Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 27 - Tak Sabar Menunggu


__ADS_3

...༻♡༺...


Satu hari berlalu. Zafran masih berusaha mencari Zayn. Dari mulai ke perusahaan, rumah, dan apartemen. Namun dia tidak berhasil menemukan lelaki itu dimana-mana.


Bersamaan dengan itu, Zafran harus mendapat kabar kalau Selia tertimpa kecelakaan. Dia terkejut mendengar kabar tersebut. Terlebih dirinya juga diberitahu kalau kecelakaan terjadi saat Selia dalam perjalanan ke lokasi acara pernikahan.


Zafran dibuat semakin panik. Dia mengusap kasar wajahnya berkali-kali. Zafran sudah menghubungi Lika hingga ratusan kali. Lelaki itu juga tidak lupa untuk menghubungi nomor Zayn yang didapatnya dari perusahaan. Nihil, baik nomor Lika atau Zayn, keduanya sama-sama tidak aktif.


Meskipun begitu, kecurigaan Zafran terhadap Zayn semakin bertambah. Dia lantas memutuskan melaporkan masalahnya ke kantor polisi.


Dugaan Zafran yang menjadikan Zayn sebagai tersangka, akan diselidiki terlebih dahulu. Polisi akan mencari tahu lebih banyak mengenai Zayn.


Sambil menunggu kabar, Zafran memeriksa keadaan Selia di rumah sakit. Tantenya Lika itu belum sadarkan diri. Zafran hanya memandangi Selia dari jendela depan ruangan.


"Dia memang sangat keras kepala. Tapi aku yakin, di akhir dia pasti akan merestui hubunganmu dan Lika," celetuk Tama. Mendadak berdiri di sebelah Zafran. Dia sebenarnya baru datang untuk membeli makanan.

__ADS_1


"Entahlah. Aku hanya berharap dia bisa sembuh," sahut Zafran.


Seorang perawat tiba-tiba datang. Dia meminta Tama untuk bicara ke meja respsionis terdekat. Tama lantas terpaksa harus meninggalkan Zafran.


Sementara Zafran sendiri, memilih tetap diam sejenak. Dia segera pergi ketika mendapat telepon dari polisi. Zafran segera beranjak pergi.


Namun saat melewati meja resepsionis, langkah kaki Zafran terhenti. Dia mendengar Tama berdebat dengan salah satu perawat. Mereka terdengar membahas masalah biaya rumah sakit.


"Kenapa bisa biaya operasi semahal ini? Dan ini belum termasuk obat dan kamar kan?" ujar Tama.


Zafran yang mendengar, mematung di tempat. Dia tidak menyangka, kebangkrutan perusahaan keluarga Baskara sudah separah itu.


Tanpa pikir panjang, Zafran segera menghampiri Tama. Dia mengajukan diri untuk membayar semua biaya rumah sakit Selia.


"Zafran! Apa yang kau lakukan? Kau tidak usah..."

__ADS_1


"Sudahlah, Om. Lika adalah istriku. Sudah kewajibanku untuk membantu keluarganya juga. Sekarang keluarganya juga keluargaku," tutur Zafran. Membuat Tama terpaksa bungkam. Dalam sekejap, semua biaya rumah sakit Selia lunas.


Tama hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Zafran. Dia kagum kepada lelaki itu. Walau sudah beberapa kali dimaki oleh Selia, tidak ada dendam sedikit pun yang bersarang dalam diri Zafran.


Setelah itu, Zafran langsung pergi ke kantor polisi. Dia diberitahu bahwa Zayn terbukti terlibat dalam bisnis ilegal.


"Kami baru mengetahui ini. Karena laporanmu ini, kami bisa menemukan orang yang sejak lama dicari!" cetus Herman. Salah satu aparat kepolisian yang tengah bicara dengan Zafran.


"Apa kalian sudah bisa menemukan jejak Zayn sekarang?" tanya Zafran.


"Kami masih berusaha mencari jejaknya. Kau tenang saja. Istrimu pasti akan ketemu," ucap Herman.


"Kapan? Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!" balas Zafran tak terima.


"Kami akan beritahu kabar selanjutnya nanti." Herman menepuk pundak Zafran dua kali. Kemudian beranjak untuk melakukan pekerjaannya lagi.

__ADS_1


Zafran mendengus kasar. Dia bukanlah orang yang sabar menunggu.


__ADS_2