
Penyair besar G. Kumal Aksara, putra Penyair Gemala, penyair tersohor pada zamannya, yang memilih mati di antara ribuan penonton. Juga putra angkat Anggi Kusuma, seorang lelaki pendiam yang akhirnya memilih mati dalam tawa yang melengking. Dan sembilan bulan, penyair besar itu juga bersemayam dalam perut Fana Ismi, perempuan dengan mata bak rasi bintang dalam kolam, yang membuat para lelaki rela mati untuknya dan perempuan itu pun mati karena kecantikannya.
__ADS_1
Penyair besar G. Kumal Aksara di atas panggung dengan jutaan ribu penonton yang menyaksikan, hendak mengulang sejarah yang pernah terjadi pada ayahnya. Ia ingin mati untuk mengakhiri hidup yang fana secepat mungkin. Dan sebelum hal itu terjadi, ia pun menyampaikan satu dua bait pidato, yang mengatakan, “Perempuan dan kuburan itu sama, sama-sama tempat terakhir tuk berpulang. Ya, mungkin. Mungkin saja”.
__ADS_1
Dan G. Kumal Aksara pun mengeluarkan sepucuk pistol, pistol itu ia lekatkan pada pelipis kepalanya sendiri. Dan sebelum ia menarik pelatuk tuk mengakhiri hidup, tetiba seorang perempuan datang dan memeluk tubuhnya dari belakang. “Cukup, Mal, cukup,” pinta Arin dari belakang. “Aku sudah mengetahui semua tentangmu dari ibumu. Dan aku tahu pula, sekarang kamu berada di bibir jurang yang begitu curam.”
__ADS_1
“Baiklah,” balas Arin dengan tenang. “Jika kamu ingin mati, maka bawalah aku mati bersamamu.”
__ADS_1
Blek! Suasana menjadi hening yang menciptakan bimbang di hati Kumal. Ya, Penyair Besar G. Kumal Aksara hanya perlu memilih, kuburan atau perempuan?
__ADS_1