maafkan aku yang telah mengacaukan kencanmu. Kumohon, bawalah aku pergi dan kembali ke kontrakanmu. Maafkan aku, Mal, maafkan aku.”
“Sudahlah, ini bukan waktunya bermaaf-maafan. Aku akan menyelamatkanmu dan membawamu pergi dari tempat durjana ini,” balas Kumal dengan kedipan mata. Perihal itu menciptakan sunggingan senyum—dengan manis tiada tanding—di bibir Fana Ismi.
Kumal mencoba mencari kunci penjara di dekat-dekat jeruji besi itu. Ia berharap, Padel menjatuhkan kuncinya dan melupakannya, sehingga ia pun dengan mudah dapat menyelamatkan Hantu Cantik.
“Apa kamu mencari ini,” ucap Padel seketika, sembari menyodorkan kunci penjara, tempat Fana Ismi terkurung.
Kumal tersentak dan menelan ludah tatkala mendengar suara berat itu. Perlahan ia mencoba menoleh, dan berharap, sang pemilik suara itu bukanlah Padel si hantu buruk rupa yang mesum itu. Ya, ia berharap keberuntungan dapat memihak padanya saat ini saja.
Kumal melihat sosok itu, sosok hantu dengan tubuh besar penuh lemak, kulit hangus terbakar, dan pipi sedikit penyok. Tidak salah lagi, hantu itu adalah Padel, pikir Kumal sedikit merinding. “Berikan kunci itu padaku!” pekik Kumal lantang, meski ketakutan.
“Aku tidak sebodoh itu, memberikan kunci pada musuh. Aku harus memeriksamu terlebih dulu, kamu pahlawan atau hanya seorang pecundang,” balas Padel sembari tertawa menghina Kumal.
Kumal tidak terima dipanggil pecundang. Ia tidak akan lari, seperti yang telah ia lakukan pada Arin di masa kanak-kanak dulu. Ia bukan pecundang, maka ia pun datang mendekat untuk menyerang. Ia hendak menonjok Padel sekali pukul. Namun, pukulan itu dengan gampang ditangkis oleh Padel. Padel tertawa mendapati pukulan lemah semacam itu. Ia membalas pukulan itu dengan tendangan, sehingga Kumal pun terpelanting ke sudut tembok.
“Ternyata kamu hanya pecundang!” hina Padel lagi dan kembali tertawa tuk mengejek Kumal.
__ADS_1
Kumal memuntahkan darah, ia meringis kesakitan. Ia memukuli lantai berulang kali, sembari mengutuk dirinya yang terlalu lemah. Ia bagaikan kutu di hadapan gajah. Dari dulu hingga sekarang, Kumal merasa dirinya tetaplah seorang pecundang. Ia benar-benar terlalu cundang. Ia terlalu pecundang, sehingga tidak dapat menyelamatkan Fana Ismi dalam genggaman hantu buruk rupa bernama Padel. Ia terlalu pecundang, sehingga dua perempuan yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Ia terlalu pecundang, sehingga ia memilih lari saat Arin Kecil digebuki Bobi dan kawan-kawan. Ia terlalu pecundang dan tidak bisa mengalahkan Bobi dan kawan-kawan. Bahkan, bapak pun mati lantaran kepecundangannya.