Persembunyian Tuan Muda Pewaris Tahta

Persembunyian Tuan Muda Pewaris Tahta
Hanya alibi saja?


__ADS_3

Alaska merasakan kegelisahan yang tak tertahankan saat ia berusaha mencari cara untuk kabur dari rumah yang terasa semakin terkekang. Dengan hati yang berdebar kencang, dia merencanakan strategi untuk mengelabui pengawal yang selalu waspada.


Mendekati saat yang tepat, Alaska memilih momen ketika pengawalnya sedang sibuk dengan tugas mereka. Dengan hati-hati, dia melangkah menuju pintu belakang, berharap dapat menyelinap keluar tanpa terlihat. Namun, tiba-tiba ia mendengar langkah-langkah berat yang mendekat dari belakang.


Tanpa banyak waktu untuk berpikir, Alaska segera bersembunyi di balik pintu terbuka yang mengarah ke ruang dapur. Ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, berusaha menahan napas agar tidak terdengar.


"Saya yakin saya mendengar sesuatu di sini," suara pengawal terdengar samar di koridor.


Alaska merasa detak jantungnya semakin cepat. Dia merenung dalam kegelapan dan mencoba menenangkan diri. Saat pengawal semakin mendekat, ia mengatur nafasnya dan berpikir cepat. Dia perlu membuat pengawal percaya bahwa tidak ada yang mencurigakan di area tersebut.


Muncul dari balik pintu, Alaska berjalan dengan langkah pasti menuju pengawal yang berdiri tegak di koridor. Ia menampilkan senyuman lembut yang mencoba menutupi rasa gugup di dalam dirinya.


"Hai, maaf mengagetkanmu," ucap Alaska dengan suara lembut. "Aku hanya sedang mencari sesuatu di dapur, tidak bermaksud mengganggu."


Pengawal mengerutkan kening, sedikit curiga dengan kehadiran Alaska di sana. Namun, Alaska terus tersenyum dengan penuh ketulusan.


"Aku hanya ingin mengambil minuman untukku sendiri, tanpa mengganggu siapa pun," tambah Alaska, berusaha menjelaskan dengan tenang. "Tolong jangan khawatir, aku tidak akan membuat masalah. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk merenung."

__ADS_1


Pengawal melihat Alaska dengan skeptis, tetapi melihat kepolosan di matanya, dia memutuskan untuk memberinya sedikit kepercayaan. "Baiklah, hanya beberapa menit. Tapi cepatlah kembali ke kamarmu."


Alaska mengangguk dengan penuh rasa terima kasih dan berjalan perlahan ke arah dapur, tetapi begitu dia melewati pengawal, Alaska melangkah dengan hati-hati menuju pintu belakang. Dia menyelinap keluar, menyusuri kegelapan dengan harapan yang membara dalam dirinya.


Dalam perjalanannya untuk mencapai kebebasan yang ia impikan, Alaska bersumpah untuk tetap waspada dan cerdik. Dia merencanakan setiap langkah dengan cermat, tahu bahwa rintangan masih menantinya di luar sana. Namun, dengan tekad yang kuat dan keyakinan yang tak tergoyahkan,


dia yakin akan mencapai tujuannya.


Alaska menghirup udara malam dengan lega, merasa semangat dan bersemangat. Perjalanan menuju kebebasan telah dimulai, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak ada yang akan menghalanginya dalam pencarian kehidupan yang sesuai dengan keinginannya.


Alaska mengendap-endap menuju pintu belakang, langkahnya penuh dengan harapan akan kebebasan yang ada di depan sana. Namun, tepat saat ia hampir mencapai pintu, suara marah Andre memecah keheningan malam.


Alaska terkejut dan terpaku di tempat, matanya memandang ke arah Andre yang berdiri di depannya dengan ekspresi yang penuh amarah.


"Abang, maafkan aku," ucap Alaska dengan suara yang gemetar. "Aku hanya ingin mencari kebebasan, aku merasa terkekang di sini."


Andre menggelengkan kepalanya dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan. "Bagaimana kamu bisa melakukan ini? Kami adalah keluarga, kita harus saling mendukung dan menjaga satu sama lain. Tidak ada alasan untuk kabur dan mengkhianati kepercayaan kita."

__ADS_1


Alaska merasa nyalinya hancur mendengar kata-kata Andre. Dia merasa bersalah karena telah mengecewakan saudara laki-lakinya yang ia cintai. Tangisnya hampir tidak terbendung, tetapi ia berusaha tetap tegar.


"Abang, aku tidak bermaksud menyakitimu," kata Alaska dengan suara yang terputus-putus. "Aku hanya ingin menemukan diriku sendiri, menjalani hidup sesuai dengan impianku. Tolong pahami aku."


Namun, Andre tetap marah dan kecewa. "Apa yang kamu pikirkan? Kamu berpikir hidupmu di luar sana akan lebih baik? Kamu meremehkan semua yang kami berikan kepadamu, semua yang kami coba bangun sebagai keluarga."


Alaska menangis dengan penuh penyesalan, dia merasa sepenuhnya terjepit di antara impian dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari keluarga mereka.


"Abang, aku minta maaf," ucap Alaska dengan suara yang penuh dengan penyesalan. "Aku tidak ingin kehilanganmu atau keluarga kita. Aku hanya ingin menemukan tempatku di dunia ini, tapi aku tidak ingin mengorbankan hubungan kita."


Andre memandang Alaska dengan pandangan yang masih penuh kemarahan, tetapi juga terlihat keraguan di matanya. "Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu saat ini. Kamu telah melukai hatiku, Alaska."


Alaska merasa seakan dunia di sekitarnya runtuh. Dia tidak pernah bermaksud menyakiti Andre atau keluarganya. Hanya saja, keinginan untuk mengejar kebebasan telah membawanya ke persimpangan yang sulit.


"Mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pinta Alaska dengan suara lirih. "Aku akan berusaha menjadi yang terbaik, aku tidak ingin kehilanganmu atau cinta keluarga kita. Tolong, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya."


Andre memandang Alaska dengan rasa ragu yang masih tampak dalam matanya. Dia menghela nafas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya mengeluarkan kata-kata berat.

__ADS_1


"Kamu telah menyakiti hatiku, Alaska. Tapi aku akan memberimu kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Tapi kamu harus membuktikan niatmu dan menghormati keputusan keluarga ini. Jika tidak, hubungan kita akan terus terluka."


Alaska merasa harapannya kembali muncul di tengah kegelapan yang menyelimutinya. Dia tahu bahwa perjalanan menuju rekonsiliasi tidak akan mudah, tetapi dia siap melakukannya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melakukan segala yang dia bisa untuk membuktikan bahwa dia bisa menjaga hubungan keluarganya tetap utuh, sambil tetap mengejar impian-impiannya dengan cara yang lebih bijaksana dan saling mendukung.


__ADS_2