
...༻♡༺...
Zafran dan Lika dipersilahkan duduk terlebih dahulu. Keduanya disarankan beristirahat. Sementara Elis dan Galih sibuk menyiapkan minuman dan makanan.
"Gimana nih, Zaf? Aku pengen cari penginapan aja. Tapi nggak enak sama Galih. Dia udah capek-capek jemput kita ke stasiun," ujar Lika. Kebetulan dia dan Zafran sedang berduaan di bangku panjang yang terbuat dari kayu.
"Mau gimana lagi. Setidaknya kita menginap di sini satu hari. Besok aku akan langsung mengurus pernikahan kita," sahut Zafran sembari menggenggam jari-jemari Lika.
"Menginap? Aku nggak yakin aku sanggup..." Lika memasamkan wajahnya. Dia menyandar lemah ke pundak Zafran.
"Ini pilihan kita. Apapun yang terjadi kita bisa menghadapinya bersama," tutur Zafran. Ingin membuat Lika berpikir positif.
"Kau benar. Yang penting kita tetap bersama." Lika mengangguk pelan.
Tak lama kemudian Galih datang. Dia memberitahu kalau Lika akan tidur dengan istrinya. Sedangkan Zafran akan tidur bersamanya di luar.
"Kau bisa masuk ke kamar, Lik!" suruh Galih.
Lika mengangguk. Dia berjalan sambil menyeret salah satu kopernya. Di kamar Lika segera bersiap untuk mandi. Dia tak tahan karena sudah tidak mandi seharian.
Dengan ekspetasi tinggi, Lika berharap bisa mandi dengan air shower seperti biasanya.
Tetapi kenyataan langsung membuat mata Lika membulat. Tanpa sadar dia memekik nyaring karena melihat keadaan kamar mandi.
Semua orang yang ada di rumah lantas berdatangan. Memastikan keadaan Lika tidak apa-apa.
"Kau kenapa, Lik?" tanya Zafran yang tampak panik.
"I-itu, Zaf. Nggak ada shower..." gagap Lika sembari mengarahkan jari telunjuk ke kamar mandi.
Pupil mata Zafran ikut membesar tatkala menyaksikan kamar mandi milik Galih. Dia tidak pernah memakai kamar mandi seperti itu. Sempit, agak kotor, dan menggunakan gayung.
"Hehehe... Beginilah kamar mandi tradisional. Kalian harus terbiasa jika ingin tinggal lebih lama di sini," ujar Galih seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa. Mandi akan terasa sangat sulit jika memakai benda ini," ungkap Lika. Dahinya mengerut dalam sambil mengamati gayung.
"Makanya kau harus mencoba dulu. Kalau tidak mau, ya sudah tidak usah mandi," sahut Galih. Sebagai teman, dia sangat mengenal bagaimana Zafran dan Lika. Dua orang yang dirinya kenal terbiasa dengan kemewahan.
"Waktu Mas Galih pertama kali datang ke sini dia juga seperti kalian. Tapi kalau sudah terbiasa, pasti tidak akan apa-apa," imbuh Elis. Membuat Galih otomatis tersenyum malu.
"Hidup terus berjalan, bukankah begitu? Hehehe..." celetuk Galih dengan tawa canggungnya. Dia segera membawa Elis pergi meninggalkan Zafran dan Lika.
"Kau nggak apa-apa? Mau aku melakukan sesuatu?" tanya Zafran sembari memegang lembut pundak Lika.
"Nggak usah. Aku akan coba mandi dulu." Lika tersenyum kecut.
"Mau aku mandikan?" tawar Zafran.
"Apaan sih! Nikah aja belum," tanggap Lika. Satu tangannya reflek memukul bahu Zafran. Perkataan lelaki itu langsung merubah suasana hatinya menjadi lebih baik.
"Oh, oke. Berarti kalau sudah nikah boleh ya?" Zafran menggerakkan dua alisnya bersamaan. Mencoba terus menggoda Lika.
"Dih! Mulai deh mesumnya." Lika geleng-geleng kepala. Meskipun begitu pipinya terlihat memerah bak buah cherry.
Di waktu yang sama, Selia sedang bicara empat mata dangan ibunya Zayn yang bernama Winda. Jujur saja, Selia merasa sangat malu sekaligus sedih terhadap apa yang sudah terjadi. Terlebih dia tidak tahu kemana dan apa alasan Lika pergi. Nadia dan Chika bahkan juga tak tahu kemana keponakannya itu pergi.
"Zayn sepertinya benar-benar menyukai Lika. Kalian beruntung, karena Zayn kami akan tetap bekerjasama dengan perusahaan keluarga Baskara," ucap Winda. Mimik wajahnya tampak cemberut. Dia sebetulnya sangat marah terhadap insiden yang menimpa sang putra.
"Sekali lagi maafkan aku, Win... Harusnya aku bertanya baik-baik mengenai keinginan Lika. Aku berjanji akan menemukannya secepat mungkin. Aku yakin, ini bukan karena orang ketiga. Sebab aku tidak pernah melihat Lika dekat dengan lelaki mana pun," jelas Selia panjang lebar. Dua tangannya menyatu di depan badan. Selia seperti anak buah yang sedang tunduk kepada pimpinannya.
"Kalau butuh bantuan, bilang saja kepada kami. Karena Lika merupakan kebahagiaan Zayn untuk sekarang. Aku pikir Zayn juga akan turun tangan untuk mencari Lika," balas Winda.
Selia mengangguk patuh. "Tentu saja," katanya.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di apartemen Zafran, Zara tengah mencari keberadaan putranya. Nihil, dia sama sekali tidak menemukan Zafran dimana-mana. Ponsel lelaki itu bahkan tampak tergeletak di atas meja.
"Pantas saja dari kemarin dia tidak mengangkat telepon," gumam Zara menyimpulkan. Dia memeriksa ponsel Zafran. Zara melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Gamal dan dirinya.
__ADS_1
'Lalu kemana dia?' benak Zara bertanya-tanya. Perasaan tidak enak perlahan menyelimuti. Sebagai seorang ibu, dia tentu merasa khawatir. Zara langsung melaporkan semuanya kepada Gamal.
Awalnya Gamal meremehkan kepergian Zafran. Namun ketika dirinya dan Zara tidak bisa menemukan sang putra dimana-mana, perasaan cemas sontak dirasakan oleh mereka.
Gamal dan Zara sudah menanyakan keberadaan Zafran kepada teman terdekat. Belum lagi pencarian ke tempat-tempat yang sering didatangi Zafran.
"Apa dia kabur karena perjodohan yang kita lakukan?" cetus Zara yang merasa bersalah.
"Entahlah. Terakhir kali Zafran bilang kepadaku kalau dia sudah punya pacar. Tapi aku juga sempat melihat keakraban dia dengan Arini," ujar Gamal dengan kening yang mengernyit.
"Arini? Bagaimana kalau dia pergi dengannya?" kata Zara. Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi Felisha. "Aku akan tanyakan tentang Arini kepada Felisha," sambungnya.
"Ada apa, Ra?" tanya Felisha dari seberang telepon. Suaranya terdengar parau. Seolah baru selesai menangis.
"Kau menangis?" Zara justru berbalik tanya.
"Iya, Arini tiba-tiba pergi tanpa kabar. Kami tidak tahu dia pergi kemana," sahut Felisha.
"Arini pergi? Sejak kapan?" Mata Zara membulat sempurna.
"Terakhir kali kami bersamanya saat di restoran bersama kalian," terang Felisha.
"Zafran juga pergi! Kami juga tidak tahu dia kemana. Mungkinkah..." Zara tidak melanjutkan kalimatnya sebab dia yakin Felisha pasti mengerti.
"Mungkinkah Arini dan Zafran pergi bersama?" tebak Felisha yang mendadak antusias.
Senyuman lantas terukir di wajah Zara. Dia segera memberitahukan semuanya kepada Gamal. Semenjak saat itu, mereka percaya Zafran dan Arini pergi bersama.
Keluarga Laksana dan Nirdana sepakat tidak mencari. Membiarkan hubungan Zafran dan Arini menjadi lebih dekat. Mereka tidak tahu bahwasanya Zafran pergi dengan gadis lain. Yaitu Lika. Gadis yang merupakan anak dari keluarga musuh bebuyutan keluarga Laksana.
Lika baru saja keluar dari kamar mandi. Dia menyaksikan Zafran berdiri di ambang pintu belakang.
Lika tampak memeluk badannya sendiri. Dia berjalan dalam keadaan menggigil. Lalu langsung berlari memeluk Zafran dari belakang.
__ADS_1
"Eh?" Zafran sontak kaget.
"Udah jangan bergerak. Aku kedinginan." Lika semakin memeluk erat.