
Arin duduk termangu di dalam kamar. Ia memikirkan Kumal, seseorang yang sangat ia cintai juga teman masa kecilnya. Sudah lama ia tidak berjumpa dengan lelaki itu, semenjak kencan yang hancur lebur itu, mereka tidak lagi bertemu juga tidak hendak berusaha untuk bertemu.
Arin memandang ke arah jendela, di jendela itu terdapat kenang-kenangan seorang Kumal dalam kepalanya. Ia ingat, bagaimana suara Kumal terdengar dari jendela itu. Meski lama tidak bertemu, ia masih hafal dengan suara itu, suara lembut juga sedikit gugup itu. Arin ingat betul, bagaimana paman petani menuduh Kumal yang tidak-tidak. Paman petani menuduh Kumal sedang mengintip Arin. Ha-ha, Arin cekikikan mengingat itu.
Dulu, Arin masih berani memutuskan tuk bersua dengan Kumal setelah lama tidak bertemu. Sekarang, keberanian itu telah hilang. Kumal yang sekarang sudah benar-benar terkenal, ia berhasil menggapai impiannya, menjadi seorang penyair cinta tersohor melebihi idolanya, Gemala.
Kini, derajat Arin dan Kumal sudah jauh berbeda. Bukan hanya sebatas antara lulusan SMA dan sarjana, melainkan, antara superstar dan penggemarnya. Arin tidak bisa mendekati Kumal lagi, Kumal sudah terkenal, ia bisa memilih perempuan mana pun yang ia suka. Seorang Arin, hanya dapat mencintai dari jarak jauh, juga membaca kumpulan syair Penyair G. Kumal Aksara.
Ya, Arin hanya dapat mendukung Kumal dengan membaca syair-syairnya.
Kemudian, saat Arin tengah melamun membayangkan kehadiran Kumal, tetiba pintu menderit dengan sendirinya. Arin terperanjat, bulu-bulu kuduk berdiri, dan ia pun merasa merinding di sekujur tubuhnya. Arin ketakutan, ia menekuk lutut, dan mencoba melihat ke luar kamar, dan ya, benar-benar tidak ada siapa-siapa.
Apakah ada hantu di kamar ini? pikir Arin sungguh gemetaran. Namun, mana ada hantu di siang bolong, jerit Arin dalam hati. Ia masih belum memastikan, seseorang yang membuka pintu kamar adalah hantu atau bukan. Arin ingin menjerit, namun, ia ingat, bahwa Bu Yunit sedang pergi ke rumah tetangga.
Dan seketika angin mendesir dari arah jendela, membuat rambut Arin berkibar, dan membuat tubuh perempuan itu kedinginan. Arin kian bergidik ngeri. Dan lebih mengerikan lagi, saat ia melihat meja rias berguncang-guncang. Arin hendak menutup mata, namun, tubuhnya seketika bergeming.
Arin pun memekik meminta pertolongan, tatkala ia melihat dengan mata kepala sendiri, sebuah lipstik tetiba melayang di angkasa. Tidak ada yang mendengar teriakan Arin. Arin hendak kabur, tapi, langkahnya terhenti tempo ia mendapati tulisan itu. Tulisan yang dibuat dengan lipstik di kaca rias. SAYA IBU KUMAL, begitulah yang tertulis.
__ADS_1
Membaca tulisan di kaca rias, Arin mencoba tuk duduk tenang dan hendak mendengarkan pesan yang ditulis oleh Hantu Cantik.
***
Hantu Cantik seketika menghilang lagi, perihal itu membuat kondisi Kumal kacau balau. Ia seperti tidak memiliki daya untuk hidup, rambutnya acak-acakkan, mukanya kusut, matanya terdapat lingkaran hitam, bibirnya kering, pakaiannya juga compang-camping. Kumal benar-benar merasa kehilangan untuk yang kedua kali.
Para wartawan yang datang ke rumah besarnya, ia usir. Para penggemar yang hendak minta tanda tangan di suatu jalan, ia maki-maki. Bahkan, bila ia mendengar seekor anjing menggonggong ke arahnya, ia anggap seperti menghina, ia pun mengambil batu guna menimbuk anjing sialan itu.
Ya, untuk saat ini, Kumal tidak butuh ketenaran, kekayaan, bahkan banyak penggemar. Ia tidak butuh pakaian baru, mobil mahal, juga rumah megah. Ia tidak butuh itu semua, sebab, ia hanya membutuhkan Fana Ismi.
Kumal sudah tahu segalanya, bahwa ia adalah putra dari penyair tersohor bernama Gemala. Ia juga tahu, bahwa Anggi Kusuma adalah bapak angkat, juga suami Fana Ismi. Ia pun tahu, Fana Ismi yang beberapa saat menjadi kekasihnya, ternyata adalah ibunya. Tapi masa bodoh, Kumal tidak mempedulikan akan hal itu. Ia telanjur mencintai Fana Ismi, telanjur memiliki kenangan indah bersamanya, juga terlanjur menjadikan Hantu Cantik sebagai kekasih.
Kumal mencari hantu cantik ke mana-mana, lamun, ia belum kunjung jua mendapati senyuman itu, senyuman manis Fana Ismi. Kemudian, terlintas dalam pikiran Kumal sebuah kuburan. Banyak kuburan dalam kepala Kumal. Kuburan tempat ia dan Fana Ismi bertemu pertama kali. Kuburan Gemala, tempat yang dicari-cari Fana Ismi selama ini. Kuburan bapak, tempat awal mula Fana Ismi menyadari, bahwa Kumal anaknya. Ya, waktu itu, Fana Ismi ketakutan dan seketika melayang pergi.
Tetiba Kumal pun berlari cukup kencang menuju kuburan tempat ia dan Fana Ismi berjumpa pertama kali. Tatkala Kumal berlari, kakinya berulang kali tersandung batu. Sakit? Lebih sakit lagi bila ia tidak bersua dengan Fana Ismi lagi. Dan benar, sesampainya ia di pemakaman itu, ia melihat Fana Ismi duduk di atas nisan, seperti memang sengaja menunggu.
“Fi,” panggil Kumal, membuat Hantu Cantik menoleh dan mendapati sang anak. “Kenapa kamu pergi begitu saja, Fi? Kenapa, Fi? Apa karena kebenaran sialan itu, kebenaran bahwa aku adalah anakmu. Sudahlah, Fi, jangan pedulikan perihal tidak masuk akal itu. Aku tetap mencintaimu, Fi, sekali pun kamu adalah hantu, sekali pun juga kamu adalah ibuku.”
__ADS_1
“Tunggu! Jangan mendekat!” pekik Fana Ismi. Ia menatap nyalang ke arah Kumal yang hendak berjalan mendekati. “Kamu harus sadar, Mal. Kamu harus sadar! Kamu anakku, dan aku ibumu. Kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih.”
“Tidak! Ibuku telah mati!”
“Ya, ibumu telah mati, dan sekarang, dia ada di depanmu,” balas Fana Ismi tidak mampu membendung air mata. “Mal, aku bahagia melihatmu sudah tumbuh dewasa, menjadi lelaki yang tampan seperti ayahmu. Meski, aku melihatmu dari mata seorang hantu. Aku juga berterima kasih pada Mas Anggi Kusuma, Mal. Meski ia tidak menepati janji, tapi ia telah merawatmu penuh kasih sayang seperti anak sendiri. Mal, rasa sayangku padamu, hanya sebatas rasa sayang seorang ibu kepada anaknya, bukan rasa sayang sepasang kekasih.”
“Tidak!” pekik Kumal mendengar itu. “Kamu kekasihku, dan selamanya akan menjadi kekasihku.”
“Mal,” lanjut Fana Ismi tidak menghirau ucapan Kumal. “Kamu ingat, saat kita berada di kuburan ayahmu dan aku mengucapkan selamat tinggal pada ayahmu?”
Kumal mengingat itu. Kumal mengira, Hantu Cantik akan menghilang. Namun, ternyata tidak. Ia tetap ada di muka bumi ini dan hidup bersama Kumal.
“Aku tidak menghilang, bukan? Ha-ha, aku lupa, Mal. Aku lupa bahwa urusan duniaku yang belum terselesaikan, bukanlah mengucapkan selamat tinggal pada selingkuhanku. Urusan duniaku yang belum terselesaikan adalah ...” Fana Ismi tersedu-sedu nyaris tidak dapat meneruskan kata-katanya. “Urusan duniaku yang belum terselesaikan adalah mengucapkan selamat tinggal pada anakku. Selamat tinggal, Kumal, selamat tinggal. Jangan lupa makan ya, biar cepat gede.”
“Tidak, tidak, tidak,” racau Kumal sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ia melihat tubuh Hantu Cantik menjadi serpihan-serpihan cahaya. Serpihan-serpihan itu begitu kecil dan satu persatu terbang ke langit dan menghilang. “Tunggu, tunggu, tunggu, Fi. Jangan pergi, Fi, jangan pergi. Aku mencintaimu, dan aku tidak bisa hidup tanpamu,” mohon Kumal dengan amat sangat.
Namun, cahaya-cahaya itu tidak menggubris. Cahaya-cahaya itu melambung tinggi, pergi, dan menghilang. Cahaya itu membuat tubuh Fana Ismi lenyap dari muka bumi ini, pergi, terbang entah ke mana, ke surga? atau mungkin tidak.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Kumal. Ia tidak bisa terbang, ia juga tidak bisa mengejar Fana Ismi, sosok yang pernah menjadi teman, kekasihnya, dan sekarang menjadi ibunya.
Kumal hanya dapat menjerit meratapi nasib, membuat burung-burung di pemakaman beterbangan, seolah tidak sudi berada di dekat-dekat orang yang sedang luka hatinya. Dan Semenjak itu, seorang penyair terkenal bernama G. Kumal Aksara, mengaku tidak memiliki kehidupan lagi.