
Audi kembali datang ke apartemen dengan tatapan serius di matanya. Sea yang terkejut melihat kedatangan Audi begitu mendadak, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Audi menatap Sea dengan tulus, mencoba mengungkapkan perasaannya.
"Sea, aku datang untuk mengajakmu kembali bersama saya. Aku mengerti bahwa kamu takut bertemu dengan keluargamu yang lain, tetapi percayalah, mereka sangat ingin bertemu denganmu. Mereka telah mencarimu selama bertahun-tahun, dan saat ini mereka tidak sabar lagi untuk menjumpaimu."
Sea merasa jantungnya berdegup kencang, mencampur rasa penasaran dan takut. Setelah beberapa saat berpikir, dia menyadari bahwa ini adalah kesempatan langka untuk mengenal keluarganya dan memperdalam hubungan keluarga yang sejati.
"Audi, aku takut, tapi aku juga merasa bahwa ini adalah kesempatan besar bagi kita. Aku ingin tahu lebih banyak tentang keluargaku dan mengenal mereka. Aku yakin ini akan menjadi pengalaman yang berharga dan memperluas wawasanku tentang diriku sendiri."
__ADS_1
Audi tersenyum lega mendengar kata-kata Sea. Dia mengulurkan tangannya kepada Sea dengan penuh kehangatan. "Aku sangat bangga padamu, Sea. Ayo, kita akan menghadapinya bersama-sama. Keluargamu sudah menunggumu dengan antusias, dan mereka ingin memulai kembali hubungan yang telah terputus begitu lama."
Dengan perasaan campuran antara keberanian dan keraguan, Sea akhirnya menggenggam tangan Audi dan bersiap untuk perjalanan baru yang akan membawanya kepada keluarganya yang lama hilang. Dia tahu bahwa langkah ini akan menjadi tantangan, tetapi juga sebuah peluang untuk menyatukan kembali benang merah keluarga yang telah terputus begitu lama.
Dengan harapan di hati, Sea melangkah ke dalam perjalanan yang tak terduga ini, siap menghadapi semua yang ada di depannya. Dia tahu bahwa dengan bimbingan dan dukungan Audi, dia akan menemukan kekuatan dan keberanian yang diperlukan untuk menghadapi masa depan yang baru dan menggenggam erat ikatan keluarga yang telah lama ditunggu-tunggu.
Alaska memasuki apartemen dengan hati penuh kegembiraan, membawa berbagai makanan yang dia beli dengan penuh perhatian untuk Sea. Namun, ketika dia melangkah ke ruang tamu, dia dengan terkejut melihat bahwa Sea tidak ada di sana. Perasaan kekhawatiran langsung memenuhi pikiran Alaska, dan dia mulai memanggil nama Sea dengan penuh kegelisahan.
__ADS_1
"Sea? Sea, kamu di mana?" serunya dengan suara gemetar. Namun, hanya hening yang menyambut panggilannya. Alaska berjalan melalui setiap ruangan apartemen, mencari-cari tanda-tanda keberadaan Sea, tetapi semuanya tampak sepi dan kosong.
Hatinya dipenuhi kecemasan dan ketidakpastian. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri, berpikir bahwa mungkin Sea hanya pergi sebentar atau mungkin ada suatu kejadian tak terduga yang membuatnya harus pergi. Namun, kekhawatiran itu tidak bisa dia bendung, dan dia merasa semakin gelisah dengan setiap detik yang berlalu.
Alaska mengambil ponselnya dan dengan gemetar mengirim pesan kepada Sea, mencoba mencari tahu keberadaannya. "Sea, di mana kamu? Aku di apartemen, membawa makanan untukmu. Tolong beri tahu aku apa yang terjadi dan di mana kamu berada. Aku khawatir."
Dalam keheningan yang hampa, Alaska duduk di sofa, menunggu balasan dari Sea. Pikirannya terus menerka-nerka kemungkinan apa yang bisa terjadi dan di mana Sea mungkin berada. Hatinya dipenuhi kegelisahan dan ketidakpastian. Dia hanya berharap bahwa Sea baik-baik saja dan mereka bisa segera bertemu kembali.
__ADS_1
Dalam kesendirian yang menakutkan, Alaska memandang ke luar jendela, berharap agar Sea segera muncul di hadapannya, membawa kelegaan dan ketenangan. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan segala yang mungkin untuk menemukan Sea dan membawa dia kembali ke dalam pelukan hangat mereka.