
Perkembangan Kumal Kecil cukup pesat, tidak hanya mahir membaca dan menulis namanya sendiri, ia juga mengantongi segundang prestasi, lebih-lebih lomba yang berkaitan dengan puisi.
Di sekolah, Kumal kerap mendapat predikat pertama, dan itu membuat Arin yang predikat kedua sering kali merasa iri. Mengingat, guru pertama Kumal adalah Arin. Sehingga Arin, si guru, sangat malu bila kalah terus-terusan pada Kumal Kecil.
Arin terus belajar dan berusaha guna menandingi dan mengejar pencapaian Kumal. Ia ingin menang soal kecerdasan dengan Kumal. Ia tidak mau bila terus-terusan kalah pada Kumal. Namun, sejauh ini, ia pun belum bisa mengejar Kumal, meski ia telah berusaha mati-matian untuk belajar sepanjang waktu.
Menandingi dan hendak mengejar Kumal, Arin ibarat mengejar seekor kicah yang sedang berlari. Tidak peduli segigih apa pun Arin berusaha, tidak peduli seraji apa pun gadis itu belajar, ia tidak akan dapat mengejar Kumal. Sebab anak itu, juga terus belajar dan belajar demi membanggakan bapak dan tidak ingin menjadi pecundang. Meski Arin telah bertambah pintar, maka Kumal juga bertambah pintar.
Kecerdasan Kumal pun terbuktikan, saat ia mendapat beasiswa dari sebuah universitas di kota. Ia pun memperlihatkan beasiswa itu pada bapak. Bapak ikut senang, bapak mengijinkan Kumal untuk kuliah di kota, meski nantinya, bapak pun akan kesepian. Semua bapak lakukan, demi kebahagiaan Kumal.
Oh, betapa bangga seorang Kumal, ia berhasil menginjakkan kaki di bangku kuliah dan beradaptasi di lingkungan baru. Ia sangat senang, umpama burung yang baru lepas dari sangkar bernama kuburan. Ya, semenjak itu, ia pun tidak lagi harus tidur bersama deretan kuburan di pemakaman umum.
Di bangku kuliah, Kumal terkenal dengan si calon penyair cinta. Bagi kawan-kawannya, ia adalah sang dokter cinta, sehingga selalu memberi saran apa-apa yang berhubungan dengan cinta, meski ia sendiri belum menemukan seseorang yang dapat disebut cinta sejatinya.
Dan selama Kumal ada di luar kota, bapak kerap mengirimi surat atau pun uang hasil menggali kuburan. Kumal sangat bangga memiliki bapak seperti Anggi Kusuma. Meski ia selalu tertawa tidak jelas, miskin, dan tinggal di pemakaman umum, ia tetaplah bapak terbaik bagi Kumal.
__ADS_1
Segala pencapaian Kumal, semua karena keteguhan bapak dalam mendidik Kumal. Bapak mengajarkan beberapa pantangan, bapak juga mewanti-wanti Kumal untuk tidak menjadi pecundang. Bapak melindungi Kumal, bapak juga merawat Kumal sebaik mungkin. bagi Kumal, bapak adalah cahaya terang yang menyelamatkan ia dari jurang kegelapan.
***
Anggi Kusuma sudah tak muda lagi, ia tidak memiliki kekuatan seperti dulu. Ia telah menua, rambutnya mulai memucat, Kulitnya mengendur berlipat-lipat, giginya satu persatu pergi, dan belum lagi encok-encok yang kerap datang dan berlarian di lengan maupun betis. Meski begitu, Anggi Kusuma tetap berusaha tuk bekerja, demi sang anak yang kuliah di kota.
Anggi Kusuma tetap bekerja, meski encok-encok datang tanpa permisi dan sebelum pada akhirnya Bobi dan kawan-kawan datang tuk mengacau. Mereka—Bobi dan kawan-kawan—tumbuh menjadi seorang berandal, mabuk-mabukan, berjudi, main cewek, dan menghamburkan banyak uang.
Waktu itu, Bobi dan kawan-kawan sedang mabuk-mabukan di area pemakaman di siang bolong. Salah satu kawan Bobi melihat Anggi Kusuma tengah menyapu daun-daun kering di area pemakaman itu. “Lihatlah, Bobi, bukankah itu bapaknya Kumal,” tunjuk salah satu kawan pada kawan-kawan lain.
“Hai, Pak Tua, ingatkah kamu pada kami,” sapa Bobi pada Anggi Kusuma. Tubuhnya sedikit oleng.
Anggi Kusuma bermaksud tidak menghiraukan tiga anak berandal itu. Ia ingin segera pergi dari hadapan mereka. Namun, seketika Bobi memegang tangan Anggi Kusuma begitu erat, sehingga untuk lari pun Anggi Kusuma tidak bisa. “Mau ke mana, Pak Tua. Kami sudah kangen digampar olehmu,” ejek Bobi yang kemudian disusul oleh tawa kawan-kawannya.
Anggi Kusuma meronta dan melepaskan diri, lantas ia menggampar anak-anak berandal itu satu persatu. “Baiklah, jika kalian merindukan tamparanku, hoho,” ucap Anggi Kusuma selepas menggampar dan ia sudah tidak bisa tertawa keras seperti dulu lagi.
__ADS_1
Tamparan itu mengingatkan Bobi dan kawan-kawan pada masa lalu. Masa di mana ia gagal membuat Kumal bertekuk lutut. Masa di mana, mereka lari terbirit-birit karena Anggi Kusuma. Semua hal itu, benar-benar membuat mata mereka memerah, entah karena mabuk atau marah. Yang jelas, dendam kesumat tiga anak itu telah berhasil membawa Anggi Kusuma ke liang lahad.
***
Dan Kumal bermimpi buruk lagi tentang bapak. Kemarin lusa, ia bermimpi bapak berlari menjauh darinya. Kemarin, ia bermimpi bapak diganggu oleh Bobi dan kawan-kawan. Sekarang, ia bermimpi bapak menjerit ketakutan di antara deretan kuburan. Mimpi itu, bagaikan sobekan-sobekan pesan bapak yang harus tersampaikan.
Seketika Kumal pun mengkhawatirkan bapak, ia ingin pulang dan ia ingin segera berjumpa dengan bapak. Beberapa minggu ini, bapak memang sudah lama tidak mengirimi Kumal surat. Mungkin bapak sibuk, atau mungkin bapak memang sudah letih guna menulis surat, pikir Kumal berpikir positif.
Namun, mimpi-mimpi buruk yang datang secara bertubi-tubi membuat bayang-bayang tentang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi pada bapak semakin berdatangan. Kumal sangat mengkhawatirkan bapak. Rasa cemas menjadikan Kumal sebagai seekor kampret yang kerap dirundung gelisah saban malam. Ia tidak bisa tenang juga tidak bisa tidur.
Hingga akhirnya, Kumal pun memutuskan tuk pulang. Ia ingin memastikan bahwa bapak baik-baik saja. Tidurnya takkan nyenyak apabila ia tidak kunjung pulang dan memastikan hal itu.
Dan benar, sesampai di pemakaman, tempat Kumal dan bapak dulu tinggal, ia tak mendapati bapak sama sekali. Ia telah mencari ke mana-mana, namun, bapak belum juga menampakkan tawa anehnya itu. hoho, tawa itu bergentayangan di kepalanya dan membuat ia semakin cemas.
Kemudian, seseorang mencoba memberitahu kebenaran itu. Kebenaran bahwa bapak sudah meninggal dibunuh oleh Bobi dan kawan-kawan. Kini, Bobi dan kawan-kawan telah meringkuk di penjara. Air mata pun jatuh tanpa permisi. Betapa kabar itu melayang-layang di cuping telinga, bergulung-gulung di atap kepala, lantas terhempas jatuh di dada Kumal yang menyempit.
__ADS_1
Kumal menghampiri kuburan bapak yang masih baru. Ia berjalan ke arahnya dengan tergontai-gontai. Ia pun tersungkur malu di hadapan kuburan bapak. Ia menjotos muka tanah berkali-kali dan tidak peduli pada darah yang terus mengalir. Ia mengutuk diri, sebab kematian bapak, semua karena kepecundangannya. Ia tidak sanggup menjaga bapak dan menemani hari-hari terakhir.