
...༻♡༺...
Zafran dan Lika akhirnya tetap merencanakan pernikahan. Meski tanpa adanya persetujuan dari Selia, keduanya tidak peduli. Mereka hanya ingin menjalani rumah tangga dengan ikatan yang sah secara agama dan hukum.
Kini Lika dan Zafran sedang melakukan fiting baju pengantin. Zafran yang sudah mengenakan jas, dasi, serta tuxedo tampak memeriksa penampilan di depan cermin.
Di balik tirai ada Lika yang baru saja mengenakan gaun pengantin putih. Ia mendapat bantuan dari pemilik butik dan dua orang lainnya.
Tirai dibuka ketika Lika benar-benar siap. Zafran lantas menoleh ke arahnya. Lelaki itu tentu terpesona akan kecantikan sang istri. Tetapi seperti yang Zafran bilang, dia tidak akan menjadi orang pertama untuk mengajak bermesraan.
"Wow..." Zafran sengaja memberikan reaksi biasa. Lalu kembali menatap cermin. Sebenarnya Zafran sudah bersikap begitu setelah pernyataannya terakhir kali di mobil. Ia juga beberapa kali melewatkan pelukan yang ingin diberikan Lika.
Dahi Lika berkerut. Dia merasa sikap Zafran jadi aneh.
Lika mendengus kasar. Dia mengangkat gaunnya dan menghampiri Zafran.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini? Marah sama aku? Sudah tiga hari kamu nggak pernah merayuku lagi," imbuh Lika. Mulutnya memanyun sebal.
Zafran hanya membisu. Dia terlihat menyibukkan diri melepas dasi.
"Zafran!" pekik Lika sembari menghentakkan salah satu kaki. Dia dan Zafran langsung jadi pusat perhatian orang sekitar. "Kalau ada masalah bilang ke aku dong," sambungnya.
Zafran memutar tubuh menghadap Lika. Dia berucap, "Kau sebaiknya ingat ucapanku pas pulang dari rumah tantemu. Masalahnya cuman itu kok."
Alis Lika belum berhenti bertautan. Dia mencoba mengingat perkataan Zafran kala itu. Setelah betul-betul menelisik ingatan, dia akhirnya ingat. Lika langsung tersenyum sambil cengengesan sendiri.
"Ah... Jadi dia minta dirayu duluan. Oke, lihat aja nanti," gumam Lika. Dia segera memanggil pemilik butik dan menanyakan perihal lingerie seksi.
Pemilik butik tersenyum menggoda. Dia segera mengambilkan salah satu lingerie terbaiknya. Kemudian membungkuskan untuk Lika.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya setelah acara pernikahan saja," ungkap Lika. Dia memang sudah melakukan malam pertama dengan Zafran. Namun rasanya tidak afdal jika tak melakukannya setelah acara pernikahan besar.
"Apa itu?" tanya Zafran. Dia sukses memergoki Lika memandangi tas karton misterius.
"Ini cuman baju biasa," jawab Lika. Dia akan merahasiakan rencananya sebagai kejutan untuk sang suami.
"Gimana? Udah ingat perkataanku tempo hari?" ujar Zafran. Dia dan Lika baru memasuki mobil bersama.
"Tentang kau yang menyuruhku bicara baik-baik sama tanteku kan? Maaf ya, sayang... Aku nggak berhasil dapat restu dari tante Selia." Lika berpura-pura lupa.
Zafran hanya bisa terperangah. Dia menginjak pedal gas sekuat tenaga. Sehingga kecepatan mobil jadi meningkat.
"Sayang!" Lika reflek berteriak. Dia berpegang erat seraya menunjukkan ekspresi ketakutan.
Sadar istrinya takut, Zafran memelankan mobil. Dia memejamkan mata dan mencoba bersabar.
"Nggak. Semuanya baik-baik saja," ujar Zafran. Menghembuskan nafas dari mulut.
'Aku nggak bisa bayangin kalau Lika terus begini. Dia tidak pernah sama sekali memanjakan suaminya. Padahal pernikahanku dan dia terbilang masih baru dilakukan,' batin Zafran. Tak lama kemudian, dia dan Lika tiba di apartemen.
Tanpa diduga, Zara tampak menunggu di depan pintu. Atensinya terpaku kepada Lika.
"Kenapa ke sini, Mah?" tanya Zafran. Dalam keadaan dua alis yang terangkat.
"Emang Mamah nggak boleh lihat anak sama mantunya sendiri?" balas Zara. Ia melempar senyum kepada Lika.
Sikap hangat Zara berhasil merubah suasana hati Zafran. Dia membiarkan ibunya bicara dengan Lika. Sementara dirinya harus pergi ke perusahaan.
"Tante nggak benci sama aku kan? Mengingat tante Selia sudah..." ucapan Lika terhenti saat Zara memegang lembut pundaknya. Sekarang mereka duduk bersama di sofa.
__ADS_1
"Aku nggak pernah sekalipun benci sama tantemu. Apalagi kamu yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam masalahku di masa lalu. Kau dan Zafran hanyalah korban. Aku sadar saat merenungi hubungan yang terjalin di antara kalian," tutur Zara.
"Makasih, Tante..." Lika merasa terenyuh. Dia tidak bisa menahan air mata yang menitik.
Zara tersenyum lembut. Lalu memeluk Lika. "Panggil aku Bunda mulai sekarang," ucapnya sembari mengelus punggung sang menantu.
Lika semakin terharu. Dia memeluk erat Zara. Rasanya Lika seperti menemukan orang tua baru dalam hidupnya.
...***...
Satu minggu terlewat. Hari yang ditunggu telah tiba. Acara pernikahan Zafran dan Lika dilaksanakan di sebuah hotel bintang lima yang mewah. Semua keluarga dan kerabat dekat sudah berdatangan.
Di sisi lain, Lika tengah dirias sedemikan rupa. Kali ini dia merasa bahagia dengan pernikahan yang akan terjadi. Perasaannya tentu sangat berbeda ketika akan menikah dengan Zayn dulu.
"Tunggu sebentar ya, Mbak Lika. Kami tinggal sebentar." Tukang make up beserta asistennya minta izin untuk pergi. Mereka harus mengurus sesuatu terkait gaun yang dikenakan Lika sekarang.
Lika mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia tidak masalah ditinggal sendirian.
Pintu perlahan terbuka. Sosok lelaki muncul dari balik pintu.
Awalnya Lika mengira lelaki yang datang adalah Zafran. Tetapi ternyata tidak. Matanya terbelalak tak percaya saat melihat sosok lelaki tersebut.
Lika hampir berteriak karena merasa terancam. Namun mulutnya terlanjur dibekap dengan sebuah kain yang dioles obat bius. Lika sontak kehilangan kesadaran dalam sekejap.
..._____...
Catatan Author :
Kita sebentar lagi masuk konflik utama ya guys. Yang menandakan sebentar lagi novelnya akan tamat. Kayaknya bakalan aku tamatkan bareng novel Ramanda. Makasih buat yang masih baca sampai sini 😘
__ADS_1