
...༻♡༺...
Zafran tersenyum kecut. Dia tidak bisa jujur tetapi juga tidak bisa berbohong.
"Bagaimana kalau kau coba sendiri?" usul Zafran sembari menyodorkan piring berisi nuget kepada Lika.
"Baiklah..." Kening Lika nyaris bertautan. Dia segera memakan nuget buatannya. Namun belum sempat makanan itu sampai ke mulut, Galih mendadak memanggil dari luar. Lelaki itu juga sesekali mengetuk pintu.
Zafran dan Lika langsung meninggalkan meja makan. Keduanya pergi menemui Galih dan menceritakan yang terjadi. Apalagi perihal menghilangnya dompet mereka.
"Sudah kuduga ini akan terjadi. Pasti yang mencurinya adalah salah satu warga desa," imbuh Galih. Bola matanya terlihat mengarah ke arah kanan atas. Pertanda kalau dia tengah mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Apa kau tahu siapa yang mengambil dompetnya?" tanya Zafran.
Galih menggeleng. "Tidak. Sampai sekarang nggak ada yang tahu siapa pencuri itu. Dia terbilang hebat karena tidak pernah ketahuan. Kami bahkan sempat berpikir dia menggunakan ilmu hitam," ujarnya.
"I-ilmu hitam?" Mata Lika berkedut. Dia tentu tidak mempercayai apa yang dikatakan Galih.
"Begini. Bagaimana kalau kau bantu kami melaporkan semuanya ke polisi?" kata Zafran.
"Jangan! Kalau begitu, bukankah pelarian yang akan kita lakukan akan ketahuan? Aku yakin tante Selia sudah melaporkan menghilangnya aku ke kantor polisi," sahut Lika. Tidak setuju dengan ide Zafran.
"Lalu bagaimana kita hidup tanpa uang? Aku juga tidak punya pekerjaan sama sekali."
"Aku tidak tahu! Apa kau ingin kita kembali ke kota saja? Mungkin itu lebih baik."
"Cukup, cukup... Kenapa kalian jadi berdebat? Kan ada aku di sini. Aku bisa membantu Zafran mencari pekerjaan. Dan Lika, mungkin kau bisa menghabiskan waktu bersama Elis selama Zafran pergi." Galih menyela interksi intens yang terjadi di antara Zafran dan Lika. Dua temannya tersebut seketika terdiam.
"Pekerjaan? Memangnya ada pekerjaan untukku?" Zafran menuntut jawaban.
"Ada. Tapi kau harus ikut aku." Galih merangkul Zafran.
"Ah, benar! Aku lupa menanyakan sesuatu. Kenapa tidak ada sinyal sama sekali? Aku dan Lika tidak bisa menggunakan ponsel kami sama sekali," cetus Zafran seraya memperlihatkan keadaan ponselnya.
"Itu memang benar! Kalian cuman bisa dapat sinyal saat naik ke tempat yang tinggi," jelas Galih yang disertai dengan senyuman. Tetapi tidak untuk Zafran dan Lika. Keduanya terpolongo bersamaan.
__ADS_1
"Tunggu bentar ya, Lih!" ujar Zafran seraya menarik Lika menjauh dari Galih. Dia ingin bicara empat mata.
"Sepertinya tinggal di desa benar-benar bukan ide yang bagus!" imbuh Zafran.
"Aku tahu. Makanya aku mengusulkan untuk kembali ke kota. Kita tidak terbiasa hidup seperti ini kan?" tanggap Lika.
Zafran membisu sejenak. Dia berpikir dahulu sebelum benar-benar membuat keputusan.
"Bagaimana kalau kita beri kesempatan satu hari lagi. Aku ingin mencoba," ucap Zafran.
Lika tertunduk sendu. Meskipun begitu, dia menganggukkan kepala. Pertanda bahwa dirinya setuju terhadap usulan sang suami.
"Semuanya akan baik-baik saja, sayang..." Zafran mengecup lembut kening Lika. Hingga istrinya itu mengembangkan senyuman.
...***...
Selepas mengantar Lika menemui Elis, Zafran pergi bersama Galih. Keduanya mendatangi area persawahan yang luas.
Zafran berhenti melangkah ketika melihat jalanan yang akan dilewatinya sangat becek. Dia mematung di tempat. Sedangkan Galih tampak sudah berjalan jauh di depan.
"Gimana mau jalan. Aku nggak bisa lewat!" sahut Zafran.
"Ya ampun. Itu cuman lumpur bukannya jurang. Masih bisa dilewatin loh. Aku aja tadi bisa." Galih merasa tak percaya. Dia berjalan kembali demi menghampiri Zafran. Matanya memicing ke arah temannya tersebut.
Galih tiba-tiba berseringai. Ide untuk menjahili Zafran muncul dalam benak.
Di sisi lain, Zayn baru saja mendapatkan rekaman CCTV untuk hari pernikahannya kemarin. Dia memeriksa dengan hati-hati agar bisa menemukan momen ketika Lika melarikan diri.
Setelah mencari cukup lama, Zayn akhirnya menemukan rekaman saat Lika pergi bersama Zafran. Pupil matanya langsung membesar. Lelaki itu reflek berdiri. Mengamati dengan seksama video yang terputar.
"Lelaki itu... Aku ingat siapa dia," gumam Zayn. Dia sangat ingat ada seorang lelaki yang salah masuk ke kamarnya.
"Jadi dia melarikan diri bersama lelaki itu? Kenapa?" ucap Zayn. Bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Dia lanjut memeriksa jejak Lika selanjutnya.
Menurut rekaman CCTV yang ada, terakhir kali Lika terlihat adalah saat pergi menaiki mobil bersama Zafran. Zayn juga menyaksikan bukti bahwa Chika dan Nadia berbohong.
__ADS_1
"Kalau kalian melihat rekaman ini, pasti kalian tidak akan bisa berbohong." Zayn segera pergi menemui Chika dan Nadia. Dia sengaja menemui mereka dengan baik-baik di sebuah cafe.
Nadia dan Chika tertohok ketika Zayn memperlihatkan rekaman video kepergian Lika dan Zafran. Keduanya benar-benar tidak bisa berkilah lagi.
"Maaf... Aku dan Chika memang tahu Lika melarikan diri. Tapi kami tidak tahu dia kemana," ungkap Nadia yang merasa tidak enak.
"Aku tidak menanyakan kemana Lika pergi. Tapi aku ingin tahu lelaki yang pergi bersamanya," tukas Zayn. Penuh akan keseriusan.
"Iya. Dia..." Nadia perlahan bertukar pandang dengan Chika. Bingung apakah harus memberitahu kebenaran atau tidak.
"Sebaiknya beritahu aku. Kalau tidak, aku akan mengadukan kebohongan kalian kepada Selia dan Tama," ancam Zayn. Membuat Nadia dan Chika tidak punya pilihan selain memberitahu.
Kini Zayn tahu kalau Lika pergi dengan Zafran. Lelaki yang tidak lain adalah mantan kekasih Lika. Selain itu, yang mengejutkan adalah, Zafran merupakan anak dari musuh bebuyutan keluarga Baskara.
"Menarik," komentar Zayn usai mengetahui kebenaran.
Di waktu yang sama, Arini baru saja kembali ke Indonesia. Dia mengaktifkan ponsel setelah sekian lama. Arini sengaja menghilang dari keluarganya karena selalu dipaksa menjalani perjodohan. Sebenarnya gadis tersebut terpaksa pulang karena sudah kehabisan uang.
Ponsel dari sang ibu diterima Arini. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Arini! Kau kemana saja? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?!" timpal Felisha dari seberang telepon.
Arini memutar bola mata jengah. "Aku hanya pergi sebentar. Aku soalnya capek karena terus--"
"Kamu pergi sama Zafran ya?" Felisha memotong perkataan Arini begitu saja. Seolah yakin dengan tebakannya.
"Zafran?" Felisha tentu heran.
"Dia juga tiba-tiba menghilang di waktu yang sama denganmu. Jadi kami curiga kalian pergi menghabiskan waktu bersama."
"Itu benar! Aku memang pergi dengan Zafran. Kami ingin lebih dekat tanpa harus di awasi oleh kalian. Tapi Mamah dan Papah tenang saja, aku dan Zafran bisa membatasi diri kami." Entah apa yang merasuki diri Arini. Sehingga dia mengiyakan dugaan Felisha.
"Benarkah? Akhirnya ada lelaki yang berhasil meluluhkan hatimu. Aku sepenuhnya juga percaya kalau Zafran lelaki yang baik. Aku harap hubungan kalian berjalan lancar." Felisha terdengar antusias.
"Oke, Mah. Kalau begitu, Mamah bisa transfer uang ke rekeningku kan? Aku nggak mau Zafran yang terus-terusan mentraktir," kilah Arini. Permintaannya langsung diwujudkan Felisha. Tanpa basa-basi, gadis itu segera berangkat ke luar negeri lagi.
__ADS_1