Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 16 - Tawaran Kesepakatan


__ADS_3

...༻♡༺...


Menyaksikan Zafran membeku di depan pintu, Lika lantas memanggil. Dia yang baru saja mengenakan pakaian lengkap, segera menyusul Zafran.


Pupil mata Lika langsung membesar ketika menyaksikan kehadiran Zayn. Salivanya sampai tertelan sendiri.


"Za-Zayn?" Lika terheran.


"Kau tahu yang lebih mengejutkan? Gadis yang datang bersamanya adalah gadis yang dijodohkan denganku," ungkap Zafran sembari perlahan menatap Lika.


"Apa?!" Lika semakin dibuat kaget. Sebab dia belum pernah bertemu dengan Arini.


Zayn tampak berjalan menghampiri posisi Zafran dan Lika. Di iringi oleh Arini dari belakang.


"Jadi kalian pergi ke sini?" cetus Zayn seraya memaksakan diri untuk tersenyum. Atensinya terus tertuju ke arah Lika.


"Wow, Zaf. Aku suka bentuk tubuhmu," ucap Arini blak-blakkan. Membuat Lika langsung mendelik ke arahnya. Perempuan itu segera memaksa Zafran untuk berpakaian.


"Aku akan mengurus mereka. Pakai baju dulu sana!" titah Lika. Zafran yang didorong, lantas menurut saja.


"Ka-kalian bisa masuk dulu." Jujur saja, Lika bingung harus bagaimana. Dia hanya berharap, semuanya dapat dibicarakan dengan baik-baik. Lika sebenarnya merasa bersalah kepada Zayn. Ia tahu lelaki itu pasti banyak menanggung malu karena dirinya.


Zayn dan Arini mengangguk. Keduanya segera duduk ke sofa yang ada di ruang tamu. Mereka duduk agak berjauhan. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Hingga akhirnya mereka berhasil melihat foto Zafran dan Lika menikah.


Zayn bangkit dari tempat duduk. Lalu mengambil foto yang menarik perhatiannya.


Lika hanya membulatkan mata. Dia siap menghadapi apapun yang terjadi. Termasuk kemarahan dari Zayn.


"Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi... Aku mengerti jika kau ingin marah kepadaku, Zayn..." tutur Lika. Dia menyatukan dua tangan di atas lutut.


"Kau keterlaluan sekali. Kalau ingin kabur seharusnya pikirin jauh-jauh hari. Ini malah dilakukan pas hari H. Zayn sama keluarganya pasti malu banget," tukas Arini sinis. Dia menyilangkan tangan di depan dada. Menyebabkan kepala Lika perlahan tertunduk.


Bukannya marah, Zayn malah tersenyum lembut. Dia segera duduk ke hadapan Lika.


"Jadi kau dan Zafran menikah tanpa sepengetahuan keluarga masing-masing?" tanya Zayn serius.

__ADS_1


Lika mengangguk. Dahinya berkerut dalam. Heran terhadap reaksi tenang yang ditunjukkan Zayn.


"Memangnya kenapa? Apa tujuan kedatangan kalian ke sini? Dan bagaimana kalian bisa tahu kami ada di sini?" timpal Zafran yang mendadak muncul. Dia baru saja mengenakan pakaian.


"Itu cerita yang panjang, Zaf. Kami sangat kesulitan untuk datang ke sini," jawab Arini sembari mengamati kuku-kukunya yang berhiaskan kotek berwarna biru.


"Aku dan Arini punya alasan yang berbeda. Tapi tujuan kami sepertinya sama," jelas Zayn.


Zafran dan Lika reflek bertukar pandang. Mereka tentu penasaran dengan alasan yang disebutkan oleh Zayn.


"Ada properti bangunan milik keluarga Baskara yang kuincar. Tapi properti itu tidak bisa aku dapatkan dengan mudah tanpa bantuan Lika," ujar Zayn.


"Maksudnya?" Lika menuntut jawaban.


"Maksudnya adalah, aku ingin kita berpura-pura menerima perjodohan sampai keluargamu mau menyerahkan apa yang aku mau. Aku janji semua ini tidak akan lama," jelas Zayn.


"Jadi kau ingin aku merahasiakan pernikahanku dengan Zafran?" Lika memastikan.


"Bisa dibilang begitu." Zayn menganggukkan kepala.


"Aku tidak setuju! Itu gila!" Zafran langsung angkat bicara. Menatap tajam ke arah Zayn.


"Kenapa?" tanya Arini sambil menatap sebal kepada Zayn.


"Bicaralah! Zafran ingin mendengar alasanmu datang ke sini," sahut Zayn. Ikut memasang tatapan sebal.


"Ah benar." Arini menatap lurus kepada Zafran. "Begini, sebelumnya aku minta maaf. Tapi aku mengaku kepada kedua orang tua kita, kalau kita sedang pergi bersama," terangnya.


"Apa?! Kenapa kau lakukan itu?" Zafran tak percaya.


"Aku melakukan itu karena kehabisan uang. Ayah dan ibuku akan mengirimkanku uang jika aku menurut dengan mereka. Dan sekarang mereka menyuruh kita pulang." Arini memasang raut wajah sedih.


"Tapi kau tidak perlu--"


"Mereka juga sedang mengerjakan proyek baru bersama. Dan bagusnya proyek itu sukses besar. Apa ayahmun tidak ada menelepon? Katanya dia juga kesusahan mengurus perusahaanmu yang ditinggal. Karena proyek baru itulah perusahaanmu bisa selamat. Dan jika mereka mengetahui kau diam-diam menikahi perempuan lain, maka aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi." Arini bicara panjang lebar. Dia bahkan sampai memotong perkataan Zafran. Ucapannya berhasil membuat mulut lelaki itu bungkam.

__ADS_1


"Keluargaku sangat marah dengan apa yang kau lakukan, Lik. Dan tantemu berusaha keras membujuk kami agar tetap mau bekerjasama. Kau tahu kalau perusahaan keluarga Baskara sedang mengalami kemerosotan," ucap Zayn. Menatap Lika dan Zafran secara bergantian. "Tantemu sekarang berusaha mati-matian untuk mencarimu. Aku sengaja tidak memberitahu karena mengetahui siapa Zafran," sambungnya.


"Semua yang kalian lakukan pasti ada resikonya. Lagi pula aku yakin, alasan kalian bersembunyi karena sama-sama belum siap memberitahukan kebenaran," tambah Zayn.


Zafran mendengus kasar. Dia memang tidak bisa menepis semua ucapan Zayn dan Arini. Terlebih semuanya selalu berhubungan dengan keluarga serta bisnis.


Sementara Lika, dia menundukkan kepala. Dirinya jadi teringat dengan Selia. Walau tantenya itu menyebalkan, Lika tetap sayang kepadanya.


Perlahan tangan Zafran menyentuh jari-jemari Lika. Keduanya segera bertukar tatapan lembut. Zafran dan Lika tahu, cinta yang mereka jalin pasti akan memiliki resiko besar.


"Kami butuh waktu untuk memutuskan." Usai melihat tatapan Lika, Zafran segera bicara.


"Benar, lagi pula aku dan Zafran memang berniat ingin kembali ke kota." Lika membenarkan.


"Itu bagus. Kami akan menunggu. Aku dan Arini akan bermalam di sini," ujar Zayn santai. Dia memutuskan tanpa persetujuan dari Arini.


"Apa?! Bermalam?! Tapi di sini tidak ada sinyal sama sekali. Dari tadi aku berusaha membalas pesan dari temanku tapi tidak bisa!" protes Arini.


"Kalau begitu, pulang saja sendiri." Zayn tak acuh.


Arini bedecak kesal. Dia menggaruk kepala dengan perasaan frustasi.


"Ya sudah. Aku akan membuatkan minuman untuk kalian." Lika segera beranjak ke dapur.


"Tunggu sebentar." Zafran bergegas mengikuti Lika. Mereka bicara di dapur.


"Bagaimana ini? Aku tidak menyangka semuanya akan jadi rumit begini?!" Zafran mengusap kasar wajahnya berulang kali.


"Aku juga. Aku pikir saat kembali ke kota, kita hanya akan menghadapi keluarga satu sama lain. Aku benar-benar melupakan Zayn dan juga gadis yang dijodohkan denganmu itu!" sahut Lika. Dia mengisi air ke dalam teko.


"Kita harus pikirkan matang-matang. Kita juga harus membuat rencana agar semuanya bisa berjalan lancar. Sebenarnya Zayn berkata benar tentang sesuatu. Aku memang belum sepenuhnya siap untuk memberitahukan semuanya. Apalagi saat mendengar apa yang dikatakan Arini tadi."


Lika mengangguk. Dia sependapat dengan Zafran. Nampaknya pilihan mereka cenderung untuk menerima kesepakatan dengan Zayn dan Arini.


..._____...

__ADS_1


Catatan Author :


No komen, No update.


__ADS_2