
Ketika Fajar mulai merekah, terdengarlah kokok ayam jantan memecah kesunyian. Sungguh berjasa ayam jantan itu, ia rela bangun sepagi mungkin—tanpa mandi terlebih dahulu—untuk berdiri gagah di tempat tinggi guna membangunkan para manusia yang terkadang bersifat ‘bodoh amat’.
Kokok ayam membuat cuping telinga Kumal sedikit bergerak, dan tentu perihal itu masih belum cukup untuk membangunkan si tukang molor seperti dirinya. Andai jendela kamar tidak terbuka dan bias cahaya fajar mengenai mata kirinya, mungkin ia tidak akan bangun hingga tengah hari nanti.
Cahaya itu menciptakan silau di mata Kumal, ia terpaksa bangun, meski sebenarnya ia tidak ingin bangun. Ia beranjak dari kasurnya, duduk, mengucek matanya dan menyeka kotoran di sudut-sudut mata dengan jari telunjuk. Guna mengatasi pegal-pegal sehabis tidur, ia pun merenggangkan tulang-tulangnya sembari menguap lebar. Ia masih mengantuk.
Kumal ingin kembali merebahkan tubuh ke atas kasur, lamun, perihal tidak terduga tetiba mengurungkan niatan itu. Saat hendak merebahkan tubuh, ia merasakan ada yang janggal di sisinya. Ia mencoba menoleh, meski sebenarnya ia tidak ingin menoleh. Dan benar, terdapat perempuan cantik sedang terlelap manis di sisinya. Ya, mau dipastikan bagaimana pun, ia memang perempuan cantik.
Tentu, perihal perempuan cantik di kasurnya itu benar-benar membuat Kumal panik. Bagaimana bisa ada perempuan di kontrakan ini, sementara ia sendiri tinggal seorang diri. Yang lebih mencengangkan, perempuan itu dan Kumal tidur bersisian semalaman. Bagaimana bisa? Pertanyaan itu terus saja mengintai di cuping telinga Kumal. Pemuda itu bingung, harus bersyukur atau malah sebaliknya.
Kumal mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu, guna mengingat kejadian semalam yang nyaris ia lupa. Kumal mencekam kepalanya, duduk dengan tenang, pejamkan mata untuk kembali ke tempat ia berada semalam. Ya, ia mulai mengingat. Mengingat fragmen-fragmen kejadian tidak terduga yang terjadi semalam.
Meski begitu, perempuan cantik itu masih terlelap. Angin dari arah jendela telah membelai rambutnya dan memberikan rasa nyaman pada perempuan itu. Ia benar-benar tidak menyadari kepanikan yang terjadi pagi ini. Perempuan cantik itu bisa dibilang telah bersikap ‘bodoh amat’.
***
Sehabis menutup mata Kumal dan mengatakan kalimat menyebalkan seperti, “Aku akan membuka mata batinmu,” Pak Tua seketika menghilang. Kumal talah toleh guna mencari keberadaan Pak Tua. Namun, segencar apa pun ia mencoba mencari, Pak Tua memang sengaja tidak ingin menampakkan kumis tebalnya lagi.
Ke mana perginya Pak Tua itu? Kumal bertanya-tanya dalam hati. Pak Tua itu menghilang begitu cepat dan juga tidak meninggalkan jejak apa pun. Perihal itu membuat perasaan Kumal sedikit waswas, namun perlahan, pemuda itu pun memilih bersikap ‘bodoh amat’.
Masa bodoh dengan Pak Tua itu, pikir Kumal. Namun, jauh di dasar hati, ia masih penasaran dengan Pak Tua dan ucapannya yang mengatakan bahwa mata batinnya sudah terbuka. Konon, bila mata batin manusia telah terbuka, maka manusia itu dapat melihat rupa hantu. Ya, sekarang Kumal dapat melihat hantu.
Dan Kumal mencoba untuk menguji mata batin itu. Sedari tadi ia sudah berhadapan dengan pemakaman juga kegelapan, bukankah kata orang, hantu bergentayangan di kegelapan dan kuburan? Namun, tidak ada satu pun hantu yang menunjukkan wajah buruk rupanya ke hadapan Kumal. Aneh. Akan tetapi, sekarang ia semakin yakin, bahwa hantu memang tidak pernah ada di muka bumi ini.
__ADS_1
Lelah mencari hantu, Kumal pun hendak pulang ke kontrakan. Tidak ada alasan untuknya berlama-lama di tempat ini, kekasihnya telah lari terbirit-birit dan Pak Tua itu juga seketika lenyap tanpa jejak, memang lebih baik ia pulang.
Di perjalanan pulang, tetiba langkah Kumal terhenti, ia sengaja menghentikan langkahnya kala melihat perempuan cantik. Ia benar-benar terpesona akan keindahan wajah perempuan itu. Perempuan cantik itu duduk di atas nisan dalam keadaan murung, tapi meski begitu, ia masih tetap cantik.
Perempuan cantik itu memiliki rambut yang panjang juga lurus. Ia memakai baju kurung berwarna biru tua polos, sehingga membuatnya terlihat seperti pasien rumah sakit. Siapa perempuan cantik itu? Kenapa ia berada di sini malam-malam? Kumal tidak akan menggubris pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Ia mendekat, seperti seekor serigala yang tidak mau membiarkan mangsanya pergi.
Mungkin perempuan cantik itu adalah seorang pasien yang lari dari rumah sakit, karena tidak betah lagi bersama ratusan pil atau dokter yang selalu menampakkan jarum suntik. Atau mungkin, perempuan itu sama sepertiku, sama-sama terobsesi dengan kuburan. Begitulah yang terbesit di kepala Kumal. Ia lupa, bahwa mata batinnya telah terbuka.
“Hai, Nona Cantik, sungguh purnama kalah akan keindahan wajahmu,” sapa Kumal dengan merendahkan punggung. Perempuan itu agak tersentak dengan kehadiran lelaki tidak dikenal. “Bolehlah hamba mengetahui namamu, juga kenapa perempuan secantik Nona malah bermain-main di kuburan?”
“A..a... apa kamu dapat melihatku?” perempuan itu membalasnya dengan gugup.
Kumal memberikan segelintir senyuman, gugupnya perempuan itu, memberi ruang bagi pemuda untuk terus memberikan kata-kata indah. “Oh, Nona, apa maksudmu? Mana mungkin lelaki seperti hamba, menyia-nyiakan pemandangan dari seorang bidadari seperti anda.”
Sepertinya Kumal belum juga mengerti dengan perkataan perempuan itu. “Sudah barang tentu, hamba dapat melihat kecantikanmu ini, Nona.”
“Meski pun perempuan yang kamu puja-puja ini adalah hantu?”
“Ya, meski pun anda adalah ha...” kata-kata Kumal terpotong, ia terjungkal ke belakang, lidahnya seketika menjadi kelu. “Ha... ha... hantu? Jadi kamu hantu?!”
Perempuan itu mengangguk membenarkan.
tetiba peluh dingin pun menitik dari pori-pori tubuh Kumal. Mukanya seketika pucat. Bulu-bulu kuduknya berdiri. Lidahnya kelu dan sulit berkata-kata. Dan ia pun mulai meringsut ke belakang karena ketakutan.
__ADS_1
Namun, hantu itu malah cekikikan, dan tawanya benar-benar mirip seperti kuntilanak. Ia terpingkal-pingkal dan melayang-layang mengitari tubuh Kumal yang gemetaran. Hantu cantik itu hanya merasa lucu dengan tingkah anak muda di depannya.
Setelah puas menertawakan Kumal, hantu cantik itu pun beralih melayang mendekati telinganya. Kumal kian bergidik ngeri melihat hantu itu mendekat, meski pun hantu itu memang cantik. Hantu cantik itu berbisik, “Wahai pemuda rupawan, apakah kamu masih mau merayu nona hantu sepertiku?”
Kumal cepat-cepat menggelengkan kepala, “Tidak! Tidak! Aku tidak mau.”
Hantu itu melayang menjauh beberapa langkah. “Kenapa?” hantu cantik itu bertingkah seolah-olah terkejut. “Kenapa kamu tidak mau merayuku lagi? bukankah aku cantik.” Hantu itu memasang wajah manis dan wajahnya pun benar-benar manis, meski pun sebelumnya memang sudah manis. Kumal nyaris terlena. Sepertinya hantu itu memang sengaja mempermainkan Kumal.
Kumal cepat-cepat menggelengkan kepalanya lagi, “Tidak! Tidak! kamu adalah hantu.”
“Tapi barusan kamu memanggilku nona cantik yang menandingi keindahan rembulan.”
“Aku hanya tidak sengaja.”
“Benarkah?”
“Iya itu benar, kamu memang cantik, tapi kamu hantu!”
“Apa salahnya hantu memiliki wajah cantik.”
“Hantu tetaplah hantu! Dan aku sangat takut pada hantu!” pekik Kumal, nyaring, sehingga menciptakan sebuah gema.
Hantu cantik diam sejenak, ia menatap lekat-lekat wajah Kumal yang pucat. Ia kasihan, tapi pemuda itu sangat lucu, dan hantu itu pun bersikap ‘bodoh amat’ dan kembali tertawa. “Haha, kamu memang lucu! Tadi kamu bersikap sebagai lelaki gagah yang berani, tapi sebenarnya kamu hanya pecundang yang ketakutan melihat hantu. Haha, siapa namamu?”
__ADS_1
“Kumal,” tetiba pemuda itu menjawab dengan sigap, ia berdiri, rasa takut yang tadi menyelimuti tubuhnya seketika lenyap begitu saja. Ia kembali menjadi seorang Kumal yang pemberani. “Namaku G. Kumal Aksara dan aku bukan pecundang!”