Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 22 - Tanggapan Keluarga Laksana


__ADS_3

...༻♡༺...


Setelah mendatangi rumah keluarga Baskara, Zafran dan Lika pergi ke rumah keluarga Laksana. Keduanya tiba selang beberapa menit kemudian.


Zafran menghentikan mobil dengan pelan. Kali ini dia yang memimpin berjalan lebih dulu.


Saat keluar dari mobil, Lika mematung di tempat. Entah kenapa dia merasa gugup. Sebab dirinya hampir tidak pernah bicara dengan Gamal dan Zara.


Merasa tidak ada yang mengikuti, Zafran menoleh ke belakang. Dia menemukan Lika masih diam di tempat.


"Loh, kok bengong?"


Teguran Zafran membuat Lika langsung melangkah. Dia menghampiri Zafran dengan senyuman tipis.


"Kamu kelihatan gugup banget," komentar Zafran.


"Ya iyalah. Kan ini baru pertama kali ke sini. Aku juga sebelumnya nggak pernah bicara secara langsung sama papah dan bundamu," tanggap Lika.


"Nggak apa-apa. Mereka berdua nggak seperti yang kamu bayangin." Zafran menggenggam jari-jemari Lika. Ia menuntun jalan untuk memasuki rumah.


Sebelumnya Zafran sudah memberitahu mengenai kedatangannya kepada Gamal dan Zara. Jadi kedua orang tuanya itu sudah cukup lama menunggu. Mereka duduk di ruang tengah dengan rasa gelisah serta penasaran.


Tak lama kemudian Zafran muncul. Dia dalam keadaan saling berpegangan tangan dengan Lika.

__ADS_1


Mata Gamal dan Zara membulat bersama. Mereka sebenarnya belum begitu mengenal Lika. Hanya saja keduanya merasa tidak asing.


"Pah, Bunda... Ini perempuan yang sudah aku nikahi. Namanya Lika," ujar Zafran memperkenalkan. Lika lantas mengembangkan senyum.


Gamal tertegun saat mendengar nama Lika. Setahunya nama itu adalah nama dari anggota keluarga Baskara. Gamal ingat karena saat SMA Zafran sering bercerita perihal musuh bebuyutan di sekolah. Seingatnya musuh sang putra juga memiliki nama Lika.


"Aku merasa tidak asing. Sepertinya aku pernah bertemu denganmu," ucap Zara sembari mengenali wajah Lika baik-baik.


"Iya, Bunda memang pernah bertemu dengannya. Saat di mall beberapa tahun lalu. Dia keponakannya Selia," ungkap Zafran.


Gamal dan Zara reflek bertukar pandang. Keduanya tentu dibuat kaget. Bagaimana tidak? Lika merupakan bagian keluarga Baskara. Apalagi perempuan itu juga diketahui merupakan orang terdekat Selia.


"Zafran! Kenapa dari banyak wanita kau memilih dia?!" timpal Gamal dengan mata yang menyalang hebat.


"Aku tidak tahu! Tapi bukankah begitu caranya cinta tumbuh? Kita tidak pernah tahu dengan siapa akan jatuh cinta. Seperti Papah dan Bunda misalnya," sahut Zafran.


"Kau benar-benar nekat! Kau tidak tahu betapa keras kepalanya Selia. Dia bahkan sudah mempermalukan keluarga kita berkali-kali! Kau pikir aku sudi memiliki hubungan besan dengannya?!" tukas Gamal. Dahinya berkerut dalam.


"Tapi kami sudah menikah. Aku dan Lika sudah menjadi pasangan yang sah. Kami juga sudah melakukan hubungan intim beberapa kali. Apa kalian yakin ingin memaksa kami untuk berpisah?" balas Zafran. Tersenyum dengan percaya diri. Dia yakin dengan berucap begitu, Gamal dan Zara akan berpikir dua kali sebelum memberikan larangan.


Mendengar Zafran berkata begitu, Lika menyenggol dengan siku. Wajahnya memerah karena sang suami membicarakan perihal hubungan intim tanpa rasa malu.


"Kau!" benar saja, Gamal kehabisan kata-kata. Hal serupa juga terjadi pada Zara. Keduanya kini hanya bisa terdiam.

__ADS_1


Hening menyelimuti suasana, Zafran lantas menyuruh Lika duduk ke sofa. Dia tahu kalau ayah dan ibunya sedang berpikir.


Zara tiba-tiba mengajak Gamal pergi sebentar. Mereka sepertinya ingin berdiskusi.


"Bagaimana ini?! Aku tidak menyangka Zafran akan menikahi keponakannya Selia!" seru Zara dengan nada berbisik. Keningnya mengernyit dalam.


"Aku juga begitu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan jadinya jika kita menjadi besan Selia. Itu adalah mimpi buruk yang sangat besar," tanggap Gamal seraya memijit kepalanya dengan tangan. Dia pusing terhadap kelakuan sang putra yang sangat tak terduga.


"Tapi kalau kita tidak setuju, maka Zafran tidak akan bahagia. Kau lihat bagaimana wajah Zafran tadi kan? Dia lebih ceria," ungkap Zara.


"Kau benar. Tapi di sini yang jahat adalah Selia. Dia sangat keras kepala. Sikapnya itulah yang membuatku tidak tahan!" imbuh Gamal. Mengulurkan dua tangan ke depan.


"Bagaimana kita biarkan semuanya berjalan seperti seharusnya. Karena inilah pilihan Zafran dan Lika. Aku yakin mereka pasti tahu resiko yang mereka hadapi. Persis seperti kita dulu." Zara memegang lembut lengan Gamal. Meski sering berselisih dengan Selia, dia sama sekali tidak masalah. Hal yang utama baginya adalah kebahagiaan Zafran.


Gamal tampak berpikir. Dia menatap wajah cantik istrinya. Hingga sebuah anggukan dilakukan olehnya.


Zara lantas tersenyum. Ia dan Gamal segera menemui Zafran serta Lika yang masih menunggu.


"Apa kalian sudah bicara pada Selia?" tanya Gamal seraya duduk ke sofa.


"Sudah. Kami baru saja pulang dari sana. Tante Selia sangat syok," jawab Zafran. Perlahan menoleh ke arah Lika. Istrinya tersebut tampak menundukkan kepala.


"Aku dan Bundamu sama sekali tidak masalah dengan hubungan kalian. Kalau ingin merencanakan acara perkawinan besar, lakukanlah," ujar Gamal. Membuat mata Zafran dan Lika sontak berbinar-binar.

__ADS_1


"Tapi Lika. Aku ingin kau memastikan kalau tantemu tidak akan membuat ulah lagi dengan keluarga kami. Jujur saja, aku tidak akan sudi menerimamu sebagai menantu jika bukan karena Zafran," ucap Gamal.


"I-iya, Om. Aku akan berusaha," sahut Lika tergagap. Dia meyatukan dua tangan di atas paha. Lalu saling melemparkan senyuman dengan Zafran. Sekarang hanya perlu menunggu kepastian dari Selia.


__ADS_2