
...༻♡༺...
Pagi telah tiba. Lika perlahan membuka mata. Dia langsung dikagetkan dengan keberadaan Arini. Namun setelah mengingat apa yang terjadi semalam, Lika merasa lebih tenang. Ia segera menemui Zafran.
Lika menyaksikan Zafran masih tertidur. Dia langsung membangunkan lelaki itu.
"Kenapa?..." Zafran membuka mata dengan malas.
"Sebelum pergi, sebaiknya kita temui Galih dan Elis. Ayo kita bersiap!" ajak Lika sembari memaksa Zafran berdiri. Keduanya pergi ke rumah Galih sebentar.
Zafran dan Lika menceritakan semuanya kepada Galih. Lelaki tersebut sontak terkejut. Hal serupa juga dirasakan Elis. Pasangan suami istri itu selalu heran dengan masalah yang menimpa Zafran dan Lika.
"Aku dan Elis hanya bisa berdoa supaya semua masalah kalian dapat secepatnya teratasi. Kumohon jangan terlalu lama menyembunyikan hubungan kalian. Itu tidak baik." Galih memberikan saran yang di ikuti Elis dengan anggukan kepala.
"Terima kasih, Lih, Lis. Aku dan Lika tidak akan melupakan semua bantuan yang kalian berikan," ucap Zafran seraya menepuk pundak Galih.
"Iya, terima kasih." Lika ikut mengungkapkan. Dia segera memeluk Elis. Mereka berpamitan dengan tenang.
Usai menemui Galih serta istrinya, Zafran dan Lika kembali ke rumah. Mereka melihat Zayn dan Arini sudah sepenuhnya siap.
Zafran dan Lika hanya perlu memasukkan semua barang bawaan ke mobil. Selang sekian menit, mereka berangkat. Meninggalkan desa yang sudah menjadi saksi pernikahan rahasia.
Zafran dan Lika duduk di belakang. Hening menyelimuti suasana. Tangan Zafran perlahan meraih jari-jemari istrinya. Lika lantas memegang erat tangan Zafran. Ia berharap mampu menghadapi semuanya saat pulang nanti.
Perlu waktu hampir seharian untuk sampai ke kota. Zafran, Lika, Zayn, dan Arini menghabiskan waktu terlama di kereta. Mereka tiba ke tempat tujuan ketika sore hari.
"Kita sebaiknya berpisah di sini. Aku dan Lika akan ke apartemen sebentar," ujar Zafran. Bicara kepada Zayn sekaligus Arini.
"Kita lakukan semuanya besok saja. Nanti aku akan menjemput Lika," sahut Zayn. Membuat raut wajah Zafran langsung cemberut.
"Baiklah!" Lika segera membawa Zafran pergi. Keduanya menaiki taksi bersama. Dalam perjalanan menuju apartemen milik Zafran.
Setibanya di apartemen, Zafran dan Lika istirahat sebentar. Keduanya sama-sama memasang tatapan kosong. Rebahan bersama di atas ranjang. Helaan nafas dihela beberapa kali oleh mereka.
"Semuanya akan baik-baik saja kan?" imbuh Lika. Dia tidak bisa membayangkan respon Selia saat melihat dirinya kembali.
"Aku rasa begitu. Tetapi yang jelas, jangan sampai semuanya berjalan jadi berlebihan."
"Aku sebenarnya merasa sangat bersalah dengan Tante Selia. Tapi aku juga tidak mau meninggalkanmu lagi. Semuanya terasa sangat sulit."
__ADS_1
"Hmmm... Jujur saja, aku tidak bisa membayangkan bagaimana terkejutnya tantemu kalau tahu kita sudah menikah."
Pembicaraan Zafran dan Lika berakhir dengan pejaman mata. Keduanya tertidur dalam posisi saling memiring berhadapan.
...***...
Hari kembalinya Zafran dan Lika tiba. Keduanya berpisah untuk sementara. Saling kembali pada keluarga masing-masing.
Kini Lika duduk di sebelah Zayn. Sedari tadi dia terus menatap kosong ke luar jendela. Dirinya merasa berat berpisah dengan Zafran walau hanya sebentar.
"Tenang saja. Kau masih akan bertemu dengan Zafran. Setidaknya setelah urusan hari ini selesai. Kau bisa kembali ke apartemenmu dan Zafran." Seolah tahu apa yang dipikiran Lika, Zayn mencoba menenangkan.
"Berjanjilah satu hal. Jika nanti tanteku mengetahui hubunganku dan Zafran, jangan hentikan kerjasama kalian. Aku melakukan semuanya karena itu," ujar Lika.
"Baiklah." Zayn menjawab singkat. Mobilnya sekarang memasuki area rumah keluarga Baskara. Dia dan Lika segera masuk ke rumah.
Selia sedang sibuk berada di dapur. Dia terlihat mengurus putranya yang masih berusia empat tahun.
Langkah Lika terhenti ketika menyaksikan punggung Selia. Dia mengeluarkan nafas dari mulut. Mempersiapkan diri untuk menghadapi semua kemarahan Selia.
"Tante..." panggil Lika.
"Li-lika? Kau..." Selia mengatup mulutnya rapat-rapat. Lalu berlari untuk memeluk Lika. "Kau kemana saja, hah?!" timpalnya sembari melepas pelukan dengan kasar.
"Maaf, Tante. Kemarin aku hanya merasa belum siap," ungkap Lika.
"Kau tidak tahu kalau aku sudah mencarimu kemana-mana! Chika dan Nadia bahkan tidak tahu! Dasar anak nakal!" Selia memukul pelan pundak Lika. Dia tentu merasa sedikit kesal.
"Maafin aku ya, Tante. Yang penting aku sudah kembali kan?" Lika segera mendekap Selia. Saat itulah Selia baru menyadari kehadiran Zayn.
"Kau datang bersama Zayn?" tanya Selia penasaran.
"I-iya." Lika terpaksa mengangguk.
"Lika menghubungiku lebih dulu, Tante. Dia juga sudah minta maaf," kata Zayn seraya melangkah mendekati Selia dan Lika.
"Syukurlah. Sepertinya kalian butuh waktu yang lama agar bisa lebih dekat. Harusnya kami para orang tua tidak mendesak kalian untuk menikah," ujar Selia. Memegangi dadanya dengan satu tangan.
Lika tersenyum kecut. Sementara Zayn terdenyum simpul. Ekspresi itu menunjukkan apa yang sedang mereka rasakan.
__ADS_1
Di sisi lain, Zafran kembali sendirian. Tidak seperti Zayn dan Lika yang kembali bersama. Hal tersebut karena Zafran benar-benar tak peduli dengan Arini.
Zafran juga tidak pulang ke rumah, melainkan langsung bekerja ke perusahaan miliknya. Semua karyawannya kaget terhadap kehadiran mendadak Zafran. Parahnya lelaki itu muncul dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
Tetapi ada satu hal yang mengganggu Zafran. Yaitu mengenai gosip kepergiannya dengan Arini. Dia tidak menyangka ceritanya sudah menyebar kemana-mana.
Kabar mengenai kembalinya Zafran terdengar sampai ke telinga Gamal. Sebagai ayah kandung, dia justru mengetahui kabar itu dari orang lain. Gamal kebetulan diberitahu oleh karyawan serta ayahnya Arini.
"Dasar anak kurang ajar! Dia pergi tidak bilang. Datang bahkan tidak ketahuan!" geram Gamal sembari melonggarkan dasi. Dia segera beranjak untuk menemui Zafran. Gamal juga tidak lupa memberitahukan kepulangan Zafran kepada sang istri.
Bruk!
Pintu ruang kerja Zafran terbuka dengan bantingan. Orang yang muncul tidak lain adalah Gamal.
"Eh, hai Pah." Zafran menyapa dengan senyuman. Namun Gamal membalasnya dengan pelototan mata.
"Sini kamu!" belum sempat Gamal memberi pelajaran, Zara datang. Dia segera menjewer kuping Zafran.
"Aku tahu kau pergi bersama Arini! Tapi haruskah pergi dan pulangnya diam-diam begitu?! Aku dan Papahmu sangat cemas!" ujar Zara sambil menguatkan jewerannya.
Zafran hanya bisa mengaduh. Dia berusaha keras melepas jeweran dari sang ibu.
"Sudahlah, Sayang. Dia sepertinya sudah kapok," tegur Gamal. Hingga membuat Zara berhenti menjewer kuping Zafran.
"Sekarang beritahu kami. Apa yang kau lakukan saat pergi bersama Arini?" Gamal menyelidik.
"Nggak ada kok." Zafran mejawab sambil mengelus-elus kupingnya yang sakit. Dia malas memberikan jawaban.
"Tidak ada. Jangan bohong kamu! Papah sama Bunda aja kalau nonton tv bareng pasti ada terjadi sesuatu," cetus Zara. Membuat pipi Gamal langsung memerah.
"Aah... Papah sama Bunda kalau buang sampah bareng aja pasti terjadi sesuatu. Semua orang juga tahu," balas Zafran santai. Dia tahu betapa mesranya hubungan kedua orang tuanya.
"Ini kenapa kita malah bicarain Papah sama Bunda. Kami di sini pengen tahu hubunganmu sama Arini?!" Gamal menuntut jawaban.
Zafran terdiam sejenak. Dia sedang mencoba memikirkan cerita yang tepat. Sebuah cerita yang tentu saja tidak akan membuat kesalahpahaman semakin berat.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Hai semua. Aku pengen tanya, ini cerita seru nggak sih? Soalnya yang like dan komen semakin berkurang. Aku jadi pengen hapus ini novel. Kalian setuju nggak?