
...༻♡༺...
"Kau ingin tahu apa yang kuinginkan sekarang?" ujar Lika. Ia berpikir sejenak. Lalu melanjutkan, "aku hanya ingin restu dari Tante selia..."
Zafran tertegun. Dia lupa memberitahukan keadaan Selia kepada Lika. Tanpa pikir panjang Zafran segera mengatakan bagaimana kabar Selia sekarang.
Lika langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia ingin memeriksa keadaan Selia secepatnya. Akan tetapi Zafran tidak membiarkan. Lelaki itu ingin sang istri beristirahat terlebih dahulu.
"Tante Selia baik-baik saja. Aku juga sudah membantunya membayar biaya rumah sakit. Lagi pula ada Om Tama yang menjaganya. Kau harusnya khawatirkan keadaanmu sendiri ya," tutur Zafran. Bicara secara baik-baik. Sampai akhirnya Lika setuju untuk rebahan kembali.
Usai memastikan Lika baik-baik saja, Zafran segera memberi kabar kepada keluarganya. Menyebutkan bahwa Lika sudah kembali dan baik-baik saja. Dia juga tidak lupa mengatakan kabar mengenai Selia. Zafran berharap kedua orang tuanya bisa memiliki empati terhadap Selia.
Satu hari berlalu, Selia baru saja membuka mata. Dia menemukan dirinya berada di ruangan dalam balutan putih. Belum lagi bau khas obat-obatan yang hanya bisa tercium saat di rumah sakit. Selia dapat menyimpulkan keberadaannya sekarang.
__ADS_1
Menyaksikan Selia sudah sadar, Tama mendekat. Lalu memberikan kabar mengenai Lika. Dia juga memberitahu perihal keterlibatan Zayn.
"Jadi Zayn yang membawa Lika pergi?" Selia memastikan.
Tama mengangguk dan menjawab, "Dia hampir menjual Lika di pasar gelap. Aku bersyukur Lika tidak menikah dengannya. Lelaki yang sekarang menjadi suaminya tidak seburuk bayanganmu, sayang..."
"Maksudmu Zafran?" tebak Selia dengan tatapan sayu. Matanya mengerjap pelan.
"Iya. Dia juga sudah membantuku membayar biaya rumah sakitmu. Uang kita sudah sangat habis karena acara perniahan dan juga bisnis yang tidak berjalan lancar," terang Tama sembari menunduk sendu. Ia memegangi tangan Selia dengan lembut. "Kumohon bukalah hatimu. Kau tidak bisa hidup tenang kalau terus membenci seseorang. Lagi pula kau sudah melupakan lelaki bernama Gamal itu bukan? Jujur saja, kebencianmu yang terlalu besar kepadanya membuatku cemburu!" ucap Tama lagi.
"Karena aku berpikir kau masih belum bisa melupakannya. Aku sudah memendam kegelisahanku ini cukup lama... Tapi sekarang aku merasa adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan."
"Tidak! Kau salah, Mas. Kumohon jangan berpikir begitu. Aku membenci Gamal dan keluarganya karena mereka sudah membuat ayahku jantungan dan meninggal." Selia membantah tegas. Dia tentu tidak mau Tama salah paham akan perasaannya.
__ADS_1
"Kumohon berhentilah membuat permusuhan. Aku kemarin datang ke acara pernikahan. Dan mereka memperlakukanku dengan baik." Tama menatap penuh harap. Dia ingin Selia memberikan restu pada hubungan Lika dan Zafran.
Selia tenggelam dalam diam. Dia sepertinya sedang berpikir. Setelah semua masalah yang terjadi, dirinya dapat menyimpulkan bahwa pandangannya terhadap Zayn salah. Selia juga menyadari satu hal bahwa dia sudah terlalu keras pada Lika. Terutama saat terakhir kali bertemu.
Tak lama kemudian, pintu diketuk. Tama lantas mempersilahkan masuk.
Orang yang datang ternyata adalah Zafran dan Lika. Selia yang tadinya telentang, perlahan merubah posisi menjadi duduk.
"Lika..." panggil Selia. Dia mengulurkan dua tangan ke arah Lika. Berharap sang keponakan bersedia memeluknya.
"Tante..." Lika balas memanggil. Dia tentu tak kuasa menahan diri untuk tidak memeluk Selia. Keduanya saling melepaskan haru dan rasa bersalah. Sama-sama menangis dalam pelukan masing-masing.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Ada yang mau double up?