
Alaska sedang duduk di samping Sea, ketika tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Dia mengangkat telepon dan melihat nama ibunya terpampang di layar. Dengan hati yang berdebar, Alaska menjawab panggilan itu.
"Halo, Mama," sapanya dengan suara gemetar.
Di sisi telepon, ibunya terdengar cemas. "Alaska, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu. Papa dan aku telah mendapat kabar yang mengejutkan."
Alaska menggenggam telepon erat-erat, mengharapkan yang terbaik tetapi juga merasa khawatir. "Ada apa, Mama? Apa yang terjadi?"
Ibunya berbicara dengan suara serius. "Kelihatannya Sea memiliki hubungan dengan keluarga yang dulunya adalah musuh keluarga kita. Ini adalah fakta yang sulit untuk diterima, tetapi papa dan aku merasa perlu melindungi kamu dari segala kemungkinan konflik dan bahaya yang mungkin terjadi."
Alaska merasakan detak jantungnya mempercepat. Dia mencoba mengumpulkan pikirannya. "Mama, aku mengerti kekhawatiran kamu. Tetapi, aku tidak bisa memisahkan diri dari Sea. Dia adalah seseorang yang sangat penting bagi hidupku. Apa pun yang terjadi di masa lalu, itu tidak mengubah perasaanku."
__ADS_1
Ibunya terdengar putus asa. "Alaska, kamu harus memahami bahwa keputusan ini bukanlah hal yang mudah bagiku dan papa. Kami hanya ingin melindungimu dan memastikan keselamatanmu. Tolong pahami posisi kami."
Alaska merasa hatinya hancur. Dia mencoba menahan air matanya. "Mama, aku memahami kekhawatiran kamu. Tapi, Sea adalah orang yang aku cintai dan percayai. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku akan berjuang untuk hubungan kami dan mencari cara agar semuanya bisa berjalan baik."
Ibunya terdengar sedih. "Alaska, aku berharap kamu memikirkannya lagi dengan bijaksana. Kami hanya ingin yang terbaik untukmu."
Alaska menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. "Terima kasih, Mama. Aku tahu kamu hanya mencintai dan peduli padaku. Aku akan berbicara dengan papa tentang ini dan mencoba menemukan jalan keluar yang terbaik. Aku berharap kamu bisa mendukung keputusanku."
Ibunya mengucapkan dengan suara lembut, "Tentu, Nak. Kami akan selalu mendukungmu. Harapkanlah yang terbaik dalam keputusanmu."
Setelah Alaska menutup telepon, Sea tetap diam membiarkan kata-kata yang terdengar tadi meresap dalam hatinya. Air mata mulai mengalir di pipinya saat dia merasakan keputusan yang sulit harus dihadapi. Dengan hati yang hancur, Sea perlahan berdiri dari tempat duduknya dan pergi masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Alaska yang melihat Sea pergi dengan hati terenyuh dan penuh penyesalan, berjalan perlahan ke pintu kamarnya. Dia mengetuk pintu dengan lembut, khawatir melihat Sea sedih seperti itu. "Sea, bisakah aku masuk? Aku ingin berbicara denganmu."
Terdengar suara tersedu-sedu dari balik pintu, Sea menjawab, "Tidak sekarang, Alaska. Aku butuh waktu sendiri."
Alaska merasa kesedihan memenuhi dadanya saat mendengar tangisan Sea. Dia duduk di lantai di depan pintu kamarnya, menyesali konsekuensi yang tak terduga dari percakapan tadi. "Sea, aku benar-benar menyesal. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan segalanya."
Sea tak menjawab. Suara isak tangisnya semakin terdengar jelas, memperkuat keputusannya untuk menarik diri sejenak. Alaska merasa putus asa, namun dia tahu bahwa dia harus memberikan waktu kepada Sea untuk memproses semua perasaannya.
"Dengarkan, Sea. Aku tahu ini sulit bagimu. Aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu. Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi kita harus menghadapi masalah ini bersama-sama. Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan segala sesuatu dengan lebih jelas."
Hanya suara hening yang terdengar dari balik pintu, dan Alaska tahu bahwa Sea masih terluka. Dia memutuskan untuk memberikan ruang dan waktu yang diperlukan kepada Sea, meskipun hatinya hancur melihat Sea sedih seperti ini.
__ADS_1
"Sea, aku akan menunggu di sini. Aku tidak akan pergi. Jika kamu siap untuk berbicara, aku akan ada di sini untukmu," ucap Alaska dengan suara lembut dan penuh kasih sayang.
Setelah itu, Alaska duduk di depan pintu kamarnya, membiarkan waktu berlalu. Dia tidak bisa menghilangkan rasa cemas dan kekhawatirannya, tetapi dia berharap dengan segenap hatinya bahwa Sea akan mendapatkan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi situasi ini. Alaska bersumpah untuk tetap setia menemani Sea dalam setiap langkah yang akan mereka ambil, dan berharap agar cinta mereka mampu mengatasi segala rintangan yang datang di hadapan mereka.