
...༻♡༺...
"Maafin Tante ya, sayang... Jangan pergi lagi," ungkap Selia. Dia menangkup wajah Lika sambil memancarkan tatapan nanar.
"Aku juga minta maaf, Tante..." sahut Lika. Dia merasa bersalah karena sudah beberapa kali mengecewakan Selia.
Usai saling memaafkan, Selia menatap Zafran. Dia menyuruh lelaki itu mendekat. Lalu memegang tangannya dan juga tangan Lika.
Selia membiarkan Zafran menggenggam tangan Lika. Dia tersenyum dan berucap, "Zafran... Tolong jaga Lika dengan baik."
Pupil mata Zafran membesar. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Selia menyuruhnya menjaga Lika secara terang-terangan? Zafran tidak salah dengar bukan?
"Tante serius kan?" Lika yang mendengar, bahkan merasa tak percaya.
"Aku sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Keadaan seperti ini tidak akan mendorongku untuk bercanda," tanggap Selia.
"Terima kasih, Tante!" ujar Zafran antusias.
"Maafin Tante ya. Aku sudah beberapa kali mengatakan hal buruk kepadamu," sahut Selia yang merasa bersalah.
"Enggak apa-apa, Tante! Semuanya sudah terbayar sama restumu." Zafran merekahkan senyuman lebar. Dia memeluk Lika dengan perasaan penuh haru.
"Akhirnya... Hidup kita bisa tenang ya..." ucap Lika. Dia merasa senang bukan kepalang.
Puas saling berpelukan, Lika dan Zafran kembali mengobrol bersama Selia serta Tama. Mereka tidak lupa memberi kabar mengenai kehamilan Lika.
Selia dan Tama merasa ikut senang. Kehamilan Lika merupakan kabar yang sangat baik. Namun sebelum perut Lika membesar, Zafran ingin melanjutkan acara pernikahan. Ia tidak mau pernikahannya tertunda terlalu lama.
__ADS_1
Tiga hari berlalu. Zafran dan Lika kembali menyusun acara pernikahan dari awal.
Untuk yang kedua kalinya, acara pernikahan diselenggarakan. Lika baru saja selesai dirias dalam sebuah ruangan.
Pintu perlahan terbuka. Mata Lika membulat sempurna. Takut kejadian yang sama akan terulang lagi. Tetapi perasaannya langsung lega saat menyaksikan sosok yang muncul adalah Zafran.
"Kenapa tegang? Kau tenang saja, sayang... Aku tidak akan membiarkan kejadian yang sama terulang," ucap Zafran sembari memeluk Lika dari belakang.
"Jadi itu tujuanmu datang ke sini?" tanya Lika. Menatap Zafran melalui cermin di depannya.
"Iya. Aku pokoknya nggak akan biarin kamu sendirian," jawab Zafran yakin.
Lika mengnyitkan kening. Ia melirik ke arah tiga wanita yang sudah merias dirinya. Mereka sejak tadi sudah duduk disitu.
"Tapi aku sedang tidak sendirian sekarang," imbuh Lika.
"Sayang..." Lika mencoba menegur. Pipinya merah bak kepiting rebus. Begitu pun tiga wanita yang ada di ruangan. Mereka tentu salah tingkah melihat kemesraan Lika dan Zafran.
"Aku kangen. Kamu sempat hilang satu hari lebih soalnya," ujar Zafran. Dia akhirnya mengangkat kepala. Berhenti menenggelamkan wajah ke leher Lika. "Ayo kita temui semua orang. Kau sudah siap bukan?" sambungnya.
Lika mengangguk. Dia dan Zafran segera keluar ruangan sambil berpegangan tangan.
Di waktu yang sama, Selia dan Tama datang ke acara pernikahan. Keduanya menghampiri Gamal dan Zara yang kebetulan sibuk menyambut tamu.
Hening menyelimuti. Suasana terasa sangat canggung. Sungguh, Selia terlalu malu untuk mengucapkan kata maaf lebih dulu.
"Aku dan Zara minta maaf kalau ada salah. Aku harap dengan terjadinya pernikahan Zafran dan Lika, tidak ada lagi permusuhan di antara kita. Jika kau masih tidak rela, maka lakukanlah semuanya demi Lika." Gamal menjadi orang yang lebih dulu angkat suara.
__ADS_1
Selia yang sejak tadi menundukkan wajah, perlahan mendongak. "Aku juga minta maaf. Aku terlalu membenci sampai menyalahkan banyak hal kepada kalian," sahutnya dalam keadaan mata yang berkaca-kaca.
"Selia..." panggil Zara. Sama seperti Selia, matanya juga terlihat berembun. "Aku menyesal dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu..." ungkapnya bersunguh-sungguh.
Selia menghela nafas. Kemudian memeluk Zara. "Sudahlah, semuanya sudah berlalu," jawabnya tulus. Mulai saat itu Selia akan menghapus semua kebenciannya demi Lika.
Benar saja, usai melakukan perdamaian. Selia merasakan ketenangan dalam batinnya. Dia bertambah bahagia ketika menyaksikan Lika tersenyum lepas bersama Zafran.
"Sayang! Itu Ramanda sama suaminya. Katanya minggu depan mereka mau bulan madu ke Bali," ujar Zafran sambil melambaikan tangan ke arah Ramanda. Sahabatnya itu segera mendekat. Ramanda terlihat bergandengan tangan dengan suaminya yang bernama Morgan.
"Selamat ya, Zafran... Lika... Aku nggak nyangka kalian bisa nikah. Sumpah!" cetus Ramanda. Memeluk Lika dan Zafran secara bergantian.
"Makasih ya, Ra..." balas Lika. Dia juga saling bersalaman dengan Morgan.
"Oh... Jadi ini yang namanya Lika. Ramanda sudah cerita banyak tentang kalian berdua. Gila! Kayaknya perjuangan kalian lebih berat dibanding aku sama Ramanda," komentar Morgan.
"Semua kisah cinta punya tantangannya tersendiri, Gan!" Zafran merangkul Morgan. Keduanya serta istri mereka segera berfoto bersama. Kala itu mereka juga sepakat pergi ke Bali untuk bulan madu bersama.
...TAMAT...
...______...
Catatan Author :
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih buat pembaca setia novel ini. Aku juga minta maaf jika ada kesalahan kata-kata serta alur yang tidak sesuai.
Cerita Zafran dan Lika ini sebenarnya kurang matang. Makanya aku tamatin cepat-cepat. Aku juga sebenarnya kepikiran buat hapus novelnya. Tapi aku nggak mau kasih sad ending sama kisah cinta Zafran dan Lika. Pokoknya nanti pasti bakalan ada bonus chapternya ya guys...
__ADS_1
Love you guys... 😘