PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
SYAIR KENANGAN


__ADS_3

Rentetan-rentetan kejadian beberapa minggu lalu bagai mimpi buruk bagi Kumal juga Fana Ismi. Luka-luka Kumal sebab bertarung dengan Padel, beberapa sudah mengering, beberapa sudah sembuh, beberapa lagi sudah memudar. Ia nyaris tidak percaya, bahwa ia sudah mengalahkan hantu buruk rupa itu dan membawa Hantu Cantik kembali ke kontrakan.


Kumal sangat bahagia dapat hidup bersama dengan Fana Ismi kembali. Ia tidak ingin bertengkar dan berpisah dengan Hantu Cantik lagi. Ia harus mengakui hal ini, bahwa bunga-bunga jatuh dari dasar hati saat memandang rupa Fana Ismi yang bak bulan di tanggal empat belas.


Bahkan saat terlelap pun, Hantu Cantik terlihat anggun serupa angsa putih di atas air jernih. Ia begitu tenang, sesekali angin mengibarkan rambutnya barang sekejap. Entah mimpi apa yang telah menyelimuti Fana Ismi, sehingga sudut-sudut bibirnya agak tertarik ke belakang. Sungguh, bagi Kumal, memandangi Hantu cantik dikala terlelap, adalah pemandangan yang cukup alamiah.


Kumal tidak kuasa melepas mata dari pemandangan seorang hantu perempuan yang tertidur nyenyak. Ia tidak bisa menghindar, dan ia memang tidak mau menghindar. Betapa mata terpejam itu, betapa bibir itu, betapa muka belum mandi itu, betapa keringat itu, membuat Kumal ingin sekali mengecupnya.


Pemuda itu diam-diam hendak mencium kening Fana Ismi atau bahkan bibirnya. Ia celingak-celinguk melihat situasi, takut-takut ada sepasang mata yang memergoki. Ia lupa, bahwa Fana Ismi adalah hantu. Perlahan namun pasti, Kumal menjorokkan tubuh mendekati tubuh Hantu Cantik yang terbaring.


Alangkah wajah mereka kini berdekatan, menciptakan debar dan peluh di dagu kumal. Sebentar lagi, sebentar lagi, sebentar lagi, sorak Kumal dalam hati. Ia berniat mencium bibir Fana Ismi sekilas saja, lantas, ia pun cepat-cepat melupakan hal itu. Akan tetapi, sebelum bibir mereka beradu, mata Hantu Cantik seketika terbuka. Fana Ismi menangkap basah gerakan Kumal yang hendak menciumnya.


Sial! jerit Kumal dalam hati. Ia tidak bergerak, maju atau pun mundur. Ia melihat mata Hantu Cantik, mata yang menaruh curiga. Ia tidak tahu harus bagaimana, ombak di dada kian mengalun cukup besar. Keringat pun meronta dan mengalir cukup deras dari pori-pori. Ya, ia harus memikirkan perihal tuk dijadikan sebuah alasan. Tetiba ia menyentuh pipi Fana Ismi dengan jarinya, kemudian bangun dan kembali duduk menegakkan tubuh. “Aku hanya ingin memastikan pipi hantu dan pipi manusia itu sama,” ucap Kumal kemudian, memberikan alasan konyol dan tidak masuk akal.


Hantu Cantik pun ikut bangun, melayang dan duduk di sisi Kumal. Ia menilik Kumal lekat-lekat dengan pandangan penuh curiga. Sementara itu, Kumal menepuk paha berulang kali memendam resah dan gelisah. Ia tidak mampu tuk sekadar melirik ke arah Fana Ismi.


“Apa yang kamu lakukan barusan?” Hantu Cantik melempar pertanyaan yang amat sulit bagi Kumal tuk menjawab. “Apa barusan kamu hendak menciumku?” todong Fana Ismi benar-benar bagai anak panah yang tertancap di dada Kumal.


“Ha?” Kumal menampakkan wajah tercengang, meski raut menegang itu lebih jelas di mata Hantu Cantik. “Mana mungkin aku mau menciummu. Kamu hantu dan aku manusia. Sungguh gengsi bagiku mencium seorang hantu, apalagi hantu yang sedang terlelap. Bila ada orang seperti itu, sudah jelas orang itu pecundang.”


“Jadi kamu pecundang?”

__ADS_1


“Sudah kubilang, aku tidak sedang menciummu,” balas Kumal cepat. Ia benar-benar salah tingkah, ia bahkan tidak punya muka untuk kembali memandang Fana Ismi.


“Lalu?”


“Ah! Kamu tidak percaya padaku? Bukankah tadi aku sudah bilang, aku hanya ingin memastikan pipi hantu dan manusia itu sama atau tidak.”


“Baiklah, baiklah, aku percaya padamu,” ucap Hantu Cantik akhirnya mengalah. Jawaban itu sungguh membuat Kumal menghela napas lega. Ia sangatlah malu mengakui perihal tindakan kepecundangan itu. “Ngomong-ngomol, Mal. Aku punya sebuah rencana,” tutur Fana Ismi mencoba mengalihkan topik.


“Rencana?”


Hantu Cantik mengangguk cepat, “Iya, rencana. Aku punya rencana agar kamu dan Arin dapat baikan, sehingga kalian pun dapat mengulang kencan itu kembali.”


Wajah Arin pun kembali tergambar di kepala Kumal. Ia ingat akan kejadian tempo itu, Arin marah dan pergi dari kafe tempat mereka kencan. Kumal nyaris melupakan Arin dan ia memang sengaja hendak melupakan perempuan itu. Di sisinya terdapat Fana Ismi, meski ia hantu, Kumal menyimpan rasa kepadanya. Ia memutuskan memilih Hantu Cantik daripada Arin teman masa kecilnya. Baginya, Arin masa lalu dan Fana Ismi adalah masa depannya. “Sudahlah, lupakan Arin, aku pun sudah tidak memiliki rasa terhadapnya,” balas Kumal setelah sekian lama menimbang-nimbang.


“Tentu saja tidak. Aku sudah memutuskan, Fi, aku akan melupakan Arin.”


“Kenapa?”


“Karena aku tidak memiliki rasa lagi padanya.”


“secepat itukah perasaanmu berubah?”

__ADS_1


“...”


“Apa sekarang kamu beralih mencintaiku?” tuding Fana Ismi, benar-benar membuat dada Kumal mendesir.


Hantu Cantik seakan-akan tahu apa yang dirasakan Kumal saat ini, atau jangan-jangan ia hanya menebak. Kumal sendiri mendengar pertanyaan itu, ingin sekali ia mengatakan ‘iya’. Namun, pada akhirnya, ia pun berkata, “Tidak! Mana mungkin aku mencintai hantu, apalagi hantu usil sepertimu.” Kumal terlalu malu tuk mengakui perasaannya.


Untuk sejenak, suasana pun menjadi hening. Mereka tidak tahu harus berbicara apalagi. Syair-syair Gemala diam-diam merayap ke kepala Kumal kala ia memperhatikan raut muka Fana Ismi yang cemberut. “Walau sendiri, sepi tak lagi mengunjungi. Sebab, wajahmu menemani rindu tak bertepi. Mimpi tentangmu hadir saban hari. Dan kenangan menetap di hati,” syair itu pun tidak sengaja Kumal lontarkan.


Hantu cantik pun memandang Kumal dan termenung mendengar syair itu. Seperti tempo itu, syair barusan juga tidak asing di telinga Fana Ismi. Sementara itu, Kumal sendiri spontan menutup mulut, ia tidak ingin Hantu Cantik berpikir yang tidak-tidak saat mendengar itu. “Tunggu, tunggu, bisakah kamu mengulang syair itu,” pinta Fana Ismi tampak serius. Kumal pun seperti sapi yang dipincuk hidungnya, ia menurut, dan mengulang syair itu kembali. “Sepertinya dulu aku pernah mendengar syair itu,” ucap Fana Ismi kemudian mencoba mengingat-ingat lagi.


“Benarkah?” tanya Kumal begitu antusias.



“Ya.”


Boleh jadi Fana Ismi mengenal Penyair Gemala. Toh, ia pernah bilang, bahwa ia meninggal dua puluh tahun lalu. Yang berarti, sekarang Hantu Cantik berumur lima puluh tahunan. Fana Ismi hidup di zaman Penyair Gemala hidup. Jangan-jangan Hantu Cantik juga penggemar Penyair Gemala, pikir Kumal senyum-senyum sendiri. “Apa kamu mengenal penyair idolaku?” tanya Kumal seketika karena penasaran.


“Siapa penyair idolamu?” Fana Ismi balik bertanya.


“Gemala.”

__ADS_1


Mendengar nama Gemala disebut lidah hantu itu seketika kelu. Air mata menitik. Ia setengah tidak percaya, bahwa Gemala, penyair gelandangan itu, ternyata sudah menjadi penyair tersohor, sehingga Kumal pun menganggumi penyair itu. Ia tak mampu menahan tubuhnya yang gemetaran, mengingat penyair idola Kumal, mengakhiri hidupnya di tangan pistol di depan para penonton. Dada Fana Ismi seketika sesak, mengenang luka masa lalu yang kembali terkuak hari ini.


__ADS_2