
Sea duduk di dalam mobil bersama Alaska, suasana tegang terasa di udara. Dia merasa takut untuk mengungkapkan apa yang baru saja dia dengar, tapi dia tahu dia harus memberitahu Alaska.
"Alaska, aku perlu bicara denganmu tentang sesuatu," ucap Sea dengan suara gemetar.
Alaska memandang Sea dengan perhatian penuh. "Apa yang terjadi, Sea? Apakah semuanya baik-baik saja?"
Sea menghela nafas, mencoba mengumpulkan keberanian. "Audi dan keluarga baruku melarangku untuk berhubungan denganmu, Alaska. Mereka tidak mengizinkan aku dekat denganmu lagi."
Alaska menatap Sea dengan campuran perasaan marah dan kekecewaan yang jelas terpancar di matanya. "Apa maksud mereka melarangmu? Aku tidak bisa percaya hal ini!"
Sea merasakan kekuatan dalam keberanian yang ia temukan dan melanjutkan, "Mereka bilang bahwa kamu bukanlah pria yang baik dan aku harus menjauh darimu."
__ADS_1
Alaska menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang memuncak. "Mereka tidak mengenaliku, Sea. Aku tahu betapa pentingnya kita satu sama lain. Tidak ada yang boleh menghalangi kita untuk bersama."
Sea merasa lega mendengar dukungan dari Alaska. Dia menyadari bahwa Alaska tidak akan membiarkan keputusan orang lain menghancurkan hubungan mereka. "Aku takut, Alaska. Takut kehilanganmu lagi."
Alaska meraih tangan Sea dengan penuh kelembutan. "Aku di sini, Sea, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan melewati rintangan ini bersama-sama. Aku akan membuktikan kepada mereka bahwa mereka salah tentangku."
Sea tersenyum, merasakan kenyamanan dan kepercayaan dalam kata-kata Alaska. "Terima kasih, Alaska. Aku tahu kita bisa menghadapinya bersama-sama."
Mereka saling berpegangan tangan erat, meyakinkan satu sama lain bahwa cinta dan kepercayaan mereka tidak akan tergoyahkan oleh pendapat orang lain. Mereka siap menghadapi tantangan ini bersama-sama, bersikap teguh dalam keyakinan bahwa tak ada yang bisa memisahkan mereka.
"Alaska, aku merasa semakin sulit bagiku untuk mempercayai keluarga baruku," ucap Sea dengan nada sedih.
__ADS_1
Alaska memandang Sea dengan penuh perhatian. "Apa yang terjadi, Sea? Apakah mereka telah melakukan sesuatu yang membuatmu meragukan mereka?"
Sea menggelengkan kepala perlahan. "Bukan hanya satu hal, Alaska. Ada begitu banyak kejadian yang membuatku merasa tidak nyaman. Mereka sering kali berbohong dan menjaga rahasia dari aku. Aku tidak lagi yakin apakah mereka peduli padaku atau hanya menginginkan kuasa dan pengaruh."
Alaska merangkul Sea dengan lembut. "Aku mengerti betapa sulitnya, Sea. Tapi ingatlah, keluarga bukanlah hanya tentang darah, tetapi juga tentang kepercayaan, cinta, dan dukungan. Jika mereka tidak memenuhi hal-hal tersebut, mungkin waktu telah tiba untukmu menemukan keluarga yang sesungguhnya."
Sea menatap Alaska dengan penuh harap. "Apakah kamu akan menjadi keluargaku, Alaska? Aku tidak tahan lagi dengan semua kepalsuan dan ketidakjujuran di sekitarku."
Alaska tersenyum lembut. "Tentu saja, Sea. Aku akan menjadi keluargamu. Kita bisa membangun hubungan yang tulus, tanpa ketidakjujuran dan kepalsuan. Bersama-sama, kita bisa menciptakan keluarga yang nyata dan saling mendukung."
Air mata bahagia pun mengalir di pipi Sea. Dia merasakan rasa lega dan kebahagiaan yang tak terkira, mengetahui bahwa dia tidak lagi sendirian dalam perjuangannya. Dia telah menemukan seseorang yang mengerti dan siap untuk membangun hubungan yang jujur dan tulus.
__ADS_1
"Terima kasih, Alaska," gumam Sea dengan suara lembut. "Aku bersyukur memilikimu dalam hidupku. Bersamamu, aku tahu bahwa aku tidak perlu merasa sendirian lagi."
Alaska memeluk Sea erat-erat, merasakan ikatan yang semakin kuat di antara mereka. Mereka bersumpah untuk saling mendukung dan menciptakan keluarga baru yang penuh cinta dan kepercayaan. Bersama-sama, mereka siap menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan dan kebahagiaan yang baru ditemukan.