
Alaska sedang duduk di ruang tamu apartemennya ketika tiba-tiba saja telepon genggamnya bergetar dengan keras. Dia mengambilnya dan melihat pesan dari temannya yang berisi tautan berita terkait dengannya. Dengan hati yang berdebar, Alaska mengklik tautan tersebut dan membaca berita yang tak terduga.
Di layar ponselnya, muncul gambar dirinya yang terlihat sedang keluar dari mobil dengan seorang wanita di sisinya. Judul berita itu membingkai kejadian tersebut sebagai skandal, menggambarkan mereka berdua sebagai pasangan yang tidak seharusnya bersama. Berita buruk lainnya mengikuti, mengaitkan Alaska dengan situasi yang seolah-olah merusak reputasinya.
Alaska merasakan pusing dan kehilangan nafas saat berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Hatinya terpukul dan dia merasa seperti dunia di sekitarnya runtuh. Keadaan ini jauh dari gambaran yang dia impikan.
Dengan gemetar, Alaska menghubungi teman-temannya untuk mencari tahu lebih banyak tentang berita tersebut. Beberapa dari mereka mengirimkan dukungan dan meyakinkannya bahwa mereka tetap berada di sisinya, sementara yang lain memberikan informasi tambahan tentang bagaimana berita tersebut menyebar dengan cepat di media sosial.
__ADS_1
Saat mencoba memproses semua ini, Alaska menyadari betapa pentingnya menghadapi situasi ini dengan kepala dingin. Dia harus mengklarifikasi kebenaran, menjelaskan konteks sebenarnya, dan membuktikan bahwa berita tersebut tidak sepenuhnya benar.
Namun, di tengah keadaan kacau ini, Alaska tidak bisa menghindari perasaan cemas tentang dampaknya pada hubungan mereka dengan Sea. Dia tahu bahwa berita ini mungkin menimbulkan keraguan dan kekhawatiran dalam benak Sea. Alaska merasa takut kehilangan Sea, seseorang yang sangat berarti baginya.
Dalam kebingungan dan keputusasaannya, Alaska memutuskan untuk menghubungi Sea segera. Dia ingin memberikan penjelasan, meminta Sea untuk mendengarkan langsung dari mulutnya, dan berharap bahwa Sea akan memberinya kesempatan untuk membuktikan kebenaran.
Dengan tangan yang gemetar, Alaska mengetik pesan singkat kepada Sea, berharap agar Sea mau mendengarkannya. Setelah mengirim pesan tersebut, Alaska duduk tegak di atas sofa, menunggu dengan hati yang berdebar, berharap bahwa Sea akan merespons dan memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Sea dan Audi sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, menikmati waktu bersama. Tiba-tiba, ketika mereka sedang berbicara tentang hal-hal sepele, suara telepon genggam Sea berdering. Sea mengeluarkannya dari tasnya dan melihat pesan dari seorang teman yang memberi tahu tentang kabar yang tidak menyenangkan tentang Alaska.
Sea merasa dadanya terasa sesak saat membaca pesan tersebut. Dia merasa seperti dunia di sekitarnya tiba-tiba menjadi gelap dan hampa. Tangannya gemetar dan dia terdiam sejenak, mencoba memproses informasi yang baru saja dia terima. Keheningan itu terasa berat, dan dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Audi.
Melihat perubahan ekspresi Sea, Audi langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan perhatian dan kepedulian, Audi bertanya, "Ada apa, Sea? Apa yang terjadi?"
Sea menghela nafas dalam-dalam dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang baru saja dia dengar. Dalam ketidakpastian dan kebingungan, Sea menjelaskan tentang kabar yang dia terima mengenai Alaska. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa berat, tetapi dia ingin berbagi beban ini dengan Audi.
__ADS_1
Audi mendengarkan dengan penuh perhatian dan menggenggam tangan Sea erat-erat. Dia bisa merasakan kecemasan dan kebingungan yang dirasakan Sea. "Sea, aku di sini untukmu. Kita akan menghadapinya bersama," kata Audi dengan lembut.
Sea merasa lega mendapat dukungan dan pemahaman dari Audi. Meskipun hatinya terluka oleh kabar yang tidak menyenangkan itu, Sea tahu bahwa dia tidak sendirian. Dalam keheningan yang penuh makna, Sea dan Audi saling berpegangan tangan, siap menghadapi perjalanan yang belum jelas dan menemukan jalan keluar bersama.