
...༻♡༺...
Galih mendekati Zafran. Ia mengulurkan tangannya. Berniat membantu Zafran melewati jalan berlumpur.
"Kau serius? Menyuruhku berjalan melewati ini?" Zafran memastikan.
"Iya. Terus? Kau mau diam aja di sana selamanya?" balas Galih.
Zafran mendengus kasar. Bukannya meraih tangan Galih, dia justru melangkah mundur.
"Loh, kok malah mundur?" Galih sontak terheran.
"Maaf, Lih. Aku mending pulang aja. Bekerja di tempat berlumpur bukan gayaku." Zafran melambai sambil terus melangkah mundur. Tanpa diduga, dia tidak sengaja terpeleset. Hal tersebut membuatnya terjatuh ke tanah. Bukannya menghindar, Zafran justru tercebur ke lumpur.
Galih berusaha keras menahan tawa. Ia menutup mulut rapar-rapat. Kemudian buru-buru membantu Zafran berdiri.
"Astagaaaa... Jadi kotor kan! Padahal aku baru aja mandi!" keluh Zafran sembari perlahan berdiri. Keadaannya tampak belepotan dengan lumpur. Badannya berubah menjadi bau tanah.
"Kau sebaiknya mandi lagi," saran Galih yang masih berupaya menahan tawa. Dia dan Zafran akhirnya kembali pulang.
Di sepanjang perjalanan, wajah Zafran terlihat terus cemberut. Galih yang menyaksikan, jadi geleng-geleng kepala.
"Desa sepertinya memang nggak cocok untukmu. Kau dan Lika sebaiknya mencari tempat tinggal di kota saja. Tapi tempat yang jauh dari keluarga kalian," usul Galih. Dia melangkah senada dengan Zafran.
"Aku akan diskusi sama Lika terlebih dahulu." Zafran menjawab datar.
Sementara itu, Lika tengah sibuk belajar memasak bersama Elis. Banyak hal baru yang diketahuinya.
"Apa yang aku lakukan tadi pagi adalah salah besar. Aku bahkan tidak mencuci berasnya," celetuk Lika. Dia kesal terhadap dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa. Aku salut kau berani mencoba. Dari pada tidak melakukannya sama sekali?" sahut Elis.
Lika lantas tersenyum. Bersamaan dengan itu, Zafran dan Galih datang. Atensi Lika langsung tertuju ke arah Zafran yang tampak berantakan dan kotor.
"Astaga, Zaf. Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Lika. Dia tertawa kecil seraya menilik Zafran dari ujung kaki hingga kepala.
"Bentar ya," ucap Zafran. Dia menatap Galih dan Elis secara bergantian. Lalu menyeret Lika ikut bersamanya. Dia mengajak sang istri bicara empat mata.
__ADS_1
"Kayaknya aku nggak bisa hidup di tempat ini terlalu lama," cetus Zafran.
"Aku juga. Tapi kalau ingin ke kota, kita perlu uang. Dan sekarang kau dan aku sama sekali tidak punya uang. Bagaimana kita membayar biaya perjalanan?" tanggap Lika. Ia mengangkat salah satu alisnya.
"Benar juga." Zafran memegangi kepala dengan satu tangan. Sedangkan Lika tampak berpikir keras untuk menemukan jalan keluar.
Pupil mata Lika langsung membesar tatkala dia mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau kita jual saja barang-barang yang ada di rumah?" ucapnya mengusulkan.
"Tunggu, kenapa kita tidak jual rumahnya saja sekalian?" sahut Zafran.
Lika tersenyum dan mengangguk. Ia dan Zafran segera memberitahukan rencana mereka kepada Galih serta Elis.
"Ya ampun, kalian baru satu hari tinggal di sini. Sekarang ingin langsung menjual rumah?" Elis terperangah.
"Kami terpaksa karena keadaan. Lagi pula, yang terpenting aku dan Zafran sudah menikah," sahut Lika.
Elis dan Galih bertukar pandang. Keduanya tidak punya pilihan lain selain membantu Zafran dan Lika.
"Kami akan mencoba mempromosikan rumah kalian. Tapi aku tidak menjamin semuanya akan laku cepat," ujar Galih.
"Kenapa tidak dijual pada pemilik yang sebelumnya saja?" balas Zafran.
Kini Zafran dan Lika yang tercengang. Keduanya tentu kaget mendengar penjelasan Galih tadi. Mereka tentu merasa tidak sanggup kalau harus menunggu sampai bertahun-tahun.
"Bawa aku ke tempat yang tinggi. Aku akan mencoba mempromosikan rumahnya lewat internet. Mungkin ada orang luar yang mau membeli," imbuh Zafran.
"Sebelum itu, sebaiknya kau mandi dulu," ucap Galih.
"Kau benar." Zafran baru tersadar. Ia memperhatikan keadaan tubuh dan pakaiannya yang terlampau kotor.
"Kita akan bertemu sore nanti. Aku dan Lika akan pulang dulu," kata Zafran sembari membawa Lika ikut bersamanya.
"Tapi--" Lika padahal masih tidak mau pulang. Sebab kegiatan memasaknya bersama Elis belum berakhir.
"Tidak apa-apa, Lik. Aku akan menyelesaikan masakannya. Kalau sudah matang, aku akan antarkan makanannya ke rumahmu!" seru Elis kepada Lika yang terlanjur beranjak mengikuti jejak Zafran.
Sekarang Zafran dan Lika melangkah sambil berpegangan tangan. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak.
__ADS_1
"Kenapa nggak mandi di rumah Galih aja? Pakai ngajak aku segala lagi," keluh Lika yang terpaksa mengikuti Zafran. Mulutnya memanyun sebal.
"Aku punya alasan menagajakmu pulang. Ini karena di rumah kita tidak ada shower," ujar Zafran.
"Memangnya kenapa?" dahi Lika berkerut.
Zafran berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya menghadap Lika.
"Karena aku pasti akan kesulitan untuk menggosok badanku sendiri. Aku butuh bantuan istriku ini." Zafran mengusap pelan puncak kepala Lika.
Mata Lika membulat. Dia tidak mau menyimpulkan terlalu cepat.
"Maksudnya aku akan mandiin kamu? Gitu?" Lika memastikan.
Zafran mengangguk sembari tersenyum lebar. "Ternyata ada manfaatnya juga ya tercebur lumpur di desa," ucapnya sembari merangkul Lika.
"Zafran! Kau masih kotor," protes Lika seraya berusaha menjauhkan Zafran.
"Udah, biarin aja. Kan kamu juga akan ikut mandi bareng aku. Jadi sekalian aja kotor," sahut Zafran. Kini dia memeluk Lika. Sengaja memindahkan lumpur di badannya kepada sang istri.
"Zafran!" Lika berusaha memberontak. Namun Zafran malah semakin menguatkan pelukannya.
Lika sesekali berteriak. Terutama ketika Zafran membilaskan wajah penuh lumpurnya ke wajah Lika. Meskipun begitu, keduanya tidak bisa berhenti tertawa. Mereka melakukan itu sambil melangkah maju. Hingga tanpa terasa, Zafran dan Lika tiba di rumah.
Zafran belum melepaskan Lika. Terus melingkarkan tangan di pinggul istrinya. Saat sudah masuk ke rumah, Zafran langsung menutup pintu. Kemudian menggendong Lika dengan gaya bridal. Apa yang dilakukan lelaki itu sukses membuat Lika terus tertawa.
Setelah menjejakkan kaki di kamar mandi, Zafran segera menurunkan Lika. Mengunci pintu dan melepaskan pakaian.
Lika perlahan menghentikan tawa. Dia memperhatikan Zafran yang telah melepas pakaian. Hanya tersisa celana pendek yang dikenakan lelaki itu.
"Kau kenapa belum lepas baju?" tanya Zafran.
"Kan tugasku mandiin kamu. Bukannya mandi bareng," sahut Lika. Dia segera mendorong Zafran ke dekat bak mandi.
"Idih! Badanmu juga kotor begitu kok. Ayolah kita saling memandikan," tanggap Zafran.
"Modus banget!" Lika menimpuk pelan pantat Zafran. Dia tidak bisa menahan senyuman di semburat wajahnya.
__ADS_1
Zafran sudah mengangakan mulut karena ingin bicara. Namun tidak jadi karena Lika tiba-tiba mengguyur air ke kepalanya. Sensasi dingin langsung menyelingat ke sekujur badan lelaki tersebut.
"Sekarang mau bagian belakang dulu, atau depan?" tanya Lika.