Pernikahan Bobrok

Pernikahan Bobrok
Bab 19 - Terasa Salah


__ADS_3

...༻♡༺...


"Kami hanya bepergian biasa. Tidak ada yang terjadi. Aku ini tidak senakal Papah saat masih muda," ucap Zafran. Menjelaskan hubungannya dengan Arini.


"Kenapa kau malah menyindir, Papah?" Gamal merasa tersinggung. Dia reflek menepuk bagian belakang kepala sang putra.


Zafran hanya bisa mengaduh sembari mengusap kepalanya yang sakit. Ia dan Gamal segera pergi bersama. Mengurus perihal masalah perusahaan melalui kegiatan rapat.


"Karena kau dan Arini sudah pulang, malam ini kita akan makan bersama keluarga mereka," cetus Gamal sembari melangkah berbarengan dengan Zafran.


"Apa?" Zafran tampak kaget.


"Kenapa reaksimu begitu? Bukankah harusnya kau senang akan bertemu dengan Arini lagi?" Gamal menyelidik.


"Lupakan. Cuman kaget doang kok," sahut Zafran malas. Dia tentu memilih merahasiakan fakta yang sebenarnya.


Sementara itu, Lika dan Selia juga sedang mempersiapkan acara makan untuk nanti malam. Mereka akan melakukan pertemuan keluarga. Selia sengaja membuat jamuan makan malam sebagai permintaan maafnya dan Lika.


Siang berganti malam. Zayn dan keluarganya telah tiba di rumah Lika. Mereka sangat senang bisa melihat Lika kembali.


"Harusnya kau bilang dari awal kalau memang belum siap," ujar Liliana. Setelah menyempatkan diri memeluk Lika.


"Maafin aku ya, Tante." Lika merasa tidak enak. Tetapi setidaknya hubungan keluarganya dan keluarga Zayn membaik lagi.


Makan malam dilakukan. Zayn duduk bersebelahan dengan Lika.


Tanpa diduga, tangan Zayn tiba-tiba merangkul pundak Lika. Dia menuntun perempuan itu untuk berdiri bersama.


"Aku dan Lika sepakat akan bertunangan sebelum pernikahan dilakukan," imbuh Zayn. Membuat mata Lika membulat sempurna.


"Kau bilang apa?" Lika memastikan. Sebab Zayn mengatakan hal itu tanpa ada persetujuan darinya.


Zayn mengabaikan pertanyaan Lika. Dia justru tersenyum dan memilih menanggapi respon positif orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Itu bagus, Zayn, Lika. Mamah sama Papah sangat setuju," ucap Liliana sembari tersenyum lembut.


"Kami juga sangat setuju!" Selia segera menyahut. Untuk sekarang, kemungkinan dia adalah orang yang paling merasa sangat bahagia. Karena jika Lika dan Zayn menikah, maka perusahaan keluarga Baskara juga akan terselamatkan. Selia juga tidak akan lagi pusing mengurus Lika.


Jika semua orang senang dengan keputusan Zayn, tetapi tidak untuk Lika. Ia jadi satu-satunya orang yang tidak terima. Lika hanya tidak menyangka Zayn akan memutuskan secepat itu.


Lika mengajak Zayn bicara empat mata. Dia menuntut penjelasan.


"Bukankah terlalu cepat? Kau ingin kita bertunangan?!" pungkas Lika tak percaya.


"Ini hanya tunangan. Bukan pernikahan. Kau tidah usah khawatir, Lik. Bila tidak begini aku tidak bisa mendapatkan properti bangunan yang aku inginkan!" sahut Zayn santai. Dia juga terkesan egois. Hal itu membuat Lika merasa curiga


Entah apa rencana Zayn. Akan tetapi Lika merasa ada yang disembunyikan oleh lelaki itu.


Di sisi lain, Zafran juga sedang melakukan makan malam. Sama seperti Lika, dia juga disuruh duduk dekat gadis yang akan dijodohkan dengannya. Yaitu Arini.


"Zaf..." panggil Arini dengan nada berbisik. Tepat ketika semua keluarganya tengah asyik mengobrol. Hanya dirinya dan Zafran yang sejak tadi fokus menikmati makanan.


"Zaf, gimana kalau kita nikah kontrak? Kebetulan ibuku menjanjikan akan memberikan berlian berharganya jika aku menikah," ujar Arini.


Zafran tercengang. Dia bahkan reflek berdiri. Berusaha keras untuk menjaga jarak dari Arini.


Sikap Zafran tidak pernah berubah. Dia selalu benci dengan namanya kepura-puraan. Mungkin itulah alasan kenapa Zafran sakit hati berkali-kali. Sebab Lika selalu memilih keluarga dibanding dirinya. Tetapi bagaimana dengan sekarang?


Keinginan untuk berubah pikiran muncul begitu saja. Selain membenci Arini, Zafran juga tidak mau terus-terusan bersandiwara di depan Gamal dan Zara. Hal itu karena kedua orang tuanya selalu bersikap menyebalkan. Terutama jika berhubungan dengan pernikahan. Terlebih mereka mengetahui Zafran tidak pernah dekat dengan gadis manapun.


"Kau mau kemana, Zaf?" tanya Gamal dengan tatapan heran.


"Dia pasti mau ke toilet." Zara menyimpulkan.


"Enggak! Aku mau pergi. Aku mau menemui istriku!" ucap Zafran. Sengaja menyelipkan fakta dalam kalimatnya.


Semua orang kaget mendengar pernyataan Zafran. Termasuk Arini sendiri. Dia takut lelaki itu akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Zafran! Apa-apaan itu! Jangan main-main!" timpal Gamal. Dia berdiri dan mempelototi Zafran.


"Aku serius. Kepergianku kemarin bukan karena pergi bersama Arini. Tapi karena aku menikahi seseorang!" ungkap Zafran.


"Zafran!" pekik Gamal geram. Dia merasa tidak percaya. Satu hal yang pasti, kelakuan Zafran sekarang benar-benar membuatnya malu setengah mati.


"Aku akan membawa istriku itu secepatnya ke hadapan Papah dan Bunda. Dan satu hal lagi." Zafran menoleh ke arah Arini yang menundukkan kepala. "Om Rama dan Tante Felisha. Aku minta maaf kalau semua tidak berjalan lancar. Tapi aku ingin memberitahu bahwa putri kalian sengaja berbohong agar bisa mendapat uang tabungan lebih banyak. Itulah alasan dia mengakui kalau aku sedang pergi dengannya. Padahal dia pergi bersenang-senang sendirian ke luar negeri," sambungnya. Membuat mata Arini langsung menyalang kesal.


"Beraninya kau bersikap begini! Kita sudah sepakat untuk bekerjasama!" timpal Arini.


"Aku memutuskan berubah pikiran. Aku merasa tidak tahan terus berada di dekatmu, Rin. Kau harus rubah sikapmu itu jika ingin membuat seorang lelaki tertarik!" balas Zafran. Lalu pergi begitu saja.


Gamal dan Zara reflek bertukar pandang. Keduanya tidak menyangka Zafran akan bertindak begitu. Gamal dan Zara bergegas mengejar putranya tersebut.


"Zafran! Berhenti kamu!!!" pekik Gamal sembari berjalan menghentak ke lantai. Bunyi derap langkahnya membuktikan bahwa dirinya sedang marah.


"Zafran! Bunda dan Papah butuh penjelasan!" Zara ikut memanggil.


Zafran terus melangkah maju. Kemudian masuk ke dalam mobil. Tidak menghiraukan panggilan kedua orang tuanya.


Sebelum menjalankan mobil, Zafran menurunkan kaca jendela. Dia berucap, "Aku akan kembali dan membawa istriku!"


Gamal dan Zara terperangah bersama. Mereka berhenti melangkah dan hanya menatap bingung mobil Zafran yang menjauh.


Di perjalanan, Zafran menghubungi Lika. Ia memberitahu apa yang sudah dilakukannya tadi. Zafran berharap kejadian yang dulu tidak terulang lagi. Ia berharap Lika lebih memilihnya dibanding apapun.


"Kau melakukan apa?!" Lika terdengar kaget dari seberang telepon.


"Aku sudah mengatakan semuanya kepada kedua orang tuaku. Dan aku ingin kau melakukan hal yang sama," sahut Zafran penuh harap. Menanti jawaban dari sang istri.


Lika terdiam cukup lama. Mengharuskan Zafran memanggilnya sekali lagi.


"Sayang? Kau istriku bukan?" tanya Zafran.

__ADS_1


__ADS_2