
Alaska terbaring lemah di tempat tidur, tubuhnya terbungkus selimut, dan wajahnya dipenuhi dengan tanda-tanda kelelahan. Dia merasakan nyeri yang menjalar di setiap serat tubuhnya, menghambat setiap gerakan yang ia coba lakukan. Sakit yang melanda membuatnya merasa terisolasi dan rapuh.
Setiap napas yang dia hirup terasa berat, dan demam yang tinggi menyelimutinya dengan kepanasan yang tidak tertahankan. Matanya yang lelah mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit kamar, sementara keletihan yang melanda mengancam untuk memaksa dirinya terlelap dalam keadaan yang rapuh.
Meskipun dihimpit oleh rasa sakit, Alaska mencoba memanggil bantuan dalam bisikan yang lemah. Dia berharap ada seseorang yang mendengar seruannya, seseorang yang akan memberinya kenyamanan dan perhatian yang ia butuhkan saat ini. Dalam keheningan yang menyelimutinya, dia merasa terpaku dalam kebingungan dan kesendirian.
Sakit yang ia rasakan adalah pengingat yang tak terbantahkan akan keterbatasan dan kerapuhan tubuhnya. Di tengah rasa sakit yang menjalar, Alaska berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berjuang melawan penyakit ini, mencari cara untuk pemulihan yang lebih baik. Meskipun langkahnya mungkin tergagap dan tak pasti, dia menolak untuk menyerah pada rasa sakit dan kelemahan yang mengikutinya.
Alaska tahu bahwa proses penyembuhan akan membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dia berharap, dengan kekuatan yang tersisa dalam dirinya, dia akan mampu mengatasi rintangan ini dan kembali bangkit dengan semangat yang baru.
__ADS_1
Alaska terbaring lemah di tempat tidurnya, tubuhnya terbungkus kedinginan dan berkeringat. Demamnya semakin tinggi, tetapi ketakutannya akan pemeriksaan medis membuatnya menolak segala tindakan medis yang mungkin dilakukan.
Abang," panggil Alaska dengan suara yang parau. "Aku tidak ingin pergi ke dokter. Aku tidak ingin tahu apa yang terjadi padaku."
Andre mendekat dengan perasaan cemas yang jelas terpancar dari matanya. Dia duduk di tepi tempat tidur Alaska, menempatkan tangannya di atas kening adiknya yang terasa panas.
Alaska menatap Andre dengan tatapan yang lemah, tetapi masih penuh kegigihan. "Tolong, Abang. Aku merasa kuatir dengan apa yang mungkin mereka temukan. Aku takut akan konsekuensi yang tak terduga."
Andre meletakkan tangannya di atas tangan Alaska, memberikan dukungan yang lembut. "Kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini, Alaska. Aku di sini untukmu, dan bersama-sama kita akan menghadapi apapun yang terjadi. Kesehatanmu adalah prioritas utama."
__ADS_1
Alaska merasakan kehangatan dan keberanian dari kata-kata Andre. Meskipun ketakutannya masih ada, dia tahu dia tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini.
"Dalam hal apapun yang terjadi, aku berjanji akan ada di sampingmu, Alaska," lanjut Andre dengan tekad yang kuat. "Kita akan melalui ini bersama-sama. Percayalah padaku."
Alaska menggenggam tangan Andre dengan lemah, merasakan kekuatan dan keyakinan yang datang darinya. Dia tahu dia harus mengatasi ketakutannya dan menerima bantuan medis yang diperlukan untuk pemulihan yang lebih baik.
Andre tersenyum dengan penuh kasih, memeluk Alaska dengan lembut. "Tentu, adikku. Aku akan selalu ada di sampingmu, sebagai 'Abang' yang melindungimu. Kita akan menghadapinya bersama-sama, satu langkah pada satu waktu."
Alaska merasakan kekuatan dan kepercayaan yang datang dari hubungan mereka. Dalam dekapan hangat Andre, dia merasa sedikit lega dan siap menghadapi pemeriksaan medis yang akan datang. Dalam situasi ini, mereka akan saling mendukung dan melindungi satu sama lain, bersama-sama menghadapi tantangan dan mencari pemulihan yang lebih baik.
__ADS_1