
...༻♡༺...
Usai sama-sama melakukan pengakuan, Zafran dan Lika mendapat pesan dan panggilan dari banyak orang. Terutama keluarga mereka serta beberapa orang berkaitan. Termasuk Zayn dan Arini.
"Kita sebaiknya jangan mengangkat panggilan atau membalas pesan siapapun. Pokoknya semuanya akan jelas besok nanti!" usul Zafran.
"Oke, aku setuju." Lika mengangguk. Dia dan Zafran mematikan ponsel. Keduanya melanjutkan kegiatan dengan tidur bersama.
Pagi hari yang cerah menyambut. Zafran menjadi orang yang lebih dulu bangun. Ia memandangi Lika yang terlihat masih asyik tertidur.
Zafran tersenyum tipis. Dia terus menatap sang istri sambil menopang kepala dengan satu tangan.
Tanpa diduga, Lika membuka mata. Dia langsung ingin beranjak dari ranjang. Akan tetapi Zafran sigap memeluk dari belakang.
"Hup! Dapat!" seru Zafran. Sementara Lika hanya bisa bergumam sambil mengusap mata dengan satu tangan.
"Zafran... Aku mau pipis. Nanti kalau pipis di sini kamu yang tanggung jawab," protes Lika sembari mencoba lepas dari pelukan Zafran.
"Idih... Masih panggil nama. Mulai sekarang saling panggil ayang atau sayang dong," pinta Zafran. Dia meletakkan kepala ke pundak Lika. Bersikap manja kepada istrinya sendiri.
"Aku tuh kadang lupa tahu nggak." Lika mendengus kasar. Dia pasrah terhadap apa yang dilakukan Zafran kepadanya. "Ya udah, ayang... Sekarang lepasin nggak?" ujarnya. Menuruti keinginan Zafran.
"Cium dulu lima menit!" Zafran melonggarkan pelukan. Lalu memutar tubuh Lika menghadapnya.
Mata Lika membola. Walau cintanya dan Zafran telah menyatu. Deguban jantung selalu dia rasakan saat berhadapan dengan lelaki itu.
__ADS_1
Zafran tersenyum tipis. Dia mencium bibir Lika dengan lembut. Lika tentu tak akan menolak. Dua tangannya segera melingkar ke leher Zafran.
Suara kecup-mengecup memecah kesunyian. Zafran dan Lika akhirnya terbawa suasana. Kegiatan ciuman mereka berakhir dengan melakukan kegiatan intim.
Setelah puas bercinta, Zafran dan Lika mandi bersama. Kemudian barulah keduanya bersiap untuk pergi ke rumah keluarga Baskara.
Kini Zafran sedang menyetir. Dalam perjalanan menuju rumah keluarga Baskara. Di sampingnya ada Lika yang duduk dengan tenang. Baik Zafran maupun Lika, mereka sama-sama gugup menghadapi segala amarah dari keluarga. Terutama Selia.
"Tanteku memiliki mulut yang sangat pedas. Jadi aku harap kau bisa--" perkataan Lika terhenti ketika Zafran sigap memegangi tangannya.
"Aku tahu. Yang jelas aku sudah siap menerima reaksi apapun," ungkap Zafran.
Lika lantas tersenyum. Dia lega mendengar Zafran berucap begitu.
Tak lama kemudian, Zafran dan Lika tiba di tempat tujuan. Dengan helaan nafas panjang, mereka keluar dari mobil.
Kala Lika dan Zafran melangkah masuk, mereka menyaksikan kehadiran Selia dan Tama di ruang tamu. Dua orang itu langsung berdiri. Membulatkan mata tak percaya. Apalagi ketika melihat Zafran dan Lika berpegangan tangan.
"Tante... Dialah suami yang kubicarakan. Kami menikah--"
"Dia?! Kau bercanda bukan?!" potong Selia. Matanya sudah menyalang hebat.
"Iya... Dia Zafran. Sebenarnya pengakuannya beberapa tahun lalu itu benar. Aku memang berpacaran dengannya. Kami sudah saling mencintai semenjak SMA," jelas Lika.
Mulut Selia bergetar. Dia sangat sulit mencerna kenyataan yang dirinya terima. Selia benar-benar tidak menyangka, suami yang dibicarakan Lika ternyata adalah Zafran. Anak dari keluarga Laksana. Musuh bebuyutan dari keluarga Baskara.
__ADS_1
"Lika! Sini kamu!" Selia menarik Lika. Sengaja membuat pegangan tangan keponakannya terlepas dari Zafran. Namun Zafran tidak membiarkan. Dia malah mengeratkan genggamannya.
"Tante, restuilah hubungan kami. Hanya itu yang kami butuhkan. Kami tidak ingin pernikahan kami terjadi hanya berdasarkan agama. Tetapi juga tertulis dan terdata di negara ini. Semuanya tidak bisa terjadi tanpa restu darimu," ucap Zafran panjang lebar. Menatap penuh harap ke arah Selia.
"Lika! Ini serius bukan? Aku tidak bermimpi kan?" Selia tampak menepuk pipinya berulang kali. Jujur saja, dia masih tidak bisa mempercayai kenyataan yang ada.
"Iya, Tante. Aku serius! Aku dan Zafran bahkan sudah menikah siri. Kami melakukannya agar kalian bisa tahu betapa seriusnya kami," ungkap Lika bersungguh-sungguh. Dia menarik tangannya dari genggaman Selia. Lalu kembali ke samping Zafran. Lika memegangi jari-jemari Zafran dengan kedua tangannya sekaligus.
Selia menyentuh area ulu dadanya. Tama sontak segera memegangi. Dia merasa sangat terkejut. Selia tentu tidak bisa menerima begitu saja permintaan Lika dan Zafran.
"Lika! Sebaiknya kau pergi. Tantemu butuh waktu untuk menerima semua ini," ujar Tama. Dia sebenarnya tidak pernah mementingkan permusuhan yang terjadi di antara keluarga Baskara dan keluarga Laksana. Jujur saja, Tama merasa perselisihan yang terjadi di antara keluarga itu terlalu berlebihan.
"Baiklah, Om. Aku dan Zafran akan kembali nanti." Lika mengangguk. Dia dan Zafran beranjak pergi bersama. Keduanya langsung masuk ke mobil.
"Aku harap Tanteku tidak melakukan hal buruk dengan hubungan kita," harap Lika.
"Semuanya akan baik-baik saja, sayang... Sekarang saatnya kita menemui Papah dan Bundaku," sahut Zafran. Sebuah kecupan singkat mendarat ke pipi Lika. Berharap dengan begitu sang istri bisa menjadi lebih tenang.
"Ya ampun, sempat-sempatnya." Lika reflek menepuk paha Zafran. Sampai lelaki itu harus mengaduh kesakitan.
"Masih aja aku dipukulin begitu. Kau itu susah banget diajak mesra-mesraan. Ya udah, aku sekarang pakai mode dingin aja kayak kulkas," cetus Zafran merajuk.
Lika terkekeh. Dia segera memberikan ciuman balasan ke pipi. Namun Zafran tampak datar saja. Lalu perlahan menjalankan mobil.
"Astaga, ngambek beneran nih ya..." goda Lika sembari mencondongkan wajah ke dekat Zafran.
__ADS_1
"Udah telat. Nggak tertarik lagi." Zafran bicara tanpa menatap Lika. Dia sebenarnya senang dengan ciuman Lika tadi.
Lika tergelak kecil. Dia menganggap reaksi Zafran sekarang hanya sebagai candaan.