PEREMPUAN DAN KUBURAN

PEREMPUAN DAN KUBURAN
PUNCAK GEMALA


__ADS_3

Penantian Gemala menyisakan gelombang harap yang terkekang oleh janji. Kekasih telah berjanji untuk kembali ke dermaga itu dan hidup bersama sebagai sepasang merpati. Namun, ia tidak kunjung kembali. Di dermaga itu, Gemala melihat bayang-bayang punggung Kekasih yang pergi menjauh.


“Maafkan aku, Kang. Aku butuh waktu untuk menjelaskan tentang hubungan terlarang ini pada suamiku. Meski membosankan, ia tetap lelaki baik, Kang. Aku tidak mau meninggalkannya, tanpa berpamitan terlebih dahulu,” tutur Kekasih tidak kuasa menahan genangan air di matanya lebih lama lagi. “Tapi aku janji, Kang. Aku janji akan kembali. Aku hanya perlu berpamitan pada suamiku, aku yakin, ia akan mengerti meski sedikit perih.”


“Tapi bagaimana bila kamu tidak kembali, Purnamaku?” tanya Gemala dengan raut cemas juga gelisah.


“Aku pasti kembali, Kang. Percayalah padaku,” tatap Kekasih sembari merenggut tangan Gemala dan mengenggamnya erat. “Tapi kumohon, Kang. Sebelum aku kembali menemuimu, jangan pernah kamu mencoba untuk menemuiku. Biarkan aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah keluargaku ini. Kang, maukah kamu mengenggam janji ini?”


Terasa berat untuk Gemala guna mengiyakan permintaaan Kekasih. Namun, tidak ada alasan pula baginya untuk menolak permintaan dari perempuan yang sangat ia cintai. “Sungguh aku tidak memiiki alasan untuk tidak menepati janji itu, Purnamaku. Itu sudah menjadi keputusanmu. Namun, kuharap dan kumohon, tepatilah janjimu untuk kembali.”


Kekasih melempar senyum, dan hari itu juga hari terakhir Gemala melihat senyumannya. Ia tidak dapat lagi melihat segala keindahan yang terdapat pada diri Kekasih. Rupa macam purnama itu. rambut hitam terurai juga lembut dibelai angin itu. Alis tipis menukik itu. Bulu mata melambai itu. Mata bak rasi bintang dalam kolam itu. Hidung landai sedikit berair itu. Bibir merah merekah bagai hati semangka itu. Dagu lebah bergantung itu. Tubuh ramping itu. Dada serupa mangga itu. Gerak tubuh itu. Dan watak lembut yang nakal itu. Semua tersimpan baik-baik dalam kenangan. Ya, hanya dalam kenangan.


Dan Gemala hanya bisa menunggu dan menunggu. Di dermaga itu, rambut gimbalnya berkibar diterpa angin dari timur laut. Saban hari ia pergi ke dermaga itu dan berharap, Kekasih berlari kecil ke arahnya. Namun nihil, kekasih tidak datang dan tidak mungkin datang. Dan saat Gemala menyadari hal itu, kerutan di wajahnya pun tampak berlipat-lipat. Ia bagai pelita kehabisan minyak.


Gemala pulang dan memorakporandakan seisi kamar. Gelas ia pecahkan, kasur ia cabik-cabik, dan kaca ia pecahkan dengan tinju. Darah mengalir dari kepalannya dan tangis membanjiri muka masamnya. Ia benar-benar kehilangan arah, ia tidak tahu harus ke mana dan bagaimana, ia ingin membuang segala ingatan tentang perempuan itu dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.


Ia mengambil selembar kertas dan pena. Tidak ada tinta. Ia memeras darahnya sendiri. Dan dengan pena bertinta darah ia menulis segala penderitaan di tubuh kertas. Ia berharap, dengan menulis penderitaan menghilang dalam dirinya. Ia ingin melempar rasa marah, sesal, dan sedih ke dalam kertas. Ia pun mulai menulis syair-syair luka. Syair yang ditelantarkan oleh cinta.


Gemala tertawa, lantas kembali bersedih, dan kemudian ia menulis syair lagi. Gemala menangis, lantas gembira, dan kemudian ia menulis syair lagi. Ribuan lembar kertas telah ia isi dengan syair, namun, kesedihannya masih melekat abadi dalam diri. Nyaris tiap menit ia menulis. Kumisnya mulai tumbuh, disusul jenggot, kemudian ia menjadi sosok penyair gimbal dan berewokan.

__ADS_1


Ia terlihat seperti orang gila, tidak dapat mengendalikan diri dan juga mengurus diri. Rambutnya awut-awutan, bajunya compang-camping, tubuhnya bau lantaran sudah lama tidak mandi. Ia terus meratap, menulis, dan jiwanya mengambang di atap angan-angan.


Dan saat ia berhasil menulis ribuan syair, Gemala yang kehilangan kendali, meraup ratusan kertas dalam genggaman. Ia tertawa membayangkan senyum Kekasih di dermaga. Ia ingin memperlihatkan syair-syair itu pada kekasih. Namun, seperti yang sudah-sudah, Kekasih masih belum kembali dan tidak akan mungkin kembali.


Gemala seperti kupu-kupu dengan sayap terkoyak-koyak. Ia sudah menulis tapi kenangan tidak akan pernah hilang. Ia pun menjauhi dermaga, berjalan gontai menuju rumah. Di perjalanan, ratusan kertas yang ia genggam, jatuh satu persatu ke muka tanah. Syair-syair itu pun mendapati pembacanya. Seseorang telah memungut dan membacanya.


Baru kali ini, pemuda itu membaca syair yang dapat meremukkan dada dan memekarkan bunga secara bersamaan. Pemuda itu berdecak kagum dan ia sangat ingin bertatap langsung dengan penyairnya.


“Ambil saja syair-syair ini semuanya! Aku tidak butuh syair-syair durjana ini! Aku hanya butuh purnamaku. Ya, aku hanya butuh purnamaku. Oh, purnamaku!” pekik Gemala saat pemuda itu menemuinya dan meminta beberapa syair lagi untuk ia baca.


Pemuda itu terenyuh melihat keadaan Gemala yang bagaikan gelas di bibir meja. Pemuda itu tidak kuasa membendung tangis, ia ikut bersedih, meski ia tidak tahu derita apa yang telah Gemala alami. Pemuda itu pun bertekad untuk mengangkat nama Gemala di depan khalayak umum. Ia yakin, derita Gemala akan menjadikan nama penyair itu tenar seketika.


Pemuda itu memungut syair-syair Gemala yang berserakan di lantai kamar. Ia membawa pulang syair-syair itu. Kebetulan pekerjaan pemuda itu di bidang penerbit. Ia memperlihatkan syair-syair kepada semua orang yang bekerja di sana. Tatkala semua orang telah terkagum-kagum, syair-syair itu pun dikumpulkan menjadi satu sehingga menjadi kumpulan syair cinta milik Penyair Gemala.


“Syair ini benar-benar hebat!” pujian semacam itu kini telah bertebaran di mana-mana. Dari yang muda hingga yang tua, dari yang masih sekolah hingga yang sudah berumah tangga, dari laki-laki hingga perempuan, semua berdecak kagum di hadapan syair Gemala.


Buku kumpulan syair itu laris dan terus dicetak hingga ratusan ribu eksemplar. Kini, nama Gemala menjadi sosok yang misterius dan kerap didendangkan. Banyak pecinta yang mengungkap rasa pada perempuan-perempuannya menggunakan syair Gemala. Di warung kopi, di tempat kerja, di sekolah-sekolah, semua membicarakan tentang syair dan Gemala.


Dan Gemala mendapat kekayaan lantaran hal itu. Pemuda yang dulu memungut syair-syairnya, tanpa permisi, telah menjadi manajernya. Pemuda itu membelikan Gemala rumah besar, mobil mewah, dan segala yang dibutuhkan oleh Gemala. Namun, meski demikian, Gemala enggan menunjukkan senyumnya. Ia tidak senang mendapat hal itu, yang ia inginkan hanya sang purnama yang tidak pernah kembali sampai detik ini.

__ADS_1


Hingga hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Para pengaggum akan dapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Penyair Gemala. Diadakanlah sebuah acara besar bernama, PUNCAK GEMALA. Ada jutaan orang datang, hanya sekadar untuk melihat langsung wajah dari penyair misterius yang telah menulis syair-syair yang begitu indah.


Gemala menaiki panggung. Orang-orang bersorak-sorak ria melihat itu. Sang pengisi acara mendekat, memberikan pengeras suara kepada Gemala yang masih dengan muka masamnya. Gemala diperintahkan untuk memberikan sambutan kepada para penggemarnya. Dan Gemala dengan senang hati menyetujui dan memang itu yang ia inginkan.


“Wahai para penggemar-penggemarku!” pekik Gemala di atas panggung. “Persetan dengan kalian semua!”


Jutaan orang malah kian berteriak gembira mendengar umpatan dari bibir Gemala.


“Aku tidak butuh kalian! Aku tidak butuh jutaan penggemar! Aku tidak butuh! Aku hanya butuh purnamaku! Ya, aku butuh purnamaku.”


Orang-orang terkagum-kagum mendengar kalimat selanjutnya. Perihal itu menandakan, bahwa Gemala tidak gila akan ketenaran. Ia tetaplah Gemala yang dulu, meski ia sudah tersohor dan berlimpah harta, Gemala hanya akan menulis syair untuk perempuan misterius yang sangat ia sukai.


“Kalian terlalu memuja cinta, Sialan! Sehingga orang-orang seperti kalian lupa, bahwa luka juga bisa cemburu.”


Boom! Ledakan pujian pun melihat dari jutaan ribu bibir di bawah panggung mendengar kata-kata yang serupa syair itu.


Namun ,sorak meriah itu tidak berlangsung lama. Seketika suasana menjadi hening, tatkala Gemala merogoh saku dan mengeluarkan sepucuk pistol dari tangannya. Ia mengacungkan pistolnya, sengaja memperlihatkan pistol itu dihadapan jutaan ribu orang di bawah panggung.


Semua orang panik. Penggemar panik. Pengisi acara panik. Polisi panik. Manajer juga panik. Mereka semua takut menjadi korban dari sasaran peluru yang bisu. Dan suasana menjadi semakin lengang, tatkala Gemala mengarahkan moncong pistol ke arah pelipisnya.

__ADS_1


Dor! Gemala mengakhiri hidupnya sendiri di atas panggung. Semua orang bersedih, meski sebelumnya mereka merasa takut dan panik. Tanpa disadari, penderitaan Gemala pun telah sampai di dasar hati para penggemar.


Semenjak itu, nama Gemala malah semakin terangkat dan terangkat. Gemala mati meninggalkan syair, cerita, nama dan satu kalimat terakhir, “Aku sudah kalah!”


__ADS_2