
...༻♡༺...
Kini Zafran dan Lika sedang dalam perjalanan pulang. Keduanya menghening cukup lama.
"Hanya tinggal menunggu persetujuan tanteku," celetuk Lika sembari mendengus kasar.
"Ya, sepertinya hanya kau yang bisa bicara dengannya. Temuilah dia dan bicarakan semuanya baik-baik," sahut Zafran.
Lika mengangguk. Dia dan Zafran tiba di apartemen. Zafran langsung pamit pergi karena harus mengurus pekerjaan.
"Kenapa tidak istirahat sebentar?" ujar Lika. Sebenarnya dia hanya enggan ditinggal sendirian.
"Ada pekerjaan penting yang harus aku urus. Kau tahu bukan? Aku menelantarkan perusahaan saat melakukan pelarian bersamamu," tanggap Zafran.
Lika terpaksa mengangguk. Dia mengangkat dua tangannya karena hendak memeluk. Namun Zafran langsung pergi begitu saja. Lika lantas urung memberikan pelukan.
Sebenarnya Lika juga mempunyai perusahaan yang harus dikelola. Tetapi karena suasana sedang tidak mengenakkan di antara dirinya dan Selia, Lika terpaksa absen. Lagi pula perusahaan milik keluarganya memang tengah mengalami kerugian total. Mengingat Zayn dan keluarganya sudah mencabut kerjasama.
Lika sendirian di apartemen. Karena merasa bosan, dia memilih menyibukkan diri dengan bersih-bersih serta merapikan barang.
Ponsel Lika bergetar. Ia mendapat pesan dari kedua temannya. Chika dan Nadia mengajak untuk bertemu. Lika lantas pergi menemui teman-temannya ke cafe.
"Aku nggak menyangka, kau dan Zafran sudah menikah sekarang! Memang ya, jodoh itu baiknya harus diperjuangin. Bahkan saat menuju detik-detik pernikahan," cetus Chika. Dia, Lika dan Nadia sudah berkumpul di cafe. Menikmati camilan serta minuman segar.
"Zafran itu sweet banget ya. Tapi aku harus jujur, Zayn sebenarnya juga baik," ujar Nadia. Dia mengingat bagaimana sabarnya sosok Zayn saat mengetahui Lika melarikan diri.
__ADS_1
Chika menepuk pundak Nadia. Sengaja menyadarkan gadis itu. "Jangan halu!" tukasnya.
"Zayn nggak sebaik itu kok. Dia nikah sama aku karena punya niat terselubung. Pokoknya dia bukan lelaki yang baik," ucap Lika yakin. Dia segera menyedot jus alpukat yang baru disodorkan pelayan. "Begini... Tantanganku dan Zafran sekarang adalah menghadapi Tante Selia. Kalian punya usulan nggak biar Tanteku itu bersedia menerima Zafran?"
"Entahlah, Lik. Kau tahu sendiri kan? Betapa keras kepalanya tantemu itu. Apalagi kalau sudah benci banget sama orang. Emang masalah dia sama keluarga Laksana apa sih? Karena kasus perselingkuhan ayahnya Zafran? Kalau iya, bukannya malah tantemu yang dapat simpati publik?" Nadia menanggapi panjang lebar. Dia membicarakan perihal Gamal dan Zara. Ayah dan ibunya Zafran itu diketahui berpacaran saat masih memiliki pasangan masing-masing. Selia yang mencintai Gamal, merasa dikhianati. Belum lagi dengan tragedi meninggalnya sang ayah yang kebetulan terjadi ketika Gamal dan Zara menikah.
Karena itulah Selia sangat membenci keluarga Laksana. Dia menganggap merekalah yang sudah membunuh ayahnya secara tidak langsung. Padahal kenyataannya sang ayah memang sudah lama terkena penyakit jantung.
"Menurutku, pasti susah sih, Lik. Apalagi sekarang perusahaanmu sedang mengalami banyak kerugian kan? Tante Selia pasti lagi pusing banget," kata Chika.
Lika menghela nafas panjang. Lalu menyandar ke kursi. Sampai terlintas sesuatu dalam benaknya. Tanpa basa-basi, Lika mengambil tas dan berdiri.
"Loh. Mau kemana, Lik?" tanya Nadia. Ia dan Chika menatap heran.
"Mau ketemu tanteku! Aku punya ide biar bisa bikin dia merestui hubunganku dan Zafran," jawab Lika antusias. Dia segera pergi meninggalkan cafe.
"Tante..." panggil Lika.
"Ngapain kamu kembali lagi?" jawab Selia ketus. Ia bahkan enggan menatap Lika.
"Izinkan aku bicara baik-baik sama Tante." Lika menarik sebuah kursi ke dekat Selia. Kemudian mendudukinya.
"Tante nggak akan sudi punya ikatan keluarga dengan keluarga Laksana! Keputusanku tidak berubah!" tegas Selia dengan sorot tatapan tajam.
"Aku tahu ini sulit. Tante bahkan sudah dari kecil membuatku membenci Zafran. Namun pada akhirnya kebencian yang kurasakan berubah jadi cinta. Jujur... Demi tante aku sempat melawan perasaan. Tapi tetap nggak bisa..." ungkap Lika. Menceritakan segalanya. "Aku dan Zafran sempat berpisah selama beberapa tahun. Itu semua kami lakukan demi keluarga! Tapi sekali lagi, kami nggak bisa, Tante! Apapun yang terjadi aku nggak bisa melupakan Zafran. Begitupun sebaliknya... Maafin aku... Tapi aku berharap hatimu segera terbuka."
__ADS_1
"Pergilah, Lika! Tante nggak bisa lihat wajah kamu lagi jika pilihanmu tetap ingin menikahi lelaki itu!" balas Selia. Dia kembali menatap ke arah jendela.
"Jika Tante merestui, aku yakin Zafran dan keluarganya akan membantu perusahaan kita. Mereka tidak sejahat yang kau pikirkan," ujar Lika. Itulah ide yang membuatnya berpikir akan meluluhkan hati Selia.
"Tidak!!!" pekik Selia. Matanya menyalang hebat. Membuat Lika kaget sampai berjengit. Tantenya itu terlihat seperti orang kerasukan setan. Lika tidak pernah melihat Selia begitu sebelumnya.
Ekspetasi Lika tidak sesuai dugaan. Dia bahkan pergi dengan cara di usir oleh tantenya sendiri. Lika hanya bisa melampiaskan kekecewaan dengan tangisan.
"Lika!" Tama yang baru datang dari luar, memberikan teguran.
Lika yang sudah tidak mampu menjawab, melingus pergi begitu saja. Dia pulang dengan menggunakan taksi seperti keberangkatannya tadi.
Sungguh, Lika benar-benar sakit hati dengan Selia. Meskipun begitu, hal tersebut justru membuat Lika semakin yakin untuk tetap bersama Zafran.
Lika mengambil ponsel. Lalu menelpon Zafran. Dia tidak lupa menghapus air mata dan menghentikan tangis.
"Ada apa, sayang?" jawab Zafran dari seberang telepon.
"Jangan pedulikan tante Selia! Kita adakan saja acara pernikahannya!" ujar Lika.
"Kamu yakin?"
"Iya! Keluargamu dan Om Tama sudah cukup. Aku ingin pernikahan kita bisa disahkan secara hukum. Ayo kita mengurusnya dengan cepat!"
"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera mengurusnya."
__ADS_1
"Masalah tempat dan pakaian pengantin, biar aku yang mengurusnya," ucap Lika. Semangatnya mulai kembali.