Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 8 - Tiba Di Desa


__ADS_3

...༻♡༺...


Lika perlahan membuka mata. Kebetulan dia tertidur di pundak Zafran. Gadis itu melihat hari sudah malam. Waktu bahkan sudah menunjukkan jam tujuh malam.


"Kayaknya sebentar lagi sampai," kata Zafran yang sepertinya sudah lama terjaga.


"Semoga saja. Badanku udah lengket banget. Pengen cepat-cepat mandi. Pakai air shower pasti segar." Lika memejamkan mata. Membayangkan sesuatu yang baru saja dia katakan.


"Iya, pokoknya kamu bisa mandi sepuas mungkin kalau sudah sampai," sahut Zafran.


Tidak lama kemudian kereta sampai di lokasi tujuan. Zafran dan Lika segera turun bersama. Keduanya terpaksa harus membayar jasa seseorang untuk membawakan barang-barang. Kini mereka hanya tinggal menunggu Galih datang.


Zafran dan Lika duduk bersebelahan. Mereka memegangi sebotol minuman di tangannya masing-masing.


Akibat terlalu lama menunggu, Zafran segera menghubungi Galih. Menanyakan posisi temannya tersebut.


"Aku sudah dijalan. Kau tenang saja. Aku kebetulan dipinjami oleh Pak Juragan mobil. Jadi kau tidak perlu membayar," ujar Galih dari seberang telepon.


"Baiklah. Cepat ya! Lika sudah kecapekan," desak Zafran. Ia mematikan panggilan telepon lebih dulu.


Selang sekian menit, sebuah truck kecil datang. Truck itu berhenti di hadapan Zafran dan Lika. Ternyata orang yang menyetir tidak lain adalah Galih.


Ilustrasi truck kecil yang dibawa Galih :



"Zafran! Lika!" seru Galih sembari berlari kecil. Dia menghampiri Zafran dan Lika. Sedangkan dua orang yang didatanginya tampak mengerutkan dahi. Zafran dan Lika kaget menyaksikan kendaraan yang akan mereka naiki.


Galih sudah berdiri di hadapan Zafran. Dia terlihat mengenakan kaos baju lusuh dan agak kotor. Rambutnya juga acak-acakan.


"Astaga, Galih. Sejak kapan kau jadi kayak gelandangan begini," ucap Zafran. Dia menjaga jarak dari Galih. Sebab temannya itu sudah merentangkan tangan. Berniat ingin memeluk Zafran.


"Hehehe... Beginilah nasibku sekarang, Zaf. Kebangkrutan keluargaku sangat berdampak sama kehidupan," ungkap Galih. Dia segera menanyakan keberadaan barang-barang Zafran dan Lika. Ketika diberitahu, Galih terperangah sejenak.

__ADS_1


"Gila! Banyak sekali barang bawaan kalian," komentar Galih sembari mengambil dua buah koper untuk diletakkan ke bagian belakang truck.


"Lih, ini beneran kami akan dibawa sama kendaraan butut begini?" tanya Lika memastikan. Wajahnya terlihat meringis jijik.


"Iya, kalian naik aja duluan," suruh Galih. Dia masih sibuk memindahkan koper ke bagian belakan truk.


Zafran dan Lika sempat mematung dalam sesaat. Keduanya sama-sama tidak menyangka kalau kendaraan yang dibawa Galih akan berupa truck kecil.


"Gimana, Zaf? Mending kita cari mobil lain aja ya. Di dalam pasti bau. Kotor lagi," ujar Lika seraya mengintip keadaan di kursi depan.


"Aku akan coba tanya Galih." Zafran mendekati Galih. Menanyakan tempat dimana dirinya bisa menyewa sebuah mobil mewah.


"Ada tempat penyewaan mobil sih. Tapi tempatnya jauh dari sini. Harus memakan waktu lebih setengah jam," jawab Galih. "Udah! Naik truck ini aja. Kelamaan kalau mau sewa mobil. Belum lagi barang bawaan kalian yang juga harus diangkut kemana-mana," tambahnya.


Zafran menggaruk kepalanya dengan frustasi. Belum sampai di tempat tujuan, dia sudah dipusingkan dengan masalah kendaraan. Sama seperti Lika, Zafran sebenarnya juga merasa jijik dengan truck yang dipakai Galih.


"Kalian kenapa tiba-tiba mau sewa mobil? Pasti nggak nyaman sama truck ini ya?" timpal Galih sambil menunjukkan raut wajah sedih.


"Bukan gitu, Lih. Kami cuman nggak mau merepotkanmu." Lika langsung menyambar ucapan Zafran. Dia tidak mau menyinggung perasaan Galih. "Ya sudah. Ayo kita berangkat! Aku pengen cepat-cepat istirahat," ajaknya sambil menarik tangan Zafran.


"Tapi, Lik..."


"Udah, nggak apa-apa." Lika memaksa. Dia dan Zafran akhirnya duduk ke kursi depan.


Bau tidak enak langsung menghantam indera penciuman Zafran dan Lika. Keduanya langsung membuka kaca jendela. Lika bahkan hampir muntah akan hal itu.


"Maaf soal baunya. Truck ini memang sering dipakai buat ngangkut kambing," ujar Galih yang baru duduk ke depan setir. Ia cengengesan sambil mengusap tengkuk.


"Apa?! Ka-kambing?" Lika membulatkan mata. Sebab baru kali ini dia mencium bagaimana bau binatang dengan suara mengembek itu.


"Anjir! Kau gila, Lih! Kalau mau jemput teman pakai mobil yang bagusan dikit kenapa?" tukas Zafran blak-blakan. Dia menutup hidupnya rapat-rapat. Seluruh wajahnya mengkerut karena rasa jijik sudah sampai ke ubun-ubun.


"Woy! Biar aku katakan ya, kendaraan ini justru adalah yang paling bagus di desaku! Lihat saja pas kau sampai di sana nanti," balas Galih.

__ADS_1


"Nggak jauh kan? Aku ingin cepat-cepat sampai," ujar Lika. Dia terlihat telah mengenakan masker untuk menutupi hidung dan mulut. Hal serupa juga baru saja dilakukan Zafran. Mereka juga sesekali mengibaskan tangan ke depan wajah.


"Enggak. Dekat kok," jawab Galih.


Lika mengangguk. Setidaknya dia tidak perlu berlama-lama ada di truck yang diselimuti dengan bau kambing.


Sebelum benar-benar sampai ke desa Kenanga Asri, Zafran dan Lika harus menempuh perjalanan yang melewati jalanan sepi. Dimana hanya ada pepohonan rindang baik di sisi kiri dan samping kanan.


"Jalanannya memang sepi begini ya?" selidik Zafran.


"Iya, tapi tenang aja kok. Banyak warga yang sering pergi ke hutan. Termasuk aku. Jadi nggak pernah ada orang yang tersesat. Lagian hutan ini nggak terlalu luas kok. Yang luas itu ada di gunung," jelas Galih panjang lebar.


Mendengar penjelasan Galih, Zafran jadi merasa tidak yakin untuk tinggal di desa Kenanga Asri. Dia tiba-tiba ingin pulang saja. Hal yang sama juga dirasakan Lika. Keduanya diam-diam saling bertukar pandang.


"Zaf, kayaknya tinggal di villa lebih baik deh," bisik Lika.


"Kan sudah kubilang." Zafran balas berbisik.


"Aku sudah pilihkan rumah paling bagus untuk kalian. Tapi kalian nggak bisa tinggal di sana karena belum menikah. Sebaiknya tinggal di rumahku untuk sementara," imbuh Galih tiba-tiba. Membuat interaksi di antara Zafran dan Lika terhenti.


"Rumahmu?" Zafran melebarkan dua kelopak matanya.


"Iya, kayaknya itu ide bagus. Takutnya nanti kita malah dibilang kumpul kebo. Lagian ini kan kampung orang, Zaf." Lika paham dengan tujuan Galih. Zafran lantas setuju saja.


Setelah tersiksa cukup lama dengan bau kambing, Zafran dan Lika akhirnya tiba di rumah pilihan Galih. Mata keduanya membulat sempurna. Bagaimana tidak? Kediaman Galih terlihat memperihatinkan. Rumahnya memang besar, namun terbuat dari kayu dan bambu reot.


"Ka-kau tinggal di sini?" Lika memastikan. Sekarang dia menyesali perkatannya tadi. Keinginan pulang kembali menuntut.


"Inilah yang aku khawatirkan sejak tadi," komentar Zafran.


"Ayo masuk! Biar rumahnya kelihatan begitu, kamarnya ada banyak kok." Galih berjalan memimpin lebih dulu. Dia memperkenalkan Zafran dan Lika kepada istrinya yang bernama Elis.


Sejak masuk, Lika terus mendempetkan badannya kepada Zafran. Keduanya sama-sama mengukir senyuman palsu. Berusaha menahan rasa jijik dan tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2