PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
APAKAH KAMU BENAR-BENAR HANTU?


__ADS_3

“Jadi, bapakmu dulu adalah penjaga dan penggali kuburan?” tanya hantu cantik itu sembari melayang-layang di hadapan Kumal.


Kumal mengangguk membenarkan. Hem, entah bagaimana mereka berdua dapat akrab secepat ini. Padahal, Tadi Kumal sangat ketakutan sehingga tidak kuasa untuk berdiri lagi, dan hantu cantik itu juga mencoba mempermainkan pemuda yang baru membuka mata batinnya.


“Kamu pasti sangat menyayanginya. Hem, aku jadi ingin menemui bapakmu itu.”


“Bapakku sudah meninggal,” jawab Kumal cepat. Ia menundukkan kepala dan terlihat bersedih.


“Maafkan aku,” hantu cantik itu merasa bersalah. “Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masalah itu.”


“Tidak apa, Nona. Lagian, sebentar lagi mungkin aku akan bertemu dengannya.”


Hantu cantik itu melayang-layang dan mendekat karena penasaran dengan ucapan Kumal. “Bertemu? Apakah bapakmu adalah hantu sepertiku”.


“Bukankah mata batinku sudah terbuka, jadi aku bisa melihat bapak lagi meski sudah meninggal.”


Hantu cantik itu menepuk jidat, ia lupa, bahwa Kumal baru saja membuka mata batinnya, yang artinya pemuda itu masih pemula. Hantu Cantik terdorong untuk menjelaskan perihal hantu lebih rinci lagi. Ia merasa perihal itu penting bagi pembuka mata batin pemula seperti Kumal.


“Dengarkan aku baik-baik.” Hantu Cantik melayang dan duduk di atas nisan di sisi Kumal. “Tidak semua orang meninggal akan menjadi hantu, wahai Bocah.”


Kumal terkesiap. “Maksudmu, aku tidak akan bisa bertemu dengan bapak? Mengapa? Kenapa?”


“Dengarkan aku dulu, Bocah, jangan membantah sebelum orang dewasa selesai berbicara.”


“Aku tidak suka kamu memanggilku bocah,” ungkap Kumal begitu kesal dengan panggilan ‘Bocah’.


“Kenapa kamu tidak suka kupanggil bocah, bukankah kamu memang masih bocah?”


“Kamu tidak lihat, kita ini sepatar. Kenapa hantu menjengkelkan sepertimu bersikap seolah-olah kamu yang lebih tua.”


“Hem,” Hantu Cantik berpikir sejenak. “Berapa umurmu?”


“Dua tiga. Kamu?”


“Bila dihitung-hitung lagi mungkin umurku sudah empat atau lima puluh tahunan.”


Kumal melongo heran. “Bagaimana bisa kamu setua itu, padahal kamu benar-benar terlihat masih muda dan cantik?”

__ADS_1


Hantu Cantik cekikan dan tersipu malu mendengar itu. “Tidak usah memujiku ‘cantik’ segala.”


“Memang begitu kenyataannya.”


“Kamu terlalu jujur, Bocah. Baiklah, aku akan menjelaskan biar kamu tidak kebingungan dan memperlihatkan raut wajah seperti kerbau.”


Kumal agak kesal saat Hantu Cantik menyebut dirinya seperti Kerbau. Selain ‘bocah’ kata ‘kerbau’ juga cukup menghinanya. Dan seperti yang Hantu Cantik bilang, ia tidak akan membantah sebelum hantu itu menyelesaikan penjelasannya.


“Hantu itu tidak menua, Bocah. Ia tidak akan beruban maupun keriput. Hantu bisa dibilang abadi. Umur dan pakaian yang dipakai manusia sebelum dijemput kematian, akan mempengaruhi rupa dan pakaian ketika ia menjadi hantu. Jika mati muda dan ia menjadi hantu, maka ia akan menjadi hantu. Jika mati di umur tua dan menjadi hantu, maka ia pun menjadi hantu yang renta. Jika mati ketika masih balita dan menjadi hantu, maka ia pun menjadi hantu bayi, meski jarang ada hantu bayi di dunia ini.”


Kumal manggut-manggut mendengarkan penjelasan Hantu Cantik, lantaran semua itu bisa menjadi ilmu berguna baginya sebagai orang yang telah membuka mata batin. Tidak hanya itu, Hantu Cantik juga menjelaskan banyak hal yang berkaitan dengan hantu.


Hantu Cantik bilang, tidak semua orang meninggal akan menjadi hantu. Orang meninggal akan menjadi hantu, bila ada urusan yang belum terselesaikan tatkala masih hidup. Perihal itu juga bisa disebut dengan arwah gentayangan. Jadi maka dari itu, belum tentu Kumal dapat bertemu dengan bapak, karena mungkin bapak sudah tenang di surga sana.


Hantu Cantik juga bilang, bahwa pakaian yang dipakai hantu adalah pakaian terakhir yang ia pakai sebelum meninggal. Lantaran Hantu Cantik meninggal di rumah sakit, tidak heran bila ia memakai pakaian pasien seperti sekarang. Selain itu, hantu juga bisa merasakan kelaparan, sakit hati, dan gembira. Hantu tidak seperti yang dibayangkan oleh Kumal, tidak semua hantu itu buruk rupa, hantu buruk rupa adalah hantu yang meninggal karena kecelakaan atau lebih tepatnya, sebelum meninggal manusia itu memiliki luka yang cukup parah.


“Apa hantu juga berak?” tanya Kumal agak konyol.


Namun, ia benar-benar penasaran akan hal itu.


Kumal mengangguk meski tidak terlalu mengerti. Kini ia sadari, hantu perempuan yang sedang marah lebih menakutkan daripada apa pun di muka bumi ini.


Dan tanpa mereka sadari, mereka berdua telah berbincang-bincang banyak hal dan mereka juga kian dekat satu sama lain. Malam juga sudah semakin larut, burung-burung malam yang tadi terus mengoceh, kini telah membisu dan hanyut di kekelaman malam. Bintang-bintang memudar dan bulan masih tergantung di langit menunggu pangeran fajar datang menggantikan.


Kumal juga hendak permisi untuk pulang ke kontrakan, sebab tidak baik bujang seperti dirinya berdiam diri di kuburan terlalu malam. Namun, hal-hal tidak terduga kembali datang seperti deretan kereta yang menunggu giliran guna memasuki stasiun. Kala ia hendak beranjak pergi untuk pulang, suara aneh menggema di pemakamam umum itu. Suara itu tampak memanggil seseorang. “Di mana kamu berada, Fi ... kakanda datang untuk menjemputmu. Fi... tolong jawab kakandamu ini.”


Mendengar suara aneh itu, Hantu Cantik langsung saja melayang dan bersembunyi di punggung Kumal. Ia tampak ketakutan terhadap suara aneh itu. “Bawa aku pulang bersamamu, Bocah,” mohon Hantu Cantik dengan raut imut, sontak membuat Kumal agak terperangah.


“Mana mungkin aku membawa pulang seorang perempuan ke kontrakanku. Apa kata orang nantinya.”


“Apa kamu lupa, aku ini hantu. Tidak akan ada orang yang menyadari bahwa aku berada di kontrakanmu itu.”


“Kamu benar, kamu adalah ha... ha... hantu.”


“Hem, sepertinya penyakit takutmu kambuh lagi,” tanggap Hantu Cantik setelah menyadari tubuh Kumal mulai gemetaran lagi. “Tapi daripada kamu takut pada hantu cantik sepertiku, lebih baik kamu takuti hantu sialan yang akan segera datang.”


“A.. a... apa ha.. ha .. hantu itu memiliki wajah yang bu.. ruk ru... ru... rupa?”

__ADS_1


“Tentu saja, hantu itu memiliki wajah buruk yang lebih buruk daripada buruk rupa,” sahut Hantu Cantik dengan ekspresi dibuat menyeramkan, tapi meski begitu, ia masih terlihat manis.


“Ba.. ba... baiklah kalau begitu.”


Mereka berdua pun berlari lintang pukang menuju kontrakan yang tidak jauh dari pemakaman. Di perjalanan, Kumal bertanya siapa gerangan hantu yang telah mencari Hantu Cantik. Dan Hantu Cantik bilang, hantu itu bernama Fadel, ia telah meninggal delapan abad lalu, yang berarti ia sudah pernah hidup di era kerajaan. Konon, semasa hidup ia tidak pernah memiliki satu perempuan sebagai pendamping hidup, sehingga ketika meninggal, ia pun melampiaskan dengan mengejar hantu-hantu perempuan. Tidak ada satu pun hantu perempuan yang mau dengan hantu bopeng seperti dirinya. Dan kini, ia seringkali mengejar Hantu Cantik dan ingin sekali menjadikan Hantu Cantik sebagai istri.


“Apa itu kontrakanmu?” tunjuk Hantu Cantik ketika melihat sebuah rumah bercat hijau dan mulai lapuk.


Kumal mengangguk yang pada akhirnya membuat Hantu Cantik melayang di depan pemuda itu. Hantu Cantik ingin segera sampai ke kontrakan itu, demi menghindar dari kejaran hantu jomlo yang hendak mencari jodoh. Namun, sesampai di ambang pintu Hantu Cantik malah berhenti dan menunggu kedatangan Kumal.


“Kenapa kamu tidak langsung masuk saja?” tanya Kumal heran, sesaat ketika ia juga sudah sampai di ambang pintu.


“Bagaimana bisa, pintumu terkunci.”


“Apa kamu benar-benar hantu?”


“Tentu saja.”


“Kenapa kamu tidak menerobos saja, sebagaimana hantu pada umumnya.”


Hantu Cantik menggasak kepala Kumal dengan kepalan tangannya, dan itu cukup menyakitkan. Hantu itu dapat menyentuh Kumal sesuka hati. “Kamu terlalu banyak menonton film,” semprot Hantu Cantik. “Hantu sesungguhnya tidak dapat menerobos dinding meski ia adalah hantu. Hanya tiga hal yang membedakan manusia dan hantu, dan pasti kamu mengingatnya, karena tadi aku sudah menyebut tiga hal itu berkali-kali.”


“Jadi, kamu juga dapat menyentuh manusia?”


“Kamu terlalu banyak pertanyaan, tidak sebaiknya kamu buka pintu ini dulu.”


“Maaf, Nona, aku hanya penasaran,” Kumal merasa bersalah karena terlalu banyak bicara, ia pun segera mengambil kunci di sakunya, lantas membuka pintu itu.


Sembari masuk ke dalam kontrakan, Hantu Cantik pun menjawab pertanyaan yang sempat tertunda, “Mata batinmu sudah terbuka. Kamu tidak hanya dapat melihat hantu, tapi kamu juga dapat menyentuh hantu, menghajar hantu, bahkan kamu juga dapat bercinta dengan hantu.”


Kalimat terakhir Hantu Cantik, membuat pipi Kumal memerah karena malu. Ia tidak berpikir sejauh itu, meski ia tidak benar-benar menginginkan hal itu.


“Di mana kamarmu,” tanya Hantu Cantik kemudian. Spontan Kumal menunjuk ke arah pintu yang terbuka tanpa ia sadari. Hantu Cantik pun menyerobot masuk ke dalam kamar, dan Kumal pun menepuk jidat.


Saat Kumal menyusul ke dalam kamar, Hantu Cantik telah berada di atas kasur, ia terlelap bahkan sampai mendengkur. Ia terlihat sangat kewalahan. Kumal setengah tidak percaya akan pemandangan ini, ia melihat sosok hantu tidur begitu nyenyak. Ada yang janggal atau memang pada dasarnya hantu yang sesungguhnya itu juga bisa lelah dan butuh tidur?


Kumal malas guna berpikir lebih jauh lagi. Ia menguap lebar, mengantuk dan juga letih. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tubuh kasur pula, lantas menganggap kejadian-kejadian aneh malam ini sebagai mimpi belaka. Hem, semoga semua ini memang hanya mimpi, batinnya.

__ADS_1


__ADS_2