
Andre duduk tegak di ruang tamu, menatap tatapan tajam dari ayahnya yang tampak kecewa. Udara di ruangan terasa tegang saat mereka berdua akhirnya memulai percakapan yang sulit ini.
"Ayah, ada sesuatu yang harus saya katakan padamu," ujar Andre dengan suara ragu.
Ayahnya mengangkat alis, memberikan isyarat agar Andre melanjutkan.
"Ande, apa yang kamu sembunyikan dariku? Aku melihatmu terus-terusan cemas belakangan ini. Ada masalah yang harus kamu ceritakan padaku?" tanya sang ayah dengan penuh kekhawatiran.
Andre menggigit bibirnya sejenak, merenungkan kata-kata yang akan dia sampaikan. "Alaska... Dia kabur, Ayah. Dia meninggalkan rumah tanpa jejak. Saya sudah mencoba menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Aku benar-benar khawatir."
__ADS_1
Wajah sang ayah berubah menjadi penuh kecemasan. "Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku sejak awal? Mengapa kamu menyembunyikan ini dariku?"
Andre menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri, Ayah. Aku pikir aku bisa menemukannya dan membawa dia pulang dengan selamat. Aku tidak ingin membebanimu dengan kekhawatiran tambahan."
Ayahnya melepaskan nafas berat. "Ande, sebagai kakaknya, kamu bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kebahagiaannya. Aku paham bahwa kamu ingin melindunginya, tapi kamu juga harus mengerti bahwa keluarga kita harus saling mendukung dan bekerja sama dalam situasi seperti ini. Kita harus mencari Alaska bersama-sama."
Andre mengangguk dengan penyesalan di wajahnya. "Kamu benar, Ayah. Aku tidak boleh memikul beban ini sendirian. Ayo kita cari Alaska dan bawa dia pulang."
Percakapan mereka menjadi titik awal kolaborasi antara Andre dan ayahnya dalam mencari Alaska. Mereka berdua menyadari bahwa hanya dengan bekerja bersama, mereka memiliki harapan untuk menemukan dan membawa pulang sang adik dengan selamat.
__ADS_1
Andre dan papanya duduk di ruang keluarga, melihat foto-foto kenangan Alaska yang tersusun rapi di meja. Setelah diskusi yang panjang, mereka akhirnya mencapai kesepakatan yang penting untuk kebahagiaan Alaska.
"Ayah, aku berpikir mungkin kita perlu memberi Alaska kesempatan untuk bersenang-senang sejenak sebelum kita membawanya kembali ke rumah," ucap Andre dengan suara penuh pertimbangan.
Papanya mengangguk, memahami pikiran anaknya. "Ande, itu adalah keputusan yang bijaksana. Alaska telah menghadapi banyak tekanan dan kecemasan belakangan ini. Memberinya waktu untuk bersantai dan menikmati waktu luang mungkin akan membantunya mengatasi semua itu."
Andre menghela nafas lega. "Aku tahu dia akan merasa lebih baik jika dia tahu bahwa kami memahami kebutuhannya. Aku ingin dia merasakan kebebasan dan kebahagiaan sebelum kembali ke realitas yang sulit."
Papanya meletakkan tangannya di atas bahu Andre dengan penuh kebanggaan. "Kamu adalah seorang kakak yang luar biasa, Ande. Kita akan memberikan waktu dan ruang yang dia butuhkan, tapi tetap menjaga komunikasi dengan dia agar dia tahu bahwa kita selalu ada untuknya."
__ADS_1
Andre tersenyum, merasa lega mendapat dukungan dari papanya. "Kami akan mengiriminya pesan bahwa dia bisa menghubungi kita kapan pun dia siap untuk pulang. Dan saat dia siap, kita akan ada di sana untuk mendukungnya dan membawa dia kembali ke rumah."
Keputusan mereka untuk memberikan Alaska kesempatan untuk bersenang-senang sebelum pulang menjadi langkah bijaksana. Mereka menyadari bahwa memberikan ruang bagi Alaska untuk menyembuhkan diri dan menikmati hidupnya adalah bagian penting dalam proses pemulihan yang dia butuhkan.