
"So apa yang buat lo brani nelfon si tyla itu dek?"tanya ori sambil mengunyah makananya
"Mereka bertengkar besar"ucap fira santai
"Karna lo?"tanya dion was - was
"Sepertinya, dan itu cukup buat bikin gue jadi orang paling bersalah didunia ini.he"
"dan sekarang?"tanya dion lagi
"semuanya selesai, gue dan gavi udah g ada hubungan apa - apalagi. Mungkin hanya sebatas teman yang say hallo doang"ucap fira santai
"lo g sedih"tanya ori
"lo nanya atau ngasih pernyataan sih, ya jelas gue sedihlah dodol"ucap fira sambil mengunyah gorengan dengan semangat
"so, rencana lo apa sekarang?"
"move on?"tanya dion
"g ah, gue pengen sendiri dulu, mana tau nanti ada yang kecantol sama gue kan. ahaha"tawa fira renyah
"oya, kalian malam ini tidur dimana?"tanya fira langsung
"dikontrakan lo lah, trus dimana lagi"
"g ah, sempit, kalian tidurnya g menentu"ucap fira
"g menentu gimana?"tanya ori
"ia, gituuu.. ngorok, inilah, itulah.. aish pasti bakalan ganggu gue tidur"ucap fira
"lah, lo kok gitu, trus kita tidur dimana donk? dalam mobil? lo mau bunuh kita perlahan ya?"ucap dion tidak terima
"gue becanda kali"ucap fira sambil tersenyum, sudah saatnya dia melupakan kenangannya bersama gavi
--------
benar saja, hubungan mereka saat ini benar - benar putus, tak ada yang bertanya kabar maupun say hallo, semua pada sibuk dengan urusan masing - masing. Hari ini fira telah kembali dari tempat magangnya, sebenarnya dia tak ingin cepat - cepat balik dikarenakan masih betah dipekanbru, namun ada berbagai hal yang harus dia kerjakan segera.
"firaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriak ila kencang
"apaan sih la, berisik tau"
"wah, lo tambah gemukan ya sekarang, lo makan apa aja disana?"tanya ila semangat
"kebanyakan makan hati gue disana"ucap fira membuat ila sedikit bingung
"gue becanda kali la, lo apa kabar? senang betul kayaknya"
"ia donk, gue gitu selalu happy emangnya lo, galau mulu gara - gara mikirin sidia"ucap ila sambil melirik ke sebelah kanan, dan dengan spontan fira mengikuti arah pandang ila
"gavi.."lirih fira, namun masih bisa terdengar oleh ila
"aitss, galau nih anak, yuk cabut kekelas"ucap ila menarik tangan fira dan membawanya jauh dari gavi
"gue duduk sama lo aja gimana ila?'mohon fira
"g bisa ra, gue udah ngebet banget sama dio"ucap ila senyum - senyum sendiri. Fira sangat maklum dengan ila karena dia sedang pdkt dengan dio.Semoga mereka baik - baik saja, ucap fira dalam hati dan kemudian duduk disalah satu kursi yang masih kosong. Fira segera mengeluarkan hpnya dan larut dalam irama musik yang mungkin akan membuat hatinya sedikit lebih rilex karena melihat gavi tadi. Beberapa menit kemudian, kursi disebelah fira bergerak, dan otomatis fira melirik kesebelah, dan ternyata itu gavi
"oh, gavi"ucap fira pelan kemudian kembali menidurkan keplanya kemeja
"tunggu"batin fira
"itu gavi kan?"ucapnya bertanya dalam hati
__ADS_1
"oh tidak, ini beneran gavi"ucap fira mulai bingung, benar saja fira mengetahui bau parfum gavi, masih sama
"selamat pagi semua"ucap seorang guru dari ambang pintu, tak lain adalah wali kelas ku
"pagi buk"ucap kami serentak
"saya tak akan menyampaikan banyak hal pada kalian kali ini, untuk mempersingkat waktu, 2 minggu lagi kita akan melakukan training motivasi untuk memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, ada beberapa dokumen yang harus kalian kumpulkan. Fira, tolong kamu catat kedepan"ucap walikelas menyuruh fira
"dan tambahan, berhubung kalian baru pulang dari magang, tolong serahkan laporan dan berkas nilai kepada saya paling lama 1 bulan dari sekarang. mengerti?"
"mengerti bu"ucap mereka serentak dan memulai pembelajaran
"stt.. raaa"ucap ila
"apa?"tanya fira sedikit jengkel karena konsentrasinnya diganggu
"itu.."ucap ila sambil menunjuk - nunjuk gavi
"gue g tau"ucap fira sambil mengangkat kedua bahunya
"apa kabar lo?"tanya seseorang disamping fira, membuat fira untuk beberapa detik berhenti bernafas
"baik, lo?"ucap fira sedikit kaku
"seperti yang lo liat"ucap gavi, ya.. yang memanggilnya adalah gavi
"oh, syukurlah"ucap fira lega
hanya sebatas itu, dan keduannya kembali terdiam. Fira tidak suka suasana seperti ini dan dia lebih memilih untuk keluar dari kelasnya
"gue benci dengan keadaan sekarang"ucapnya lirih
------------
"gue yakin mah"
"lo g minta dijemput gitu sama abang lo atau adik lo"ucap ila lagi
"g, gue pengen sendiri aja sekarang"ucap fira sambil menyuruh ila untuk segera naik ke atas motor dio, karna cowok itu telah menunggunya dari tadi
"yaudah, bye ra, kalau kenapa - kenapa hubungi gue ya? Gue cemas aja ni.."ucap ila lalu meninggalkan fira
"humm, gpp la.."helaan nafas fira
"gini deh kalau ngejomblo, sahabat yang satu udah ilang. Yang satu lagi malah pergi pacaran. beuhhh"ucap fira gemas sendiri dengan keadaannya
"ada es krim, kesana ahh.."ucap fira berlari menuju si penjual es,
tiba - tiba terdengar suara decitan mobil yang berisik dan suara klakson yang tidak berhenti - henti
tin.. tin.. tin...
mobil itu tetap melaju cepat, membuat orang yang mendengarnya terpaku serta was - was, dan tiba - tiba seseorang berteriak kencang, sangat kencang saat itu juga
AWAAASSSS.....!!
dan terjadilah, apa yang seharusnya tidak terjadi, tubuh itu. Saat ini juga tak ada tanda - tanda akan bergerak. Cairan kental merah mulai merembes ke aspal jalanan. Beberapa orang berlarian kearahnya, ada yang kaget, teriak histeris, panik bahkan ada yang menangis. Menangisi seorang perempuan yang tak berdaya lagi, yang sedang terkulai lemas dan tak seorangpun yang berani mengatakan bahwa perempuan itu akan baik -baik saja
"apa harus gue yang telfon ambulans sekarang haaa"teriak laki - laki itu marah
"tolong, tolongin sahabat gue cepat"erangan laki - laki itu lagi, membuat semua orang yang disekitarnya mulai bergerak, ada yang menelfon polisi, ambulans dan sekolah tentunya, karena kejadian ini terjadi tak jauh dari sekolahnya
"bodoh"ucap laki - laki itu sambil mengangkat tubuh seseorang yang sangat ia kenali
"bodoh"ucapnya lagi
__ADS_1
"gue mohon, bertahan, bertahan laa"ucap laki - laki itu lagi sambil menangis dalam diamnya, dan membawa perempuan yang ada dalam dekapannya kedalam mobil ambulans yang telah sampai. Laki - laki itu tak pernah melepaskan genggamannya, dia selalu berdoa untuk keselamatan sahabatnya, sahabat yang sekarang akan benar - benar hilang dari hidupnya.
"gue mohon la, bertahan untuk gue. hiks"ucap gavi menangis, dia benar - benar cengeng sekarang.
setiba dirumah sakit, gavi mengiringi fira sampai ke UGD di terus menggenggam tangan fira dan tak ingin melepaskannya
"tenangkan dirimu nak, teman mu akan selamat, dia baik - baik saja"ucap seorang dokter
"dia bukan teman gue, dia sahabat gue dan dia g baik - baik saja"ucap gavi marah
"maaf, anda harus keluar dulu"ucap salah satu suster tentunya
"gue g bakalan ninggalin dia sendiri lagi, jadi jangan harap kalian bisa bawa gue keluar"bentak gavi marah
"kalau anda ingin teman anda selamat, anda tolong keluar sekarang juga"ucap salah seorang dokter mulai marah, dan gavipun menyerah, diapun melepas genggaman tangannya pada fira dan menunggu diluar
tak lama, gavi luruh kelantai, melihat kedua tangannya dipenuhi darah fira, sahabatnya. Tak terasa matanya mulai menghangat dan gavi menangis keras
"firaaa, hiks..hiks"raungnya keras, dia tak memperdulikan orang disekitarnya yang melihatnya dengan tatapan, entahlah.
derapan langkah kaki memenuhi lorong rumah sakit, gavipun mengangkat kepalanya dan berdiri
"adek gue mana"ucap orang itu dengan nada khawatir dan dengan mata yang merah tentunya.. Sama dengan beberapa orang disampingnya
"dia didalam"ucap gavi lirih kemudian duduk kembali dilantai
"kenapa ini bisa terjadi"tanya pria itu lagi, sedangkan gavi hanya diam dan geleng - geleng kepala
"lo.."geram dion, ya benar saja pemuda yang berbicaa sebelumnya adalah ori, dan beberapa orang disampingnya adalaha kedua orang tua fira
"apa"ucap gavi datar
"lo g denger ha, abang gue nanya apa sama lo ha?"ucap dion marah
"sudah dion, dia sama - sama terpukul seperti kita"ucap asla a.k.a papa fira melerai
"tapi, pa.."ucap dion terhenti
"duduklah, kita berdoa untuk kebaikan fira"ucap papa fira kemudian mengajak mama fira yang sedari tadi menangis tanpa suara didekapannya
oripun mendekati gavi dan duduk disamping laki - laki itu
"sepertinya lo harus bersihin badan"ucap ori sambil memberikan baju kaos miliknya yang memang sengaja dibawa, membuat gavi mengangguk kemudian berdiri dan diikuti oleh ori dibelakang. beberapa menit kemudian ori mengajak gavi keluar untuk menghirup udara segar tentunya dan menenangkan fikiran
"lo gavi?"tanya ori, sedangkan gavi hanya mengangguk lemah
"gue ori, abangnya fira, dan laki - laki yang marahin lo tadi dion, adik kesayangan fira"ucap ori memperjelas dan gavi hanya bisa mengangguk
"apa yang sebenarnya terjadi"ucap ori pelan
"gue g tau jelasnya saat itu gue lagi nyariin fira, tapi g ketemu. Gue cari keluar gue ketemu fira, tapi saat mobil itu menghantam tubuh aflaa, maksud gue fira"ucap gavi terhenti
"lanjut"ucap ori
"segitu berartinya dia buat gue, gue malah ada panggilan khusus buat dia"ucap gavi terkekeh, mungkin bercerita pada seseorang sekarang akan membuatnya lebih rilex
"mobil itu menghantam tubuh fira, tepat didepan mata gue sendiri, dan parahnya mobil itu g berhenti"ucap gavi menahan emosi
"gue langsung pergi ke fira, g ada orang yang nolongin dia, dia udah g bergerak lagi saat itu. Gue marah, gue g bisa jaga dia"ucap gavi dengan lirih, oripun memegang pundak gavi mencoba menenangkannya
"fira kuat, dia bisa jalani ini semua"
"tapi.."ucap gavi
"dia kuat, percaya sama gue"ucap ori pelan, kemudian gavi hanya mengangguk
Tak tau kah gavi, bahwa ori sangat terpukul melebihi dirinya
__ADS_1