Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 12 - Masakan Lika


__ADS_3

...༻♡༺...


Zafran dan Lika saling berpelukan cukup lama. Sampai kecoak di hadapan keduanya menjauh, barulah mereka berlari keluar kamar.


"Berarti itu kecoak tidur bareng kita semalaman kan?" imbuh Lika sembari meringiskan wajah.


"Iya, dia juga nontonin kita begituan semalaman," sahut Zafran. Dia dan Lika saling menghimpitkan badan. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Memastikan tidak ada kecoak lagi yang terlihat.


"Kita sebaiknya tidur di kamar sebelah saja nanti. Aku tidak mau lagi tidur di kamar ini!" ujar Lika.


"Mungkin hari ini kita bisa menyuruh seseorang untuk bersih-bersih," usul Zafran yang langsung direspon dengan anggukan kepala dari Lika.


Tanpa pikir panjang, Zafran segera mengambil ponsel. Mencoba menelepon seseorang untuk membersihkan rumah. Namun dia tidak bisa menelepon siapapun. Sebab tidak ada sinyal sama sekali.


"Bagaimana dengan ponselmu?" Zafran bertanya kepada Lika.


"Sama. Juga nggak ada sinyal. Aku baru sadar loh. Harusnya kita periksa ponsel semenjak datang ke desa ini," ucap Lika. Dia menghempaskan diri duduk ke sofa. Menampakkan raut wajah yang terlihat ingin menangis.


"Tapi anehnya, kok Galih bisa angkat telepon kita ya tempo hari." Zafran merasa heran. Dia berniat menemui Galih. Tetapi dirinya urung pergi ketika Lika sigap memegangi pergelangan tangannya.


"Aku lapar, Zaf..." ungkap Lika seraya memegangi perut.


"Ah, benar. Kita berdua belum makan sama sekali sejak tadi pagi."


"Sejak tadi malam. Kita semalaman sibuk main anu..." Lika membenarkan. Zafran lantas tidak bisa membantah.


"Ya udah. Kita sebaiknya mandi dulu. Baru cari makan," saran Zafran. Ia menyuruh Lika mandi terlebih dahulu. Sedangkan dirinya sibuk mengambil uang yang tersimpan di dalam koper.


Mata Zafran membola. Tatkala dirinya tidak menemukan dompet di dalam koper. Sialnya bukan hanya miliknya yang tidak ada. Tetapi juga milik Lika.


Kini Zafran terpaksa mengeluarkan seluruh barang yang ada di koper. Semuanya jadi berantakan.


"Kenapa, sayang? Kau mencari apa?" Lika muncul dari ambang pintu. Ia terlihat mengenakan handuk kimono. Menggerai rambut panjangnya yang masih basah.


"Dompet kita! Dompet kita hilang!" seru Zafran.


"A-apa?!" Lika tercengang. Dia segera turun tangan untuk membantu Zafran mencari. Keduanya menghabiskan waktu hampir seharian. Namun hasilnya tetap saja nihil. Mereka tidak menemukan apa yang dicari.

__ADS_1


"Sekarang bagaimana? Aku lapar banget lagi..." Lika terisak. Dia tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa uang dan fasilitas mewah.


"Kita bisa melewati ini." Zafran memeluk Lika. Mencoba menenangkan perasaan sang istri.


"Tapi bagaimana, Zaf? Kita berdua terbiasa hidup enak," sahut Lika.


"Ini pilihan kita. Maka kita juga harus bisa menghadapinya." Zafran mengusap lembut kepala Lika.


Lika mengangguk lemah. Dia perlahan melepas pelukan Zafran. Lalu berdiri.


"Mau kemana?" tanya Zafran.


"Aku akan mencoba memasak sesuatu," jawab Lika yang tiba-tiba tampak antusias.


Zafran mengacungkan jempol sebagai tanda dukungannya untuk sang istri. Karena dia tahu betul kalau Lika tidak pernah menyentuh panci dan wajan sejak kecil.


...***...


Di dapur, Lika memulai kegiatan dengan cara memasak beras. Dia terdiam cukup lama menyaksikan beras yang telah ditakar ke dalam wadah.


"Setelah ini di apakan? Ditaruh air saja kan?" gumam Lika. Dia segera menambahkan air ke dalam beras tanpa dicuci terlebih dahulu.


Usai mengurus makanan mengandung karbohidrat, Lika segera berkutat dengan lauk. Dia mengambil wajan dan menuang minyak goreng ke dalam sana. Setelahnya, barulah Lika menyalakan kompor.


Tanpa dipanaskan terlebih dahulu, Lika memasukkan nuget ke dalam wajan. Dahinya langsung berkerut karena tidak terdengar suara khas menggoreng seperti yang biasanya dia dengar.


"Kok aku merasa ada yang aneh ya. Nugetnya nggak bisa masak kalau gini. Padahal kompornya sudah menyala." Lika celingak-celingukan memperhatikan kompor gas di hadapannya.


Merasa menunggu terlalu lama, Lika berpikir kalau nuget telah matang. Dia langsung meletakkannya ke piring.


Akibat minyak yang belum panas, nuget hasil masakan Lika jadi belepotan dengan minyak. Tetapi perempuan itu santai saja.


Kini Lika lanjut membuat telur mata sapi. Dengan pelan, Lika memasukkan telur ke minyak yang masih belum panas.


Sementara Zafran, dia baru saja selesai mandi. Ia langsung menghampiri Lika meski dalam keadaan hanya mengenakan handuk di pinggang.


Zafran mengintip dari balik pintu dapur. Dia menyaksikan Lika sangat serius memasak.

__ADS_1


Seringai nakal muncul di semburat wajah Zafran. Dia langsung berlari dan menangkap Lika dari belakang.


"Duaaarrr!!!" seru Zafran. Membuat Lika kaget sampai berjengit.


"Zafran!" protes Lika. Dia membalikkan badan. Lalu menyerang Zafran dengan pukulan bertubi-tubi. "Jantungku kayak mau copot tahu nggak!" tambahnya. Namun Zafran justru asyik tergelak.


"Maaf... Kamu serius banget soalnya," ujar Zafran seraya menarik Lika mendekat.


"Aku melakukan ini buatmu juga," tanggap Lika. Ia hendak kembali mengurus telurnya yang belum matang. Akan tetapi Zafran tidak membiarkan. Lelaki itu malah mengunci Lika dengan pelukan. Kemudian melu-mat bibir sang istri begitu saja.


"Mmmph..." Lika mencoba melawan. Namun gairah suaminya justru semakin menggila. Satu tangan Zafran sibuk melepas tali handuk kimono Lika.


Sekarang Lika tidak bisa melakukan perlawanan lagi. Karena dirinya terlanjur terbuai akan sentuhan Zafran.


Di jarak yang tidak jauh dari Zafran dan Lika, minyak dalam wajan kebetulan sudah panas. Sehingga menimbulkan suara mendesir yang sukses membuat kegiatan Zafran dan Lika terhenti.


"Telurnya!" pekik Lika. Dia langsung berkutat dengan telur dalam wajan.


Mata Lika membulat ketika menyaksikan keadaan minyak goreng tampak lebih menakutkan. Dia jadi takut untuk mengambil telur yang ada di dalam wajan.


"Gimana? Nggak hangus kan?" Zafran mendekat.


"Enggak. Tapi aku takut..." Lika bingung harus bagaimana. Begitu pun Zafran.


"Kita lebih baik ke rumah Galih saja. Kau juga bisa sekalian belajar sama Elis," usul Zafran.


Lika lekas mengangguk. Dia segera mematikan kompor yang menyala. Membiarkan telurnya terendam dalam minyak.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku tadi sudah sempat memasak nuget. Kita hanya perlu menunggu nasinya matang. Sebaiknya kita pergi setelah makan saja," cetus Lika. Zafran otomatis setuju saja.


Setelah berpakaian, Zafran dan Lika berkumpul ke meja makan. Zafran memperhatikan Lika yang tampak sibuk menyajikan makanan.


"Kau benar-benar seperti seorang istri," komentar Zafran. Bermaksud memuji.


Lika hanya membisu. Dia terpaku melihat nasi buatannya. Terlihat dipenuhi dengan banyak benda-benda asing yang tercampur.


"Aku merasa aneh dengan nasinya. Bukankah biasanya bau dan tampilannya tidak seperti ini?" tukas Lika sambil memperlihatkan nasi buatannya kepada Zafran.

__ADS_1


"Kau benar. Mungkin aku membeli beras yang salah," ujar Zafran. "Lupakan, kita makan nugetnya saja," lanjutnya sembari memakan salah satu nuget buatan Lika. Namun wajahnya langsung memasam karena rasanya tidak sesuai ekspetasi. Bagaimana tidak? Nugetnya tidak hanya belum matang, tetapi juga belepotan dengan minyak goreng.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Lika penuh harap. Bagi Zafran itu adalah sebuah pertanyaan horor.


__ADS_2