
Mama Alaska masuk ke kamar dengan hati yang penuh kekhawatiran. Dia melihat Alaska yang duduk di sudut kamar dengan tatapan yang penuh dengan keteguhan.
"Mama, aku tahu kamu bertanya-tanya mengapa aku kabur dari rumah," ucap Alaska dengan suara yang mantap namun penuh kelembutan. "Aku tidak pernah bermaksud melukai perasaanmu atau keluarga. Aku hanya merasa terjebak dalam kehidupan yang membuatku merasa tidak bahagia dan terkekang."
Mama Alaska mendekati Alaska dengan pandangan yang penuh perhatian. "Nak, apa yang membuatmu merasa seperti itu? Kami ingin kamu bahagia, kami mencintaimu."
Alaska menarik napas dalam-dalam, mencoba mengungkapkan perasaannya dengan jujur. "Mama, aku merindukan kebebasan dan petualangan di luar sana. Aku ingin menjelajahi dunia, menemukan diriku sendiri, dan hidup sesuai dengan keinginanku. Aku merasa bahwa di rumah ini, aku tidak bisa mengejar impian-impianku dengan bebas."
Mama Alaska merenung sejenak, mencoba memahami perasaan yang dirasakan oleh Alaska. "Nak, kita semua memiliki impian dan keinginan, tetapi rumah ini juga adalah tempat di mana kita mencari perlindungan dan dukungan satu sama lain. Apa yang bisa kita lakukan untuk mencari keseimbangan antara kebebasan dan kedamaian di rumah?"
__ADS_1
Alaska menghela nafas lega, merasa dihargai karena mamanya mendengarkan dengan hati yang terbuka. "Mama, aku ingin kita bisa berbicara secara terbuka dan jujur tentang impian-impianku. Aku butuh ruang untuk mengeksplorasi dan mengejar impianku, tetapi juga butuh dukungan dan pemahamanmu sebagai ibu."
Mama Alaska meraih tangan Alaska dengan penuh kasih sayang. "Nak, aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku akan selalu mendukungmu dalam mengejar impianmu. Mari kita mencari cara agar kita semua bisa saling mendukung dan menciptakan suasana di rumah yang memungkinkanmu mengejar kebebasan dan impianmu, tanpa kehilangan ikatan keluarga yang penting."
Alaska tersenyum, merasa lega bahwa mamanya mendengarkan dan memahami apa yang dia rasakan. "Terima kasih, Mama. Aku berharap kita bisa mencapai keseimbangan yang saling menguntungkan antara impian-impianku dan ikatan keluarga. Dengan dukunganmu, aku yakin aku bisa mencapai apa pun yang aku impikan."
Alaska duduk sendirian di kamarnya, terpaku dalam keheningan yang membuatnya merasa kesepian. Pikirannya terus melayang pada perasaan yang mungkin hanya ibunya yang benar-benar memahaminya. Dalam diam, dia merasa bahwa hanya mamanya yang benar-benar peduli dan memahami keinginannya untuk mengejar kebebasan.
"Entah mengapa, rasanya hanya Mama yang benar-benar memahamiku," desis Alaska dengan rasa kelelahan emosional yang mendalam. "Dia adalah satu-satunya orang yang menunjukkan dukungan sejati dan cinta tak terbatas. Dia selalu ada di sampingku, merangkul impian-impianku."
__ADS_1
Alaska memandang jauh, merenungkan momen-momen di mana mamanya memberikan dukungan tanpa syarat. Kenangan-kenangan itu memberinya kekuatan dan harapan.
"Ketika aku merasa terjebak di dalam dinding ini, Mama selalu ada untukku," pikir Alaska. "Dia mendengarkan cerita-ceritaku, menyemangatiku untuk mengejar impian dan menjadi versi terbaik dari diriku sendiri."
Namun, dalam keheningan itu, Alaska juga merasa kehilangan. Ia merindukan hubungan yang mendalam dan dukungan yang sama dari keluarga lainnya. Ia merasa tidak ada yang benar-benar memahami ambisinya dan keinginannya untuk menjelajahi dunia.
"Dalam rumah ini, aku kadang merasa seperti orang asing," ucap Alaska dengan sedih. "Ku harap keluarga lain juga bisa melihat siapa sebenarnya aku dan memberiku dukungan yang ku butuhkan. Aku ingin merasakan kasih sayang dan perhatian dari mereka seperti yang diberikan oleh Mama."
Alaska berharap suatu hari nanti dapat menemukan kebersamaan dan pemahaman dari keluarga lainnya, agar merasa sepenuhnya diterima dan didukung. Sementara itu, dia akan menjaga ikatan yang kuat dengan mamanya, menghargai cinta dan kepedulian yang tak tergantikan yang telah diberikan oleh sosok ibu yang sangat ia cintai.
__ADS_1