
...༻♡༺...
Zafran melangkah memasuki area hotel Andriyana. Dia disuruh sang ayah untuk mendatangi restoran yang ada di hotel berbintang lima itu.
Dahi Zafran berkerut ketika menyaksikan ibunya baik-baik saja. Zara bahkan melambaikan tangan ke arah Zafran. Menyuruh sang putra agar segera mendekat.
Dengan perasaan bingung, Zafran menghampiri meja makan ayah dan ibunya. Ternyata di sana tidak hanya ada Gamal dan Zara. Tetapi juga keluarga Nirdana yang diketahui Zafran adalah sahabat bisnis ayahnya.
"Ini dia Zafran. Dia kebetulan tadi sedang ada kegiatan dengan teman-temannya. Karena itulah Zafran datang terlambat," ujar Gamal sembari merangkul Zafran.
"Putramu tampan sekali," komentar Rama. Kepala keluarga Nirdana. Dia terlihat hadir bersama istri dan putrinya.
"Tentu saja. Lihatlah ayah dan ibunya," canda Gamal. Dia dan Rama langsung tergelak bersama.
"Zafran. Kenalkan anakku Arini. Dia baru pulang dari Sydney satu bulan yang lalu," ujar Rama.
Zafran hanya diam. Hal serupa juga dilakukan Arini. Keduanya sama-sama tidak berminat untuk saling berkenalan.
"Hahaha... ayo lebih baik Zafran duduk dulu. Kita makan malam sama-sama." Felisha selaku istrinya Rama tertawa hambar. Dia mempersilahkan Zafran duduk.
"Enggak, makasih. Aku mau langsung pu--"
"Ayo duduk dulu. Bunda yakin kau pasti lapar." Zara sengaja memotong ucapan Zafran. Memaksa sang putra duduk ke kursi.
Zafran tercengang. Dia memasang ekspresi cemberut. Sekarang dirinya mengerti terhadap kabar kebohongan yang diberitahukan kepadanya.
"Rin, kau mau ceritakan pengalamanmu saat ikut menjadi bagian fashion show di Paris?" cetus Gamal. Mencoba mencairkan suasana. Setahunya Arini memiliki pekerjaan sebagai perancang busana. Tidak heran penampilannya sangat modis.
"Mungkin nanti saja." Arini menjawab singkat. Dia juga memaksakan dirinya tersenyum.
"Bagaimana denganmu, Zafran? Aku dengar kau baru saja memimpin pembangunan proyek perumahan elit." Kini Rama yang melemparkan pertanyaan untuk Zafran.
"Itu hal yang biasa." Sama seperti Arini, Zafran juga enggan banyak bicara.
Suasana hening terjadi dalam beberapa saat. Zara tiba-tiba mendapat ide bagus agar bisa membuat Zafran dan Arini saling bicara.
"Fel, kau mau melihat-lihat toko tas yang ada di lantai dua. Aku lihat banyak tas-tas yang bagus," ajak Zara kepada ibunya Arini. Dia mengedipkan mata sebagai kode kalau dirinya memiliki rencana.
"Ah, tentu saja." Felisha yang mengerti, bangkit dari tempat duduk. Dia dan Zara segera pergi bersama.
"Mal, ayo kita mencoba minuman di bartender!" ajak Rama. Dia paham atas maksud kepergian istrinya.
"Baiklah!" sahut Gamal. Dia menoleh ke arah Zafran sejenak dan berucap, "Bicaralah! Dan jangan pulang! Kalau kau nekat pulang, Papah akan turunkan posisimu di perusahaan sebagai sales!"
"Kau juga, Rin. Papah akan melakukan sesuatu pada rekeningmu jika kau berani pulang lebih dulu." Rama juga ikut memberi ancaman kepada sang anak. Dia dan Gamal langsung beranjak.
__ADS_1
Zafran menatap Arini. Sejak tadi gadis itu tampak sibuk bermain ponsel. Namun Zafran tak peduli. Dia ikut bermain ponsel dan memilih mengirim pesan kepada Lika. Memberitahukan mengenai apa yang sedang terjadi sekarang.
Baik Zafran maupun Arini, keduanya sama-sama tidak bicara. Sampai akhirnya Arini menurunkan ponsel. Dia akhirnya menatap lelaki yang duduk di hadapannya.
"Sepertinya kedua orang tuaku ingin menjodohkanku denganmu. Ayahku bilang kau dikenal tidak pernah dekat dengan gadis mana pun. Dia bilang kita sama," imbuh Arini. Dia angkat suara lebih dulu. Gayanya terkesan seperti gadis yang angkuh.
Zafran berhenti bermain ponsel. Dia menjawab, "Apa kau bersedia dijodohkan denganku?"
"Hell no! Aku menyukai kesendirianku. Hidupku hanya untuk fashion dan shopping!" tolak Arini yakin.
"Begitu pun aku. Aku sudah punya gadis yang kupastikan adalah jodohku," balas Zafran.
"Itu bagus! Kenapa kau tidak bilang saja kepada orang tuamu?"
"Aku sedang mempersiapkan diri untuk memberitahu mereka. Tapi ternyata mereka malah menjebakku datang ke sini."
"Aku juga dipaksa datang ke sini. Ayahku selalu mengancamku dengan kartu kredit dan atmku." Arini dan Zafran justru saling mengeluh.
"Kita sebaiknya katakan saja yang sebenarnya. Kalau kita tidak setuju dengan perjodohan ini," usul Zafran.
"Ide bagus." Arini mengangguk setuju. Dia kemudian meneguk minuman segar.
Zafran dan Arini berdiri. Keduanya mendatangi orang tua mereka masing-masing.
"Pah, aku ingin bicara," ujar Zafran. Hal yang sama juga dikatakan Arini kepada Rama.
Kini Gamal dan Zafran berjalan menjauhi keramaian. Mereka berdiri dalam keadaan saling berhadapan. Zafran mengatakan tentang keinginannya yang tidak bersedia dijodohkan.
"Kenapa? Apa kau sudah punya pacar?" selidik Gamal.
"Iya. Aku punya. Aku akan memperkenalkannya sama Papah! Aku mohon jangan--"
"Zafran!"
Perkataan Zafran terhenti tatkala Arini mendadak memanggil. Gadis itu tampak berlari kecil ke arah Zafran.
"Ayo kita pergi! Aku ingin menunjukkan sesuatu." Arini tiba-tiba menggandeng lengan Zafran. Hal itu sontak membuat mata Zafran terbelalak.
"Apa-apaan kau!" Zafran mencoba melepas gandengan Arini. Namun gadis itu justru mencubitnya dengan keras. Lalu menyeret Zafran menjauh dari Gamal.
Arini menyeret Zafran keluar dari restoran. Yang jelas pergi jauh dari hadapan kedua orang tua mereka.
"Kau kenapa?!" Zafran menghempaskan tangan Arini. Gadis itu sampai nyaris terjatuh. Untung saja dia bisa menjaga keseimbangan.
"Kasar sekali," komentar Arini. Dia segera memperbaiki rambut dan pakaiannya. Membuang jauh rasa kesalnya.
__ADS_1
"Papahku memberi ancaman lagi. Aku dipaksa untuk mengenalmu lebih dekat," jelas Arini.
"Lalu? Apa peduliku? Itu masalahmu bukan?" sahut Zafran.
"Kumohon bantulah aku. Aku tidak mau Papah memblokir semua sumber keuanganku," ucap Arini. "Kau hanya perlu berbohong. Kita bisa beralasan pergi ke suatu tempat atau apapun!"
"Kenapa kau sangat takut tabunganmu diblokir. Kudengar kau sudah bekerja?" tukas Zafran.
"Itu hanya hobi. Tapi tidak menghasilkan," jawab Arini. Langsung membuang muka karena malu.
"Tidak! Jangan muncul lagi di hadapanku!" tegas Zafran. Dia segera pergi. Tekad Zafran untuk pergi bersama Lika semakin kuat.
Zafran kembali ke apartemen. Dia datang seperti sedang dikejar waktu. Lelaki itu langsung menemui Lika yang tampak asyik menonton televisi.
"Bagaimana, Zaf?" tanya Lika. Dia berlari ke hadapan Zafran.
"Kacau banget. Mungkin hal terbaik adalah melarikan diri. Sebelum memberitahukan hubungan ini, sebaiknya kita menikah dahulu. Bagaimana? Kau setuju?" cetus Zafran.
"Iya, aku setuju." Lika langsung mengangguk. Dia tidak butuh waktu berpikir untuk menikahi Zafran. Lelaki idaman yang telah lama ditunggunya.
"Ayo kita bersiap!" Zafran masuk ke kamar. Dia memilah-milih pakaian untuk dibawa.
"Sekarang? Tapi ini sudah jam sepuluh malam. Sebaiknya kita pergi besok saja," saran Lika.
"Enggak, Lik. Kau harus tahu gadis yang akan dijodohkan denganku itu agak gila." Zafran menggerutu. Dia masih tampak gelagapan.
Lika segera mendekat. Ia memeluk Zafran dari belakang. "Udah tenang... aku di sini kok. Kamu mending tenangin pikiranmu dulu. Kita juga nggak bisa pergi begitu saja. Banyak hal yang harus kita persiapkan," tuturnya. Berhasil membuat Zafran benar-benar tenang. Lelaki itu bahkan mengembangkan senyum. Bahagia dengan pelukan hangat Lika.
"Lebih erat lagi bisa nggak?" ujar Zafran.
Lika menurut saja. "Gimana? Sudah erat?" tanya-nya memastikan.
"Lagi..." Zafran belum puas.
Kali ini Lika menyeringai. Dia memeluk Zafran dengan tenaga penuh. Namun seperti biasa, kekuatannya tidak seberapa bagi Zafran.
"Gini dong," tanggap Zafran.
Melihat respon Zafran, Lika memanyunkan mulut sebal. Dua tangannya kini bergerak menggelitiki perut Zafran. Lelaki itu otomatis merasa geli.
Zafran dan Lika melangkah mundur senada. Sampai mereka terjatuh bersama ke atas ranjang. Lika langsung merebahkan kepala ke dada bidang Zafran.
"Kalau cuman begini, nggak akan bikin kepala angsa nongol lagi kan?" celetuk Lika.
"Hah? Kepala angsa apaan?" Zafran tak mengerti.
__ADS_1