Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 7 - Rencana Pergi Ke Desa


__ADS_3

...༻♡༺...


Lika mendongak untuk menatap wajah Zafran. Ketika lelaki itu membalas tatapannya, barulah dia berhenti mendongak dan menatap ke bagian bawah perut Zafran.


"Itu tuh kepala angsa," ujar Lika.


Wajah Zafran langsung memerah bak kepiting rebus. "Apaan coba. Sekarang lihat siapa yang mesum," balasnya merasa tak percaya.


Lika hanya terkekeh. Hal serupa lantas dilakukan Zafran. Mereka masih dalam keadaan telentang sambil saling berpelukan.


"Sebaiknya beritahu aku mengenai rencana pernikahan kita," imbuh Lika. Ia merubah posisi menjadi duduk.


"Emm... Aku belum merencanakan apapun. Rencanaku cuma satu, yaitu menikahimu. Itu saja," jawab Zafran seraya rebahan memiring. Menjadikan satu tangan yang dilipat sebagai bantalan.


"Kau pikir menikah itu semudah membalik telapak tangan? Enggak kali. Apalagi kita harus melakukannya tanpa pihak keluarga satu sama lain. Gimana tuh?" Lika mendengus kasar. Dia tidak percaya ternyata calon suaminya belum mempersiapkan apapun.


"Pertama-tama, kita sebaiknya menemukan tempat yang tidak akan pernah ditemukan oleh siapapun. Terutama keluarga kita," cetus Zafran.


"Tempat yang tidak akan pernah diduga oleh keluarga kita. Bahkan nggak akan terlintas dalam kepala mereka!" Lika menyambung ucapan Zafran. Keduanya terdiam sejenak. Sama-sama memikirkan tempat yang cocok untuk kawin lari.


"Bagaimana kalau kita ke India? Keluarga kita pasti tidak akan menyangka kalau kita pergi ke sana. Mengingat kita berdua lebih sering pergi ke negara-negara yang ada di Eropa," usul Lika panjang lebar.


"Kayaknya keluar negeri ide buruk deh. Keluarga kita bisa mencari tahu lewat jadwal penerbangan. Kan nama kita tercatat di sana," tanggap Zafran.


"Benar juga ya." Lika tidak bisa membantah. Ia kembali berpikir.


"Ke villa aja gimana? Aku bisa beli sebuah villa untuk kita berdua." Kali ini Zafran yang memunculkan ide.


"Vila itu rumah tunggal yang ada di pegunungan loh, Zaf. Kau mau kita berdua nanti malah kena rampok?" tanggap Lika yang tak setuju.


"Terus kemana coba?" Zafran memutar bola mata jengah.


Lika tiba-tiba mendapatkan sebuah ide bagus. Dia segera memberitahukan idenya kepada Zafran. Gadis itu mengajak Zafran melarikan diri ke sebuah desa. Mengingat Zafran dan Lika sama-sama terbiasa hidup di perkotaan semenjak kecil. Kemewahan tidak pernah bisa lepas dari kehidupan mereka.


"Ide bagus! Keluarga kita tidak akan pernah bisa mengira kalau kita kabur ke desa. Apalagi desa yang agak terpencil. Tapi ke desa mana? Kita harus pilih-pilih dulu kan? Kita juga harus bisa beli rumah yang bagus pas tinggal di desa nanti," ujar Zafran.


"Kita cari-cari di internet aja dulu. Mana ponselmu? Biar aku yang cari." Lika membuka lebar telapak tangannya.

__ADS_1


"Emang ponselmu nggak bisa pakai internet?" sahut Zafran. Meskipun begitu, dia menyerahkan ponselnya kepada Lika.


"Ya ampun Zaf... Kita kan sedang melarikan diri, nggak mungkin kan aku bawa ponsel?"


"Oh iya ya. Lupa. Nanti aku beliin kamu yang baru." Zafran tersenyum malu. Satu tangannya mengusap tengkuk tanpa alasan.


Kini hening menyelimuti suasana. Lika tampak sibuk berkutat dengan ponsel. Sedangkan Zafran asyik memandangi gadis tersebut. Dia tidak pernah bosan menyaksikan wajah cantik Lika. Sampai terlintas sesuatu dalam benaknya. Membuat Zafran langsung merubah posisi menjadi duduk.


"Aku tahu desa mana yang bisa kita tempati!" ungkap Zafran tiba-tiba.


"Apa?" tanya Lika.


"Desa-nya Galih! Dia sekarang tinggal di desa sama neneknya. Aku dengar dia juga sudah menikah di sana. Sini ponselku. Aku akan meneleponnya." Zafran mengambil ponsel dari Lika. Dia mencoba menghubungi Galih. Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali.


Lidah Zafran berdecak kesal. Dia mencoba berulang kali menelepon Galih.


"Mungkin dia sudah tidur. Lihat! Jam sudah menunjuk angka sebelas. Apalagi dia kan tinggal di desa. Biasanya kan orang desa tidurnya cepat," ujar Lika.


Zafran mengangguk. Dia dan Lika sepakat akan menelepon Galih besok pagi. Keduanya bersiap untuk tidur.


"Aku tidur di sofa saja," ucap Zafran sambil beringsut ke tepi ranjang.


"Takut kepala angsanya bangun lagi," sahut Zafran. Lika lantas tergelak lepas.


"Puas? Nanti aku beliin angsa beneran pas sampai di desa nanti," ancam Zafran yang justru membuat tawa Lika semakin gelak. Dia sebenarnya senang menyaksikan gadis itu tertawa.


...***...


Keesokan harinya, Lika menjadi orang yang pertama kali bangun. Dia segera menghampiri Zafran yang terlihat masih tertidur di sofa.


Bersamaan dengan itu, ponsel Zafran mendadak berdering. Ada panggilan telepon dari Galih. Lika langsung mengangkat.


"Kenapa, Zaf? Tiba-tiba telepon tengah malam?" tanya Galih dari seberang telepon.


"Galih? Ini aku Lika! Biar aku bangunin Zafrannya dulu ya," ujar Lika. Dia membangunkan Zafran. Lalu memberikan langsung ponsel.


"Hah? Gimana? Gimana?" Galih sontak bingung. Mengingat Zafran dan Lika diketahuinya sudah putus beberapa tahun lalu.

__ADS_1


"Lih! Aku sama Lika butuh bantuanmu! Pokoknya carikan rumah paling besar dan nyaman di desamu itu! Setelah sampai di sana, kami akan ceritakan semuanya kepadamu." Zafran langsung bicara ke intinya.


"Hah? Apa? Kau nggak serius kan?" tanggap Galih kebingungan.


"Pokoknya carikan saja dulu. Masalah uangnya nggak usah dipikirin. Aku akan bayar berapapun harganya. Pokoknya carikan saja dulu!" titah Zafran.


"Ini serius kan?" Galih masih tak percaya.


"Serius! Aku sama Lika balikan. Kami ingin menikah sebelum memberitahukan hubungan ini kepada keluarga. Makanya kami butuh tempat untuk bersembunyi lebih dulu." Zafran terpaksa memberi penjelasan.


"Kalian benar-benar gila!" komentar Galih.


Zafran mendengus kasar. Menurutnya Galih terlalu lama berpikir. Dia segera berucap, "Lakukan saja, Lih! Apa susahnya membantu sahabatmu sendiri. Sekarang kami sedang bersiap untuk pergi ke desamu!"


"Oke, oke. Aku akan carikan rumah untuk kalian. Tapi--"


"Kami akan menunggu." Zafran mematikan panggilan telepon lebih dulu. Padahal Galih belum selesai bicara.


Zafran segera mengemas barang-barangnya. Dia membawa dua koper sekaligus.


"Bagaimana denganku? Apa perlu aku kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang?" tanya Lika. Kebetulan dia tidak membawa apapun saat kabur bersama Zafran. Lika hanya membawa tas yang berisi dompet.


"Tidak usah! Sebelum ke desa, aku akan belikan apapun yang kau inginkan," sahut Zafran. Membuat raut wajah Lika langsung sumringah.


Zafran dan Lika pergi ke mall terlebih dahulu. Zafran membelikan Lika pakaian, ponsel, peralatan make up, dan kebutuhan lainnya.


Lika membeli banyak barang kebutuhan. Sehingga barang-barangnya harus dimuat dalam empat koper sekaligus. Hal itu membuat Zafran tersenyum masam. Bukan karena harganya, tetapi karena tingkat kesusahan untuk membawa.


"Kita bisa pakai jasa orang untuk membawakannya kan?" usul Lika sembari bergelayut manja menggandeng Zafran. Rasa sayangnya semakin besar usai dibelikan banyak hal oleh lelaki itu.


"Iya, kita akan membayar jasa orang saja." Zafran setuju dengan saran Lika.


Selepas membeli banyak barang di mall, Zafran dan Lika pergi ke stasiun kereta. Walau tujuannya ke desa, kemewahan tetap mengalir dalam darah daging mereka. Zafran dan Lika memilih duduk di kelas bisnis. Sekarang keduanya duduk bersebelahan dengan nyaman.


"Makasih ya, Zaf traktirannya. Nanti pasti aku balas," ujar Lika sembari menyandarkan kepala ke pundak Zafran.


"Nggak usah. Ngapain di balas coba," tanggap Zafran.

__ADS_1


"Sebenarnya aku bawa dompet kok. Tabunganku juga banyak," jawab Lika.


"Jadikan saja simpananmu." Zafran sama sekali tidak terkejut. Sebab dia masih punya banyak uang. Barang-barang yang dibelikannya untuk Lika tadi dianggap tidak seberapa.


__ADS_2