Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 10 - Akhirnya Menikah


__ADS_3

...༻♡༺...


Zafran tersenyum lebar. Dia segera memutar tubuhnya menghadap Lika. Lalu memeluk gadis itu dalam posisi berhadapan. Apa yang dilakukannya sukses membuat Lika tersenyum simpul.


"Besok kita akan menikah. Aku janji," ujar Zafran tulus.


"Aku tahu. Aku percaya padamu," jawab Lika. Dia dan Zafran segera masuk ke rumah Galih. Menikmati hidangan yang telah disiapkan.


Zafran dan Lika makan apa yang ada. Kebetulan hidangan yang tersaji hanya berupa ubi rebus. Sedangkan minumannya adalah teh hangat.


Karena merasa lapar, Zafran dan Lika tidak masalah dengan makanan yang ada. Malam itu mereka melewati semua ketidaksesuaian keadaan. Termasuk Zafran, yang juga harus mandi menggunakan gayung.


Keesokan harinya, Zafran, Lika, dan Galih pergi menemui seorang tetua desa. Mereka akan mengurus pernikahan.


"Jadi kalian ingin menikah tanpa adanya wali? Kenapa begitu?" tanya tetua desa yang bernama Pak Ali itu.


Zafran dan Lika reflek bertukar pandang. Zafran lantas menjadi orang yang lebih dulu bicara.


"Begini, Pak. Kami berdua sekarang dalam pelarian. Kebetulan keluarga kami itu saling bermusuhan. Jadi agak sulit untuk menyatukan mereka. Aku dan Lika berpikir kalau pernikahan bisa merubah segalanya. Kami sangat mengharapkan bantuan Bapak," jelas Zafran panjang lebar. Dia langsung mendapat anggukan kepala dari Lika.


"Tapi setidaknya harus cari seorang wali yang mengenal kalian berdua. Aku tidak masalah untuk membantu pernikahan kalian. Karena menurutku memang lebih baik menikah dari pada kalian berhubungan tanpa adanya ikatan," sahut Pak Ali.


"Bagaimana kalau Galih? Apa dia bisa dijadikan sebagai wali untuk pernikahan kami?" cetus Lika. Mengajukan nama Galih dengan antusias.


Pak Ali memicingkan mata ke arah Galih. Dia lantas mengangguk. Kemudian menyuruh Zafran dan Lika bersiap.


"Kalau begitu bisakah kita langsung lakukan saja?" imbuh Zafran dengan dua alis yang terangkat bersamaan. Semua orang langsung menatap ke arahnya.


"Sabar, Zaf! Semuanya nggak se-instan itu. Kita juga membutuhkan beberapa warga desa untuk membantu," ucap Pak Ali.


"Maafin teman aku, Pak. Dia udah nggak sabar sama malam pertama," canda Galih. Dia segera mendapat pelototan dari Zafran. Sedangkan dirinya tergelak bersama Pak Ali dan Lika.


Persiapan lantas dilakukan. Zafran dan Lika harus membeli konsumsi untuk semua orang. Keduanya menjadikan rumah baru sebagai tempat pernikahan nanti.


Kini Galih mengantarkan Zafran dan Lika ke rumah baru. Mereka tentu tidak lupa membawa koper. Rumah yang dipilihkan Galih memang terlihat bagus.

__ADS_1


Zafran menjadi orang yang pertama masuk ke rumah. Dia kaget saat tidak melihat satu pun barang di dalam rumah.


Hal yang sama juga terjadi kepada Lika. Dia juga terkejut melihat keadaan di dalam rumah kosong melompong.


"Apa-apaan ini? Kenapa tidak ada barang sama sekali?" tanya Zafran tak percaya.


"Rumah di sini memang begitu," jawab Galih. "Mau aku temani membeli barang-barang ke pasar?" tawarnya.


Zafran dan Lika sekali lagi disibukkan hal tak terduga. Dengan terpaksa mereka harus pergi untuk membeli fasilitas rumah. Meskipun begitu, hal tersebut justru membuat Lika senang.


Sekarang Zafran, Lika, dan Galih berada di sebuah toko furniture. Zafran dan Galih terdiam menyaksikan Lika menunjuk beberapa barang yang mahal.


"Kayaknya semua wanita memang begitu ya? Istriku juga selalu begitu kalau ke pasar. Tapi Lika lebih parah sih," komentar Galih sembari melirik getir ke arah Zafran.


"Aku nggak masalah selama masih ada uang," sahut Zafran tak peduli.


"Oh iya, emang kartu atm-mu nggak akan diblokir sama ayahmu?" tanya Galih.


"Ya enggaklah. Semua kartuku sekarang punya pribadi. Aku juga punya perusahaan yang di urus sendiri."


"Lalu sekarang? Apa perusahaan itu masih kau urus?" pertanyaan Galih membuat Zafran tertohok. Lelaki itu tidak bisa berkata-kata lagi.


"Cepatlah urus masalah pernikahan dan keluargamu. Ada karyawan perusahaan yang menderita karena direkturnya nekat kawin lari," tukas Galih. Zafran terlihat menanggapi dengan cara memutar bola mata jengah.


"Lih, katakan apa yang ingin kau beli. Sebagai terima kasih, aku ingin memberikanmu sesuatu," ujar Zafran.


"Aku sudah menanti ini sejak kemarin. Aku ingin mentahnya saja." Galih membuka lebar telapak tangan. Dia memilih untuk diberikan uang saja dibanding dibelikan sesuatu.


"Baiklah. Tapi sepertinya aku perlu ke atm lagi," sahut Zafran. Dia menghampiri Lika. Mereka segera pulang saat menyelesaikan semua urusan.


Zafran terpaksa menyewa sebuah truk besar untuk mengangkut barang yang sudah dibeli. Dia pulang dan mempesiapkan segalanya hampir seharian.


"Ini sudah sangat sore. Bagaimana dengan acara pernikahannya? Apa kita mundur jadi besok saja?" cetus Lika mengusulkan.


"Tidak! Aku sudah berjanji akan menikahimu hari ini. Tidak ada hari esok!" balas Zafran. Usai mengurus barang-barang, dia dan Galih pergi menemui Pak Ali. Tidak lupa juga mengundang beberapa warga desa.

__ADS_1


Cukup banyak orang yang berdatangan. Keberadaan Galih jadi sangat penting karena merupakan teman dekat Zafran.


Lika melakukan make up seadanya. Kecantikannya tetap berseri walau hanya menggunakan make up tipis. Ia tidak lupa memakai gaun sederhana.


"Kau terlihat cantik sekali, Lik..." puji Elis. Berdecak kagum. Dia satu-satunya orang yang menemani Lika di kamar.


Sama seperti Lika, Zafran juga terlihat rapi dan tampan meski hanya mengenakan kemeja putih serta celana hitam.


Pak Ali tampak sudah siap duduk di hadapan Zafran. Mereka sedang menunggu kemunculan pengantin perempuan.


"Ya ampun, pengantinnya ganteng banget ya?"


"Iya, dia pasti muda. Sayang sekali udah cepat kawin. Nikah siri lagi."


"Aku dengar keluarga mereka sama-sama tidak ada yang merestui."


Beberapa wanita paruh baya saling berbisik. Tetapi semua orang langsung terdiam tatkala Lika keluar dari kamar.


Lika nampak begitu cantik. Kemunculannya berhasil membuat bungkam mulut-mulut para penggosip. Jika tadi para wanita yang dibuat kagum, kini para lelaki yang tak bisa mengedip.


"Ya ampun, pengantin wanitanya sama beningnya ternyata."


"Bagaimana bisa keluarga mereka nggak merestui pasangan ini?"


"Iya, aku heran sekali."


"Sudah nggak apa-apa. Ada kita yang merestui hubungan mereka. Aku sudah sangat senang mendengar pasangan muda yang mau bertanggung jawab. Dari pada mereka melakukan hubungan tanpa ikatan? Itu kan nggak bagus?"


Para warga desa kembali berbisik. Atensi mereka tidak bisa lepas dari Zafran dan Lika sudah yang duduk berdampingan. Kini proses ijab kabul segera berlangsung.


Semuanya berjalan lancar. Setelah semua orang menyebut kata sah, Zafran dan Lika resmi menikah.


Dengan senang hati Lika mencium punggung tangan Zafran. Lelaki yang telah resmi menjadi suaminya. Setidaknya resmi secara agama.


Ketika Lika hampir melepaskan tangan, Zafran tidak membiarkan. Lelaki itu mendekat dan berbisik, "Siap-siap ketemu kepala angsa malam ini..."

__ADS_1


Plak!


Lika reflek memukul pelan pangkal paha Zafran. Dia tak bisa menahan tawa.


__ADS_2