
...༻♡༺...
Lika menatap Zafran lamat-lamat. Lalu membelai lembut kepala Zafran. "Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini selamanya. Cepat atau lambat, keluarga kita pasti akan mengetahui kebenaran," tuturnya.
"Aku juga berpikir begitu. Kita bisa melakukan kesepakatan dengan Zayn dan Arini. Jika semuanya terjadi di luar kendali, kita hanya perlu menghentikan," sahut Zafran yang langsung direspon dengan anggukan oleh Lika.
Zafran kembali menemui Zayn dan Arini. Sedangkan Lika tetap di dapur. Menunggu air sampai mendidih.
Saat duduk ke sofa, Zafran menyaksikan Arini tidak ada. Hanya ada Zayn yang duduk menyandar sambil memejamkan mata.
"Kemana Arini?" tanya Zafran.
"Sepertinya dia sedang mencoba mencari sinyal," jawab Zayn sembari duduk tegak.
"Ngomong-ngomong, aku dan Lika setuju dengan kesepakatanmu. Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya. Kau mau apakan properti bangunan milik keluarga Baskara incaranmu itu? Bukankah perusahaan keluarga Baskara akan jadi rugi jika properti itu jatuh ke tanganmu?" Zafran menciptakan pembicaraan serius.
"Tentu saja tidak. Hilangnya satu properti bangunan tidak akan membuat perusahaan hancur sepenuhnya. Kerjasama yang terjadi di antara perusahaan kami justru akan memberikan keuntungan," tanggap Zayn. Ia terlihat meyakinkan.
Tak lama kemudian, Lika datang. Dia membawakan nampan berisi teh hangat.
Zayn dan Zafran tersenyum bersama. Terutama ketika menyaksikan kehadiran Lika. Perempuan itu segera meletakkan cangkir berisi teh ke atas meja.
Bersamaan pula Zayn dan Zafran menyesap minuman yang disajikan Lika. Mata keduanya langsung membulat. Bagaimana tidak? Tehnya sangat manis. Hanya ada rasa gula yang mendominasi.
"Bagaimana? Enak? Ini pertama kali aku bikin teh soalnya," imbuh Lika. Dia menatap Zafran. Menanti jawaban dari lelaki itu.
"E-enak!" ujar Zafran. Terpaksa berbohong. Dia tidak mau menyakiti perasaan sang istri.
Sementara Zayn memilih bungkam. Ia hanya beberapakali membersihkan tenggorokan dengan berdehem.
Dari arah pintu, Arini mendadak muncul. Dia tersengal-sengal. Pupil mata Arini membesar tatkala menyaksikan ada minuman di atas meja. Gadis itu bergegas meminum minuman buatan Lika tersebut.
Belum sempat Arini meraih cangkir, Zafran sudah lebih dulu mengambil. Dia memaksakan diri untuk menghabiskan teh. Zafran tentu tidak akan membiarkan Arini meminum teh buatan Lika. Dia tahu bagaimana blak-blakkannya seorang Arini.
"Zafran! Aku haus!" protes Arini sembari menghentakkan salah satu kakinya.
"Maaf! Aku ketagihan teh buatan Lika. Aku akan ambilkan air putih untukmu," ujar Zafran sambil buru-buru ke dapur. Dia akan mengambilkan Arini air putih.
__ADS_1
"Air putih?" Arini terperangah tak percaya. Dia segera duduk menghempas dengan raut wajah cemberut.
Lika yang mendengar reaksi Zafran, tersenyum senang. Batinnya berkata, 'Aku nanti akan buatkan teh lagi untuknya.'
Malam itu, Zayn dan Arini bermalam di rumah Zafran dan Lika. Keduanya tidur di kamar yang berbeda.
...***...
Zafran baru selesai mandi. Dia berjalan menuju kamar dimana Lika sedang berada. Tanpa diduga, Zayn menghentikan langkah Zafran.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Zayn. Membuat dahi Zafran berkerut heran.
"Kau mau apa? Berharap di kamar mandi ada shower? Itu tidak akan terjadi," ucap Zafran. Menyilangkan tangan di depan dada.
"Bukan. Aku mau kau dan Lika tidak tidur sekamar selama aku dan Arini ada di sini. Kau mengerti maksudku bukan?" jelas Zayn.
"Memangnya kenapa? Aku dan Lika suami istri. Wajar jika kami tidur sekamar." Zafran menggeleng tak percaya.
"Aku hanya tidak mau..." ucapan Zayn terhenti saat tangan Zafran terangkat ke depan wajahnya.
"Kau tenang saja. Aku dan Lika tidak pernah melakukannya dengan berisik. Selamat malam, Zayn. Kalau merasa iri, mungkin kau bisa mendekati Arini saja." Zafran tersenyum sampai menampakkan gigi. Lalu masuk ke dalam ke kamar.
"Kau kenapa?" timpal Lika.
"Itu Zayn. Dia menyuruh kita agar tidak tidur satu kamar." Zafran menghempaskan diri ke ranjang. Dia telentang dan segera menopang kepala dengan satu tangan. Menatap lurus ke arah Lika yang sedang duduk ujung kasur sejak tadi.
"Kenapa begitu?" Lika terkekeh.
"Bagaimana kalau kita kerjai mereka saja." Mode jahil Zafran aktif.
"Zaf, jangan berpikir yang tidak-tidak!" Lika menolak tegas. Dia tahu bagaimana sikap Zafran saat berbuat jahil. Pasti berlebihan dan memalukan.
"Bukan apa-apa kok. Aku cuman pengen kamu mende-sah lebih nyaring dari biasanya. Bagaimana? Zayn dan Arini pasti akan heboh," usul Zafran seraya beringsut mendekati Lika. Tangannya perlahan menyusup ke dalam rok yang dikenakan istrinya.
Plak!
Lika memukul tangan nakal Zafran. Ia mendorong lelaki itu menjauh.
__ADS_1
"Kita lebih baik bersiap-siap untuk besok!" cetus Lika. Dia berdiri dan mengambil kopernya.
"Ah... Nggak seru. Aku jadi kangen masa-masa kita pas SMA." Zafran menghela nafas kecewa. Namun tidak didengarkan oleh Lika. Alhasil lelaki tersebut segera turun tangan untuk membantu sang istri.
Usai menyiapkan barang yang akan dibawa, Zafran dan Lika bersiap untuk tidur. Sekarang keduanya sama-sama telentang di ranjang. Saling berpelukan satu sama lain.
Baru memejamkan mata, suara teriakan sukses membuat Zafran dan Lika urung tidur. Mereka langsung duduk tegak.
Tak lama kemudian, pintu diketuk oleh Arini. Gadis itu juga memanggil-manggil dengan tergesak-gesak. Seolah sedang dikejar-kejar sesuatu.
Zafran menjadi orang yang membuka pintu. Arini langsung masuk begitu saja.
"Kau kenapa?!" tanya Zafran.
"Aku bermimpi buruk. Aku biasanya selalu begini kalau tidur di tempat yang tidak membuatku nyaman," ungkap Arini. Ia terlihat sudah duduk ke ranjang. Perlahan dirinya menatap Zafran dan Lika secara bergantian. "Boleh aku tidur bersama kalian kan? Aku akan membaik kalau tidurku ditemani oleh seseorang. Biasanya asistenku yang selalu menemani," ujarnya.
"Kau tidak bisa--"
"Kalau Arini tidur di sini. Maka aku juga akan ikut." Perkataan Lika terpotong karena Zayn tiba-tiba muncul. Parahnya lelaki itu juga ingin tidur di kamar Lika dan Zafran.
"Apa-apaan, Zayn? Bukankah kau lelaki? Apa kau juga takut tidur sendirian?" timpal Zafran meremehkan.
"Tentu tidak. Aku hanya ingin ikut saja." Zayn justru menjawab dengan tenang. Dia tampak sudah memilih sofa yang akan menjadi tempat tidurnya.
Zafran dan Lika bertukar pandang. Keduanya tidak bisa berkata-kata dalam sesaat.
"Begini saja. Lika dan Arini sebaiknya tidur berdua. Sedangkan aku akan bersama Zayn di sini," usul Zafran. Dia terpaksa memutuskan. Dari pada harus tidur berempat dalam satu kamar.
"Tapi, Zaf!" Lika tentu tidak setuju. Terlebih dia tidak suka dengan Arini.
"Mau bagaimana lagi? Kau ingin kita tidur berempat? Kalau ketuker bagaimana?" bisik Zafran ke telinga Lika. Dia langsung kena pukulan pelan dari sang istri.
Lika merengut. Dia menatap sebal Arini. Dengan terpaksa dirinya mengajak gadis itu ke kamar sebelah.
"Nanti saat kesepakatan itu terjadi, kita tidak akan tinggal berempat kan?" Sebelum beranjak, Lika menyempatkan diri berbisik kepada Zafran.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
No komen, No update.