
Kumal terlalu bahagia, sehingga bunga-bunga mekar di hati dan rama-rama terbang mengitari kepalanya. Ia seperti seekor ulat yang merayap penuh juang, tergantung dan terbelenggu dalam kepompong, lalu kemudian sayap-sayap kebahagian muncul di akhir cerita.
Selepas badai hari cerah pun datang, pikir Kumal. Ia meloncat-loncat girang tatkala mendapat surat dari Arin. Ia memandang surat itu seolah-olah senyum Arin tergambar dalam surat itu. Ia memeluk surat itu. Ia mencium surat itu berulang-ulang. Ia juga lelap bersama surat di tangannya. Kini Kumal benar-benar sudah sinting. Ia sudah gila, tergila-gila pada pengirim surat itu.
“Dasar sinting!” ucap Hantu Cantik yang cemburu. Bahkan, Kumal tidak menggubris ucapan Fana Ismi. Ia menganggap hantu itu sebagai hantu, antara ada dan tiada. Tentu saja Fana ismi kesal, meski ia tidak berhak untuk kesal.
Kencan! Kencan! Kencan! Hanya kata itu yang mengisi kepala Kumal saat ini. Arin mengajaknya kencan pekan nanti. Ia harus mempersiapkan segala sesuatu untuk kencan itu, baik fisik maupun mental. Ia rajin olahraga, rajin mandi, bahkan rajin tidur. Ia tidak boleh sakit, sebelum hari untuk kencan itu datang.
Dan dengan uang honor tulisan—sisa dari membayar kontrakan—ia gunakan untuk membeli baju, celana, parfum, bahkan celana dalam baru. Ia ingin tampil keren di hadapan Arin. Ia ingin Arin melihat seorang Kumal sebagai seseorang yang dapat diperhitungkan.
Tak hanya itu, kini ke mana-mana ia selalu membawa buku tebal bersampul coklat. Ia selalu membaca buku itu: di taman, di kontrakan, di bus, di trotoar, di kuburan, bahkan di WC ia membaca buku itu sembari berjongkok. Buku itu juga memancing mata Fana Ismi. Entah itu buku apa, sehingga Kumal lebih memilih membaca buku itu daripada mengobrol dengan Hantu Cantik.
“Apa kamu tidak penat berulang-ulang membaca buku itu?” tanya Fana Ismi agak dongkol, lantaran beberapa hari ini dianggap bagai tidak pernah ada.
“Itu lebih baik daripada letih mengobrol denganmu,” balas Kumal dingin.
“Kamu jahat!”
“Aku tidak peduli.”
Fana Ismi sungguh geregetan mendengar balasan-balasan dingin itu. “Sebenarnya itu buku apa sih? Sehingga buku itu terlihat lebih menarik daripada kecantikanku.”
__ADS_1
“Kumpulan syair.”
“Kumpulan syair?”
“Ya,” Kumal memandang Fana Ismi, sepertinya tidak masalah guna meluangkan waktu sejenak untuk hantu itu. Hantu Cantik butuh teman. “Buku ini berisi syair-syair penyair idolaku.”
“Idolamu?”
“Ya, penyair ini yang membuatku jatuh cinta pada syair. Syair-syair dan cerita hidupnya membuatku ingin menjadi seorang penyair seperti dirinya,” ungkap Kumal dengan mata berbinar-binar. Ia pun mulai bercerita perihal penyair itu. Penyair tersohor yang ia puja-puja sedari kecil.
Kata Kumal, penyair itu tewas dengan menembak kepalanya sendiri di atas panggung. Kala itu, para pecinta syair-syair cinta penyair itu menyaksikan sendiri, bagaimana peluru menembus pelipisnya. Di tengah-tengah ribuan para fan, ia pun mengatakan kata-kata terakhir sebelum bunuh diri, “Aku sudah kalah.”
“Mengerikan. Apa kamu mengidolakan penyair mengerikan seperti dirinya?” tanya Fana Ismi lagi, sepertinya ia mulai penasaran dengan penyair tersebut.
“Tentu saja. Aku yakin, kata-katanya mengandung makna. Bahkan saat kencanku dan Arin dimulai, aku akan mengungkapkan perasaanku dengan syair-syairnya.”
“Mengungkapkan perasaan?”
“Ya, sudah sedari lama aku jatuh hati pada perempuan itu,” balas Kumal dengan tenang. Ia tidak menyadari, bahwa hantu di hadapannya merasa hatinya dicabik\-cabik saat mendengar kalimat itu. Mungkin Fana Ismi baru saja mengenal Kumal. Namun, ia menemukan kenyamanan saat bersama Kumal, seperti saat ia bersama lelaki itu.
__ADS_1
“Apa kamu akan menggunakan syair\-syairnya?”
“Ya.”
“Kenapa kamu tidak menggunakan syair-syairmu sendiri, bukankah kamu juga seorang penyair?”
“Bukankah aku sudah bilang, aku hanya penyair miskin, syair-syairku bahkan tidak dapat membuat ilalang menari.”
Hantu Cantik menghela napas. “Baiklah, berarti penyair idolamu itu benar-benar hebat, sehingga kamu mempercayai syair-syairnya untuk mengungkapkan perasaan kepada perempuan yang kamu cintai. Bolehkah aku mendengar satu bait saja syair penyair itu?”
“Boleh,” balas Kumal menyetujui. Ia pun membuka kembali buku itu, memilih syair yang sekiranya pantas di antara lembaran-lembaran kertas. Lantas ia pun membacakan syair tersebut. “Ada banyak sekali bintang di langit sana, dan aku memilih jatuh di pangkuan purnama.”
Syair itu seakan tidak asing di telinga Fana Ismi. Tanpa disadari, ia pun melontarkan sebuah pertanyaan, “Siapa purnama itu?”
“Purnama itu adalah kamu.”
Hening. Penyair tersohor bernama Gemala, berhasil membuat suasana menjadi hening dengan syairnya.
__ADS_1