
...༻♡༺...
Selepas mencari tahu lelaki yang pergi bersama Lika, Zayn menggunakan semua koneksinya. Dia menyelidiki secara detail mengenai siapa Zafran. Hingga akhirnya Zayn mendapat kabar bahwa Zafran pergi bersama calon istrinya yang bernama Arini.
Dahi Zayn berkerut. Bukannya mendapat jawaban, dia justru menemukan teka-teki.
"Sebenarnya kau pergi bersama Lika atau calon istrimu?" gumam Zayn bertanya-tanya. Terlintas dalam benaknya untuk menemui Arini. Lalu mengajak bertemu di suatu tempat. Bersamaan dengan itu, Zayn juga menyuruh asistennya untuk mencari tahu kemana Lika dan Zafran pergi.
Kini Zayn mendatangi butik milik Arini. Dia menemui gadis itu di sana. Kebetulan Arini baru saja pulang dari luar negeri. Jujur saja, butik milik Arini terlihat sangat sepi dari pengunjung. Tidak heran dia selalu kekurangan uang. Sebab tidak ada penghasilan yang dirinya dapatkan.
"Ingin membeli pakaian untuk pacarmu?" tanya Arini. Mengira Zayn datang untuk membeli baju.
"Tidak. Aku hanya ingin menanyakan perihal Zafran," ujar Zayn. Membuat mata Arini sontak membola. Gadis itu tampak panik. Kemudian membawa Zayn menjauh dari karyawan yang ada di butik. Sekarang keduanya sedang berdiri berhadapan di depan butik.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang Zafran? Itu hanya keluarga dan orang terdekatku yang mengetahuinya!" geram Arini sembari menggertakkan gigi.
"Itu karena Zafran terbukti membawa calon istriku melarikan diri. Jadi sebelum benar-benar menduga, aku ingin membuktikan keberadaannya terlebih dahulu darimu," tukas Zayn.
"A-apa? Zafan melarikan diri bersama calon istrimu?" Arini merasa tak percaya.
Zayn mendengus seraya memutar bola mata jengah. Dari reaksi yang ditunjukkan Arini, dia yakin gadis itu sedang tidak bersama Zafran.
"Ah... Sepertinya Zafran memang tidak bersamamu." Zayn menyimpulkan. Bertepatan dengan itu, dia mendapatkan telepon.
Zayn mendapat kabar dari sang asisten kalau Zafran dan Lika terakhir terlihat di stasiun kereta api terdekat. Hal tersebut membuat Zayn berpikir lagi. Dia yang sudah mengetahui perihal masa lalu Zafran dan Lika, mencoba menanyakan perihal dua sejoli tersebut kepada salah satu karyawannya. Kebetulan ada karyawan perusahaan Zayn yang pernah satu sekolah dengan Zafran dan Lika. Orang itu tidak lain adalah Ari.
Dengan mencari tahu teman terdekat Zafran, Zayn berhasil mengetahui fakta tentang Galih. Sekarang dia dapat menduga kemana Lika dan Zafran pergi.
Tanpa sepengetahuan Zayn, Arini mengikuti. Terutama semenjak lelaki itu pergi dari butik. Dia mengekori Zayn yang singgah ke sebuah cafe.
Arini mengenakan kacamata hitam dan kain yang di ikat di bawah dagu. Berharap keberadaannya tidak terendus oleh Zayn. Tetapi Zayn yang pintar, tentu dapat mengetahui kehadiran Arini dengan cepat.
__ADS_1
Zayn berpura-pura pergi ke toilet. Lalu diam-diam berjalan menghampiri Arini dari belakang.
"Kau ingin ikut?" ucap Zayn. Membuat Arini kaget sampai berjengit. Gadis tersebut langsung memegangi dada.
"Ka-kau!" Arini tidak tahu harus mengucapkan apa.
"Aku ingin pergi menemui Lika dan Zafran. Kau mau ikut?" tanya Zayn dengan nada begitu datar dan dingin. Tidak ada sedikit pun kepedulian yang dipancarkan dari matanya. Sebenarnya itulah jati diri Zayn. Ia bermuka dua.
"Benarkah? Kau tahu mereka kemana?" Arini berbalik tanya.
"Aku tidak sepenuhnya yakin. Tapi aku bisa pastikan mereka ada dimana," jawab Zayn.
Arini terdiam. Dia tampak berpikir keras mengenai ajakan yang diberikan Zayn. Arini sebenarnya sedang bingung. Ia merasa kalau dirinya harus memberitahu terkait kebohongannya kepada Zafran. Gadis itu harus melakukan hal tersebut sebelum Zafran terlanjur kembali. Jika tidak, Arini akan dibuat malu setengah mati.
Merasa terlalu lama menunggu, Zayn akhirnya meninggalkan Arini. Saat itulah Arini mengatakan keinginannya untuk ikut. Alhasil keduanya berangkat bersama.
...***...
Sekarang Lika tengah sibuk menggosok punggung Zafran. Dia merasa aneh terhadap kegiatan yang sedang berselang. Terlebih Zafran hanya mengenakan celana boxer. Lika jadi tidak kuasa menahan senyuman.
"Zafran!" Lika kaget. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Zafran memeluknya dengan erat.
"Udah... Kita mandi bareng aja kenapa? Kan udah halal," ujar Zafran. Tangannya perlahan melepas baju atasan sang istri. Kini tampilan Lika hanya mengenakan bra dan celana pendek selutut.
Zafran mendorong pinggul Lika. Ulahnya sukses membuat Lika tersenyum. Perempuan itu mengerti atas maksud Zafran. Dia segera memadukan bibirnya dengan mulut sang suami.
Zafran dan Lika sesekali tertawa. Keduanya melakukan itu sambil berciuman. Mereka saling membersihkan badan terlebih dahulu.
Canda dan tawa terus menggema di dalam kamar mandi. Mereka bahkan lupa dengan rasa lapar yang menyelimuti perut.
Usai saling membersihkan, Zafran dan Lika mengakhiri semuanya dengan melakukan hubungan intim.
__ADS_1
Dari pintu depan, ada Galih yang mengetuk. Dia membawakan rantang berisi makanan untuk Zafran dan Lika.
Karena tidak kunjung dibuka, Galih memilih membuka pintu. Kebetulan juga pintunya sedang tidak dikunci. Lelaki itu segera mencari keberadaan dua temannya.
Dahi Galih berkerut karena suasana rumah terasa sangat sepi. Hanya ada suara aliran air keran yang ada di dalam kamar mandi.
"Zafran? Lika?" panggil Galih.
Lika yang mendengar, reflek mendorong Zafran. Padahal mereka baru selesai bersenggama dan mandi. Keduanya sama-sama hanya mengenakan handuk.
Meski mendorong Zafran, tangan Lika sigap memegangi lengan lelaki itu. Sehingga akhirnya mereka jatuh ke lantai bersama.
Zafran reflek mengaduh. Pantatnya menabrak ember dan gayung yang tak bersalah. Sedangkan posisi Lika berada di atas badannya.
"Kenapa?!" Galih tiba-tiba membuka pintu. Dia melakukan itu karena cemas terhadap pekikan Zafran. Galih sukses memergoki Zafran dan Lika berduaan di dalam kamar mandi. Wajah pasutri tersebut sama-sama memerah bak kepiting rebus.
"Eh, maaf!" Sadar melakukan kesalahan, Galih langsung pamit. Dia meletakkan rantang ke atas meja, kemudian pergi secepat mungkin.
Lika segera membantu Zafran berdiri. Dia juga memperhatikan tubuh lelaki itu. Takut kalau Zafran mengalami luka atau memar.
"Aku tidak apa-apa," ucap Zafran sembari tersenyum. Dia bergegas keluar kamar mandi. Lalu memanggil Galih. Tetapi temannya itu sudah tak terlihat lagi.
"Mungkin dia merasa tidak enak. Makanya langsung pulang," kata Lika. Dia berjalan mendekati meja. Mengamati rantang berisi makanan yang dibawakan Galih.
"Kita sebaiknya pakai baju dan makan," usul Lika. Namun Zafran tampak berjalan ke pintu depan. Dia membuka pintu tersebut. Memastikan apakah Galih masih ada atau tidak.
Karena tidak melihat Galih, Zafran memutuskan menutup pintu. Tetapi itu urung dilakukan saat dirinya menyaksikan sebuah mobil memasuki halaman rumah.
Kening Zafran mengernyit. Matanya memicing ke arah mobil yang datang.
Saat mobil berhenti, sosok perempuan berhasil membuat mata Zafran terbelalak. Bagaimana tidak? Gadis itu tidak lain adalah Arini. Gadis yang dijodohkan dengannya.
__ADS_1
Arini terkesiap melihat Zafran. Sebab lelaki itu terlihat hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Tubuh atletis Zafran terpampang nyata.
Setelah dikejutkan akan kedatangan Arini, Zafran harus dihadapkan dengan kehadiran Zayn. Perasaan kagetnya terlihat dari sikap Zafran yang mematung dengan mulut sedikit menganga.